Mereka yang bergantung pada matahari

Majalah Intisari - Edisi 657
6 Juni 2017

Majalah Intisari - Edisi 657

Sel surya di Pulau Putri Barat, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta ini tidak terpakai karena instalasinya masih belum sempurna dan tampaknya belum ada upaya memperbaiki. Listrik justru disuplai dari jenset. / Foto : Titik Kartitiani

Intisari
Ketika mengunjungi pulaupulau kecil dan terluar Indonesia wilayah kerja Direktorat Pendayagunaan Pulau- Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kerap kali kita merasa sedang berada di luar NKRI. Hanya suar dan bendera merah putih yang kerap kali berkibar sebagai tanda bahwa wilayah itu masih dalam rengkuhan NKRI.

Suar yang berkelip-kelip tak henti, sendirian, berjasa sebagai tanda kapal dan perahu yang melintas agar tidak menabrak pulau. Kebanyakan lampu mercu suar itu dinyalakan dengan energi sel surya yang dipasang di atas menara. Sementara rumah penjaga sendiri terkadang juga mengandalkan sel surya maupun mesin diesel. Kisah penggunaan sel surya ini bisa kita temui di banyak pulau di Indonesia.

Pulau itu seolah mengapung di laut lepas. Dari jauh terlihat jajaran rumah panggung yang menempel di pinggiran pulau kecil yang bisa kita capai sekitar 2 jam perjalanan dengan speedboat dari gemerlap kota Bontang, Kalimantan Timur. Tihik Tihik, demikian papan nama yang tertulis di dermaga sebagai ucapan selamat datang. Pulau yang diberi nama dari nama hewan (bulu babi) dalam Bahasa Mamuju begitu bersahaja.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI