Beragam jurus dan gaya Arjuna dari istana

Majalah Intisari - Edisi 659
18 Agustus 2017

Majalah Intisari - Edisi 659

Cantik, itu pasti. Walau cantik saja, rupanya tidak cukup. Pastilah ada berbagai keistimewaan hingga seorang perempuan bisa dipuja oleh pria yang begitu spesial, seperti Sukarno. / Foto : Dokumentasi

Intisari
Memang tidak ada yang pernah memastikan, seperti apa kriteria perempuan yang bisa memikat hati Sukarno. Namun jika kita mencoba menarik benang merahnya, bolehlah kita berkesimpulan, Sukarno adalah pengagum kecantikan alami. Sebuah kecantikan dari dalam yang memancarkan keanggunan tanpa banyak polesan.

Sukarno sendiri sebagai sang Arjuna dalam lakon percintaan ini juga tidak pernah secara gamblang mengungkap tentang tipe perempuan idealnya. Tercatat, ia hanya pernah sekali mengutarakannya kepada Fatimah (kemudian menjadi Fatmawati) tatkala gadis Bengkulu itu masih begitu lugu.

Seperti ditulis dalam An Autobiography as Told to Cindy Adams, saat belum menikah, keduanya pernah plesir di tepi pantai. Saat itulah Fatmawati melontarkan pertanyaan tentang jenis perempuan yang dikagumi Sukarno, ayah angkat dari sahabatnya ketika itu. Sukarno terkejut, itu pasti.

Namun sebagai pria yang sudah makan asam garam dalam menghadapi perempuan, situasi itu justru digunakannya untuk melancarkan “serangan baliknya” ke jantung lawan. “Aku memandang kepada gadis desa ini yang berpakaian baju kurung merah dan berkerudung kuning diselubungkan dengan sopan.

Kukatakan padanya aku menyukai perempuan dengan keasliannya. Bukan wanita modern yang pakai rok pendek, baju ketat, gincu bibir yang menyilaukan,” kata Soekarno. Awalnya Fatmawati yang polos tidak sadar, ungkapan itu sesungguhnya menyasar ke dirinya. Katakata Sukarno terkesan jujur dan tulus, sehingga ia jadi terkesima. Berawal dari simpati, perlahanlahan jatuh hati.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI