Misteri ganja untuk pengobatan

Majalah Intisari - Edisi 660
12 September 2017

Majalah Intisari - Edisi 660

Suster Kate sebenarnya bukanlah biarawati gereja. Dia hanya gemar berpenampilan ala suster. Maklum, wanita bernama Christine Meeusen ini pernah sekolah biarawati meski tak selesai. / Foto : yettio.com

Intisari
Sebenarnya tidak ada hal yang baru tentang ganja. Penggunaan Cannabis sativa dipercaya setua umur peradaban manusia. Di Siberia, biji ganja gosong ditemukan di makam bertarikh 3.000 SM. Para tabib di Tiongkok kuno juga diyakini memanfaatkan ganja untuk pengobatan. Akan tetapi, dalam 100 tahun terakhir ini ganja seolah bersembunyi. Penelitian dan riset medis terhadapnya dihentikan di Amerika Serikat.

Pada 1970, pemerintah federal AS kian menyulitkan kajian mariyuana dengan menggolongkannya sebagai NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif) tingkat satu. Artinya, ganja masuk kategori zat kimia berbahaya tanpa tujuan medis yang valid dan potensi penyalahgunaan yang tinggi, sekelas dengan heroin. Di AS, mayoritas peneliti ganja dianggap sebagai pelaku kejahatan.

Waktu terus berjalan dan zaman mulai berubah. Seiring makin banyaknya orang yang beralih ke narkotik untuk mengobati penyakit, sains ganja lahir dan bersemi kembali di AS. Ada kejutan, dan mungkin keajaiban, yang terpendam dalam tanaman berstatus terlarang ini. Beberapa bulan lalu sejumlah media online ramai memberitakan sosok Suster Kate dari Kota Merced, California, yang berjualan ekstrak ganja via ecommerce.

Lewat brand Sisters of the Valley Cannabis, Kate menjual produk berbasis CBD alias cannabinoid – kandungan dalam ganja – berbentuk minyak dan salep. Produknya laris manis hingga kehabisan stok. Konsumennya mengaku minyak dan salep racikan Kate sangat membantu dalam meringankan beberapa penyakit seperti gloukuma, epilepsi, hingga nyeri kemoterapi. Suster Kate sebenarnya bukanlah biarawati gereja. Dia hanya gemar berpenampilan ala suster. Maklum, wanita bernama Christine Meeusen ini pernah sekolah biarawati meski tak selesai.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI