Gaya hidup tak beres, jantung jadi korbannya

Majalah Intisari - Edisi 661
19 Oktober 2017

Majalah Intisari - Edisi 661

Kurangi asupan garam untuk menjaga kestabilan tekanan darah. / Foto : altsense.co.uk

Intisari
Rasanya, hampir semua orang mafhum, penyakit jantung termasuk dalam urutan lima besar daftar penyakit paling mematikan di dunia. Di samping itu, pada umumnya orang juga menyadari tentang faktor-faktor risiko dari penyakit jantung. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang abai soal kesehatan organ vital ini.

Contoh yang paling nyata, saat ini jutaan orang Indonesia masih merokok. Padahal, jelas sekali ada peringatan: rokok berbahaya bagi kesehatan jantung. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) tahun 2016 menyebutkan, 36,4% atau lebih sepertiga dari jumlah penduduk adalah perokok. Artinya, lebih dari 93 juta orang yang merokok.

Selain itu, pola makan orang Indonesia yang tidak terkendali juga menjadi pemicu. Dalam satu hari, asupan makanan tidak sehat lebih banyak ketimbang makanan sehatnya. Misalnya, makan makanan yang digoreng di pagi hari. Siang, lanjut makan makanan bersantan penuh lemak. Ditambah lagi, malam hari, menunya daging yang menggugah selera.

Wajar jika kadar kolesterol langsung melonjak. Di lidah, makanan-makanan itu mungkin terasa enak. Tapi bagi jantung semua itu bagaikan racun. Memang tidak akan langsung terlihat membunuh, tapi perlahan-lahan jantung akan keok juga. Bahkan jika terjadi serangan jantung tiba-tiba, nyawa menjadi pertaruhannya.

“Terutama orang yang tinggal di perkotaan, kebiasaan makannya sering tidak sehat,” kata dr. Fiastuti Witjaksono Ms, SpGK, dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Padahal, makanan sesungguhnya bukan sekadar rasa. Lebih dari itu, asupan makanan berpengaruh penting terhadap kesehatan. Khususnya, jantung kita.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI