Agama di masyarakat Eropa

Majalah Intisari - Edisi 661
19 Oktober 2017

Majalah Intisari - Edisi 661

Tempat berdoa untuk semua agama di bandara Glasgow.

Intisari
Agama tidak begitu penting lagi bagi kehidupan masyarakat Eropa kebanyakan. Karenanya banyak tempat peribadatan agama, yang kosong ditinggalkan para pemeluknya. Apakah agama benar-benar hilang eksistensinya? Secara fisik, ya. Tetapi nilai-nilai agama tentang kejujuran, kemanusiaan, saling menghargai, kerja keras, transparansi, disiplin dan ketertiban, kebersihan dan cinta lingkungan, hormat pada sesama, melindungi kaum lemah.

Agama, di Eropa pada akhirnya menjelma menjadi wujudnya yang nyata yaitu peradaban (tatanan-ketertiban kehidupan bermasyarakat). Demikian kesimpulan orang-orang Eropa yang kujumpai dan banyak berdiskusi denganku baik di Benelux, Germany, France, Swiss, Skandinavia Utara, hingga akhirakhir ini di UK.

Aku suka merenung soal wujud agama sebagai peradaban Eropa yang Islami ini. Seringkali aku justru merenung mengapa di Indonesia yang banyak penduduknya masih menganggap penting agama, tetapi peradaban tak segera terwujud nyata.

Agama dan tempat ritual di Eropa masih ada artefaknya. Tatkala aku hendak terbang dari bandara Internasional Glasgow, Scotland, UK menuju Jakarta Indonesia, aku sengaja hendak salat sebagai kebiasaan muslim Indonesia kebanyakan di bandara tersebut. Sangat sulit mencari tempat salat di banyak tempat umum di kota-kota besar Eropa. Juga di Glasgow ini.

Begitu tadinya bayanganku. Akan tetapi, aku sangat terperanjat tatkala mendapati interfaith prayer room di bandara ini. Bandara Glasgow ternyata menyediakan tempat berdoa/salat yang bisa digunakan bersama-sama (sharing) antara agama Islam, Kristen/Nasrani dan Yahudi.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI