Dapatkan majalah digital Intisari Rp. 15,000 atau berlangganan mulai Rp. 99,000
Baca halaman pratinjau melalui aplikasi myedisi reader
Edisi 662
180 Halaman, Terbit 30 November 2017
Majalah Bulanan

Setiap orang punya pandangan masing-masing tentang uang yang berbunga. Ada yang memakluminya ada juga yang berusaha menjauhinya.

Bulan lalu sehabis gajian, saya mencoba menghitung sisa utang yang sudah saya cicil hampir setahun di sebuah bank. Pokok utang saya tidak berubah dan ternyata yang saya cicil baru sebatas bunga atas pokok utang. Saya tidak begitu terkejut. Jauh-jauh hari saya sudah paham benar sistem pinjaman yang saya jalani. Ya, memang seperti itu. Ada konsekuensi beban bunga lumayan tinggi dan pada tahun pertama baru mencicil beban bunga utang.

Memang tidak mengenakkan. Tapi apa boleh buat, untuk seorang karyawan yang hidup di Ibukota, hampir tidak mungkin bisa membeli rumah atau mobil tanpa mengandalkan kredit pinjaman. Kecuali kita punya warisan yang lumayan dari orangtua. Bagi saya, meminjam uang di bank bukanlah suatu masalah, selama angsurannya tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Toh, sekarang ini, siapa sih yang mau memberi pinjaman tanpa bunga? Apalagi infl asi mata uang kita per tahunnya lumayan tinggi. Bisa tekor mereka.

Akan tetapi, tidak semua orang punya pikiran seperti saya. Karena pertimbangan tertentu, salah satunya keyakinan, mereka mengambil putusan untuk menjauhi riba (utang dengan bunga) dalam kehidupan. Tentu saja, butuh tekad sekuat baja untuk meninggalkan riba di zaman seperti sekarang ini. Kita sama-sama tahu, hampir semua lini kehidupan berkaitan dengan bank, apalagi di lini digital. Akhirnya ada yang tidak kuat, namun banyak juga yang tetap setia di jalannya.

Kisah menyentuh dari mereka yang berjuang meninggalkan riba bisa disimak di rubrik Sorotan dengan judul, “Lika-Liku Hidup Tanpa Rente” di halaman 160. Selain itu, kami juga mengabarkan bahwa mulai edisi depan Majalah Intisari akan berganti nakhoda. Tentunya, di bawah pimpinan nakhoda baru, Majalah Intisari bakal makin terjaga kualitasnya dan semakin memuaskan audien. Tabik.
Sampul
Jendela
Beranda
Dari kami : Tekad melepas riba
Dialog
Rahasia dari rasa umami
Daftar isi
Data & fakta : Tanda cash tapi bukan tongpes
Hugo Barra, berpindah ketika di puncak
Sebagai afrodisiak, pasak bumi tak pernah mengumbar janji
Dinamika : Fakta seputar BPJS kesehatan yang perlu anda ketahui
     Sneakers bukan melulu soal gaya
     Jejak sekolah Mataram yang perlu disegarkan
     Silakan percaya, hantu memang benar-benar ada
Inspiratif : Tolong ibuku, puang tene!
Photo story : Ebeg kerasukan di tengah metropolitan
Fit : Insomnia yang merenggut nyawa
Healthy life : Problem tulang belakang lenyap berkat pilates
Jeda : Teguran ala sandwich
Healthy life : Makan sayur juga ada rambu-rambunya
Fasilitas kesehatan : Mengincar batu-batu akibat lupa minum
T&J : Jangan sepelekan suara serak
Langlang : Pasar tradisional di Thailand bukan sekedar untuk jajan
Usut-asal : Ultah tak lengkap tanpa kue tart
Ototren : Goresan-goresan pengisi jiwa kendaraan
Finance notes : Bila klaim asuransi tidak dibayar
Career notes : The positive OCD
Career notes : Perempuan atau wanita?
Bahasa kita : Pendarahan otak
In memoriam Dr. HOK Tanzil : Pengelana sejati itu telah pergi
Sketsa tokoh : Herlina Kasim: Si pending emas pembebas Irian Barat
Jeda : Masyarakat Swiss tidak kaya tapi sejahtera
Perkara klasik : Siapakah pembunuh raja Siam?
Jeda : Sarang kuman di rumah kita
Sorotan : Lika-liku hidup tanpa rente
     Uttiek Herlambang: Memupus kecanduan belanja
     Buce Darmawan: Tak khawatir lagi dikejar utang
Lentera : Nilai keteladanan
Intisari adalah nama majalah bulanan yang berasal dari Indonesia dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1963 dalam bahasa Indonesia. Sebagai majalah keluarga populer dirinya sebagai majalah yang "Menginspirasi Setiap Generasi". Selama lebih dari 45 tahun, Intisari tinggal dengan visi inti: menyajikan mudah untuk memahami bacaan ilmiah populer yang berguna untuk para pembaca.                    
2017   2016   2015