Mendarat sambil gelap-gelapan

Majalah Intisari - Edisi 665
9 Maret 2018

Majalah Intisari - Edisi 665

Tentu saja, meredupkan lampu pesawat bukan bertujuan untuk menghemat energi. / Foto : pexels

Intisari
Hampir sebagian besar orang pernah naik pesawat terbang. Namun, terkadang kita hanya naik tanpa memperhatikan situasi sekitar. Misalnya, mengapa lampu di dalam kabin pesawat selalu diredupkan setiap lepas landas serta mendarat? Tentu saja, meredupkan lampu pesawat bukan bertujuan untuk menghemat energi.

Melainkan untuk keselamatan kita jika terjadi kecelakaan pesawat. Kita semua tahu, saat lepas landas dan mendarat adalah momen yang paling penting dalam penerbangan. Aturan tentang peredupan lampu ini berasal dari lembaga keselamatan penerbangan dunia atau Federal Aviation Administration (FAA).

“Peredupan lampu memungkinkan mata kita untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan, sehingga pengumpang tidak tiba-tiba dibutakan jika terjadi sesuatu dan penumpang dengan sigap langsung ke pintu ke luar,” kata Patrick Smith, pilot dan penulis di Cockpit Confidential.

Saat lampu diredupkan, lampu penerangan dan tanda darurat juga akan lebih terlihat. Kondisi itu juga membuat penumpang lebih mudah untuk melihat situasi di luar. Dengan demikian, penumpang bisa terbantu untuk mempertahankan orientasi dasar. Tujuan yang sama juga berlaku terhadap aturan untuk membuka penutup jendela saat lepas landas dan mendarat.

Dengan penutup jendela yang terbuka, kondisi itu membantu penumpang tetap dapat berorientasi. Begitu pula dengan awak pesawat agar dapat menilai bahaya dari luar. Misalnya jika ada kebakaran atau puing, yang mungkin mengganggu evakuasi. Dalam situasi yang gelap atau redup, mata manusia membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sepenuhnya beradaptasi.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI