Hikayat negeri daun emas

Majalah Intisari - Edisi 665
9 Maret 2018

Majalah Intisari - Edisi 665

Semua terlibat dalam pengolahan hingga siap dijual.

Intisari
Siang itu angin semilir membelai lembut wajah kala saya melintas aspal antara Kalisat dan Mayang. Laju lambat dan helm dilepas sengaja demi satu dalih, menghirup semerbak wangi yang mengudara secara lebih khusyuk. Harum itu berasal dari daun tembakau yang tengah dijemur di sepanjang jalan.

Rupanya hampir semua lapangan telah penuh sampai tepi jalan pun termanfaatkan demi sinar matahari yang melimpah. Di Jambuan, saya bersua Rochim yang tengah menjemur tembakau di sebuah lapangan sepakbola. “Mungkin di Jember dulu lapangan dibuat bukan untuk bermain bola tapi menjemur tembakau ya. Haha,” kelakar dia sambil menunjuk halaman rumah seorang tetangga yang ia pakai karena kekurangan tempat.

”Waktu masih kecil nyaris tak mungkin main bola saat musim tembakau. Tidak ada tempat dan hampir tiap hari membantu orang tua atau tetangga yang sedang panen,” lanjut pria 45 tahun itu. “Saya nyaris ikut sebagian teman yang absen mbako. Modal saya masih tipis.” Rochim yang menjabat ketua kelompok tani tembakau di lingkungannya menjelaskan sebanyak dua puluhan anggotanya atau hampir setengah total jumlah anggota tidak menanam tembakau tahun ini.

“Cuma karena malu saja. Masak sebagai ketua tidak ikut menanam. Haha...,” ia kembali terkekeh. “Untung sekarang harganya oke”. Sambil mengawasi pekerja perempuannya nyujen, menusuk daun tembakau sebelum dikeringkan, Rochim melanjutkan kisahnya.”Banyak yang masih takut. Kami dihajar habis dua tahun kemarin. Khawatir tahun ini kena lagi,” jelasnya.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI