Orang tua Jepang tak unggah foto anak sembarangan

Majalah Intisari - Edisi 667
27 April 2018

Majalah Intisari - Edisi 667

Masyarakat Jepang cenderung menganggap anak sebagai bagian properti. / Foto : SetsukoN_ThinkstockPhotos

Intisari
Masyarakat Jepang cenderung menganggap anak sebagai bagian dari properti mereka. Jika anak membuat masalah termasuk melakukan tindakan kriminal misalnya, orangtua juga akan disalahkan dan mereka harus bertanggung jawab. Bahkan jika anaknya sudah berusia 30-an bahkan 40-an tahun.

Di dalam keluarga Jepang tradisional, anak-anak tidur bersama ibunya sampai berusia 7 tahun bahkan lebih. Anak-anak Jepang sangat jarang sekali bahkan ada yang belum pernah seumur hidupnya menginap di rumah temannya atau orang lain. Pada umumnya rumah orang Jepang relatif kecil.

Apalagi jika mereka tinggal di apato atau apartemen. Orangtua si anak tidak mau merepotkan dan mengganggu privasi keluarga yang diinapi. Tidak sembarang posting foto. Di era digital hampir semua ponsel pintar telah dilengkapi kamera dan video. Siapa saja termasuk orangtua dengan mudah memotret atau membuat video pertumbuhan, perkembangan, dan aktivitas anaknya.

Jika foto atau video tersebut hanya disimpan di album atau arsip pribadi dan dilihat oleh keluarga dekat,tidak menjadi masalah. Bagaimana jika foto anak-anak menghiasi linimasa orangtuanya dan menjadi konsumsi publik? Aya Miyamoto, seorang ibu rumah tangga yang mempunyai dua anak laki-laki usia SD dan tinggal di Nara tidak pernah memposting foto anak-anaknya di media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Bahkan untuk sekadar mengirimkannya secara pribadi pada teman-teman dekatnya. Aya seperti ibu-ibu di Jepang pada umumnya senang mengabadikan momen-momen penting dalam perkembangan anaknya.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI