Profil Penerima Anugerah Kebudayaan Dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2017

Profil Penerima Anugerah Kebudayaan Dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2017

Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi selama tiga tahun terakhir ini telah diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Cq. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Program apresiasi ini merupakan lanjutan dari hasil kristalisasi dari beberapa kegiatan yang pernah diselenggarakan oleh beberapa unit kerja pada tahuntahun yang lalu.

Sebagai bagian dari apresiasi pemerintah terhadap para tokoh yang berjasa besar dan berkontribusi secara nyata, upaya pembenahan dan perbaikan terus dilakukan. Dalam proses ini pun terkait dengan kesungguhan pemerintah dalam membangun masyarakat yang tidak akan pernah lepas dari seluruh unsur kebudayaan baik budaya yang bersifat benda (tangible cultural) maupun budaya tak benda (intangible cultural). Pengertian apresiasi secara umum adalah kesadaran terhadap nilai seni dan budaya, penghargaan terhadap sesuatu. Berasal dari bahasa Inggris appreciation yang artinya penghargaan atau penilaian, pengertian. To appreciate, berarti menghargai, menilai, mengerti.

Secara leksikografis kata “apresiasi” berasal dari bahasa Inggris, appreciation berasal dari kata kerja to appreciate yang menurut kamus Oxford berarti to judge value of understand or enjoyfully in the right way; Oxford American Dictionary: berbicara apresiasi terkait dengan to value greatly, to be grategul for; to enjoy intelligently, to understand, to increase in value, the investments have appreciated greatly. Dan Menurut Webstern adalah to estimate the quality of to estimate rightly to be sensitevely aware of. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, apresiasi 1) kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya; 2) penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Binsar Simanullang / Retno Raswati / Mohamad Atqa / Desy Wulandari / Dita Darfianti / Rini Suryati / Dian Warastuti
Editor: Kenedi Nurhan

Penerbit: Kemdikbud
Terbit: September 2017, 321 Halaman
Edisi digital buku ini dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Ikhtisar

Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi selama tiga tahun terakhir ini telah diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Cq. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Program apresiasi ini merupakan lanjutan dari hasil kristalisasi dari beberapa kegiatan yang pernah diselenggarakan oleh beberapa unit kerja pada tahuntahun yang lalu.

Sebagai bagian dari apresiasi pemerintah terhadap para tokoh yang berjasa besar dan berkontribusi secara nyata, upaya pembenahan dan perbaikan terus dilakukan. Dalam proses ini pun terkait dengan kesungguhan pemerintah dalam membangun masyarakat yang tidak akan pernah lepas dari seluruh unsur kebudayaan baik budaya yang bersifat benda (tangible cultural) maupun budaya tak benda (intangible cultural). Pengertian apresiasi secara umum adalah kesadaran terhadap nilai seni dan budaya, penghargaan terhadap sesuatu. Berasal dari bahasa Inggris appreciation yang artinya penghargaan atau penilaian, pengertian. To appreciate, berarti menghargai, menilai, mengerti.

Secara leksikografis kata “apresiasi” berasal dari bahasa Inggris, appreciation berasal dari kata kerja to appreciate yang menurut kamus Oxford berarti to judge value of understand or enjoyfully in the right way; Oxford American Dictionary: berbicara apresiasi terkait dengan to value greatly, to be grategul for; to enjoy intelligently, to understand, to increase in value, the investments have appreciated greatly. Dan Menurut Webstern adalah to estimate the quality of to estimate rightly to be sensitevely aware of. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, apresiasi 1) kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya; 2) penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu.

Pendahuluan / Prolog

Kata pengantar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Saat ini pengaruh globalisasi dan media informasi sangat dahsyat menerpa kehidupan kita. tanpa proses penyaringan tanpa peresapan yang matang akan berakibat pada perubahan sikap dan perilaku yang mempengaruhi karakter dan budaya bangsa.

Bertolak dari situasi ini, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Cq Direktorat Warisan Dan Diplomasi Budaya, telah memfokuskan program-program kegiatannya pada arah penguatan karakter bangsa, dengan melakukan penanaman dan persemaian atau internalisasi nilai–nilai budaya.

Penganugerahan kebudayaan yang kita lakukan setiap tahun adalah salah satu bentuk penguatan karakter bangsa, dengan melakukan penanaman dan persemaian atau internalisasi nilai – nilai budaya. Tentunya, penghargaan ini juga merupakan bentuk ucapan terima kasih Pemerintah Republik Indonesia kepada para tokoh budaya yang sosok serta karyanya dapat kita kenali melalui buku profil penerima penghargaan kebudayaan ini.

Saya berharap agar penghargaan yang telah diberikan pemerintah ini akan memacu kreatifitas para penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi dan dapat menjadi bukti bahwa tidak ada pengabdian yang sia-sia, serta dapat mendorong masyarakat lebih mengenal para tokoh budaya yang menjadi tauladan bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda dalam membangun jatidiri guna memperkokoh ketahanan budaya bangsa Indonesia.

Dalam konteks ini ada dua jenis penghargaan yang disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Cq. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Prosedur dan mekanisme keduanya tidak sama. Yang pertama, terkait dengan penghargaan Tanda Kehormatan dari Presiden Republik Indonesia, yaitu Bintang Budaya Parama Dharma dan Satyalancana Kebudayaan.

Instansi teknis melalui tim penilai internal yang dibentuk berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI hanya berhak mengusulkan, kewenangan menetapkan siapa yang berhak menerima ada pada Presiden RI melalui rekomendasi Dewan Tanda Kehormatan yang dibentuk oleh Sekretariat Negara. Dari proses pengusulan tersebut, secara formal diajukan kepada Presiden melaui Sekretariat Militer (Sekretariat Negara).

Senyampang dengan hal tersebut, dilakukan verifikasi dan klarifikasi data, sedikitnya oleh tiga institusi yang berwenang, yaitu Badan Intelijen Nasional, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian RI. Baru setelah itu diproses lebih lanjut oleh Sekretariat Militer dengan seleksi kembali oleh Dewan Tanda Kehormatan untuk selanjutnya diberikan kepada Presiden. Dalam hal ini, Presiden dapat saja menolak atau menyetujuinya.

Bentuk penghargaan yang kedua adalah Penghargaan Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Cq. Direktorat Jenderal Kebudayaan, yaitu Kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, Kategori Pelestari, Kategori Anak dan Remaja, Kategori Maestro Seni Tradisi, Kategori Komunitas, Kategori Pemerintah Daerah, dan Kategori Perorangan Asing.

Daftar Isi

Sampul
Profil penerima
Tim penyusun
Kata pengantar
Daftar isi
Selintas tentang apresiasi
Profil tim penulis anugrah kebudayaan dan penghargaan maestro seni tradisi 2017
Tanda kehormatan kelas bintang budaya parama dharma
     Soedjatmoko: Sosok pembelajar, pencari dan pemikir yang mandiri
     Dullah: Maestro lukisan realis yang revolusionis
     Toeti Heraty Noerhadi Roosseno: Ahli filsafat, penyair, dan aktivis perempuan
Tanda kehormatan kelas satyalancana kebudayaan
     Andjar Asmara: Dari teater ke fim
     Teuku Iskandar: Pencatat peradaban Aceh dan Melayu
     Sumarsam: Gamelan sebagai ikon seni pertunjukan dan peradaban Jawa
     Haji La Side Daeng Tapala (Alm): Berjuang memajukan pendidikan dan kebudayaan
     Anak Agung Gede Sobrat: Seniman besar yang peduli sesama
     Johanna Maria Pattinaja Seda: Mencintai Indonesia melalui kain tenun
     Orang Kaya Nizami Jamil: Perawat kebudayaan Melayu Riau
     Syofyani Yusaf: Hidup untuk tarian minangkabau
Kategori pencipta, pelopor,dan pembaru
     Addie MS: Simfoni musik dan perayaan keragaman
     Marlupi Sijangga: Suntik tari balet dengan budaya Indonesia
     Hafiz Rancajale: Membangun karakter lewat film dokumenter
     Hasnan Singodimayan: Jebolan pesantren yang getol perbaiki citra banyuwangi
     Irwansyah Harahap: Musik sebagai dunia ekspresi dan pengetahuan
     Basri Baharuddin Sila: Tanpa musik hidup itu hambar
     Ifa Isfansyah: Film sebagai medium berekspresi
     Marzuki Hasan: Seni tari Indonesia dikagumi dunia
Kategori pelestari
     Marayama: Penjaga ingatan tradisi mandar
     Kartolo: Pelawak kawakan, tapi belum berani “Stand Up Comedy”
     Johar Saad: “Dulmuluk Sudah Mendarah Daging”
     Christ Fautngil: Jangan malu berbahasa ibu
     Rudolf Joppy Sajow: Mencintai Indonesia, melestarikan kolintang segala
     Haji Ato Hermanto: Ingat dodol, ingat garut
     Hendrik Boenga: Jatidiri kita ada pada budaya
     Endi Agus Riyanto: Hidup itu seperti gasing
Kategori anak dan remaja
     Woro Mustiko Siwi: Melestarikan budaya bangsa tanggung jawab anak muda
     Roland Martin Lumbantobing: Mencintai tradisi adalah bahasa musik saya
     Marvel Gracia: Mengembangkan seni melalui kolaburasi berbagai bangsa
     Dian Anindya Bhaswara: Ajak kawula muda mencintai budaya sendiri
Kategori maestro seni tradisi
     Eliza Marthen Kissya: Sang “Kewang” Penjaga Tradisi “Sasi Lompa”
     Irang Awai: Musik menjaga keseimbangan alam
     Al Mujazi Mulku Zahari: Penjaga tradisi kabanti, pewaris naskah buton
     Harun A Rahman: “Kabata” sebagai identitas manusia tidore
Kategori komunitas
     Komunitas kampung tarung masyarakat adat itu pelestari budaya
     Komunitas kiai kanjeng pada mulanya adalah konsep nada
     Komunitas ulu ambek nagari lubuk pandan bertahan di tengah arus perubahan zaman
Kategori pemerintah daerah
     Kota Banda Aceh: Bersendi kebudayaan menuju kota madani
     Kota Gorontalo: Merawat kebudayaan, mendorong kemajuan
     Kota Sawahlunto: Dari tambang ke budaya
     Kabupaten Wakatobi: Kabupaten maritim, permata dari timur Indonesia
     Kabupaten Kutai Timur: Alam dan budaya ikon pengganti tambang dan mineral
Kategori perorangan asing
     Annabel Teh Gallop: Penjaga manuskrip dan cap kuno Indonesia dari Inggris
     Richard Harry Chauvel: Masyarakat Indonesia Iitu terbuka
     Mitsuo Nakamura: Jembatan pemahaman Islam, Indonesia, dan Jepang