Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Jangan Hanya 5 Waktu: Panduan Lengkap Shalat Wajib & Sunah Sehari Penuh Plus Doa-doa Harian

Jangan Hanya 5 Waktu

Ini adalah buku yang khusus dipersembahkan bagi Anda yang merasa bahwa shalat 5 waktu belum cukup membasuh kerinduan berkhalwat dengan-Nya. Di dalamnya dijabarkan satu per satu shalat yang dapat Anda lakukan sehari penuh, sejak bangun tidur di pagi hari hingga tidur lagi di malam hari. Runut dan lengkap sehingga Anda akan merasa dipandu secara saksama dan tidak akan terlewat satu shalat pun. Melaksanakan seluruh rangkaian shalat sehari penuh seperti yang direkomendasikan dalam buku ini akan membantu usaha Anda dalam merasakan nikmatnya shalat, bukan hanya yang wajib tapi juga yang sunah. Sungguh, jika telah dapat merasakan kenikmatannya, Anda akan ketagihan dan menginginkan shalat lebih sering lagi.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Muslik / Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9789793838519
Terbit: Mei 2014, 272 Halaman

Ikhtisar

Ini adalah buku yang khusus dipersembahkan bagi Anda yang merasa bahwa shalat 5 waktu belum cukup membasuh kerinduan berkhalwat dengan-Nya. Di dalamnya dijabarkan satu per satu shalat yang dapat Anda lakukan sehari penuh, sejak bangun tidur di pagi hari hingga tidur lagi di malam hari. Runut dan lengkap sehingga Anda akan merasa dipandu secara saksama dan tidak akan terlewat satu shalat pun. Melaksanakan seluruh rangkaian shalat sehari penuh seperti yang direkomendasikan dalam buku ini akan membantu usaha Anda dalam merasakan nikmatnya shalat, bukan hanya yang wajib tapi juga yang sunah. Sungguh, jika telah dapat merasakan kenikmatannya, Anda akan ketagihan dan menginginkan shalat lebih sering lagi.

Ulasan Editorial

Ini adalah buku yang khusus dipersembahkan bagi Anda yang merasa bahwa shalat 5 waktu belum cukup membasuh kerinduan berkhalwat dengan-Nya. Di dalamnya dijabarkan satu per satu shalat yang dapat Anda lakukan sehari penuh, sejak bangun tidur di pagi hari hingga tidur lagi di malam hari. Runut dan lengkap sehingga Anda akan merasa dipandu secara saksama dan tidak akan terlewat satu shalat pun.

Melaksanakan seluruh rangkaian shalat sehari penuh seperti yang direkomendasikan dalam buku ini akan membantu usaha Anda dalam merasakan nikmatnya shalat, bukan hanya yang wajib tapi juga yang sunah. Sungguh, jika telah dapat merasakan kenikmatannya, Anda akan ketagihan dan menginginkan shalat lebih sering lagi.

Jadi, tunggu apa lagi? Segeralah ambil air wudhu dan laksanakan shalat seharian sekarang juga

Khazanah Intelektual / Muslik

Pendahuluan / Prolog

Jangan Hanya 5 Waktu
Abdullah bin Amr r.a. berkata, Rasulullah Saw. diberi tahu bahwasanya aku berkata, “Demi Allah, aku akan melaksanakan shaum setiap hari dan melaksanakan shalat sepanjang malam selama aku hidup,” aku berkata kepadanya, “aku telah mengatakannya demi bapakku dan ibuku.” Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup melaksanakannya, shaumlah kamu dan berbukalah, shalatlah kamu dan tidurlah, dan shaumlah kamu setiap bulan selama tiga hari karena sesungguhnya satu kebaikan diberi pahala sepuluh kali lipat, dan hal tersebut laksana shaum sepanjang tahun.” Aku menjawab, “Aku lebih mampu dari itu.” Beliau menjawab, “Shaumlah satu hari dan berbukalah dua hari.” Aku menjawab, “Aku lebih mampu lebih dari itu.” Beliau bersabda, “Shaumlah satu hari dan berbukalah satu hari, hal tersebut sebagaimana shaum Daud a.s.” Aku menjawab, “Aku lebih mampu dari itu.” Lalu, Nabi Saw. Bersabda, “Tidak ada yang lebih utama dari itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Abi Juhfah (Wahb bin Abdillah) r.a. mengatakan, Nabi Muhammad Saw. mempersaudarakan antara Salman r.a. dan Abu Darda r.a. Maka, Salman mengunjungi Abu Darda. Salman melihat Ummu Darda berpenampilan lusuh. Berkatalah Salman, “Bagaimana keadaanmu?” Ummu Darda menjawab, “Saudaramu ini tidak punya kebutuhan apa pun terhadap dunia.” Lalu datanglah Abu Darda kemudian menghidangkan makanan untuknya seraya mengatakan, “Makanlah, aku sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Aku tidak akan makan

kecuali jika kamu makan.” Maka, Abu Darda pun makan. Di waktu malam bangunlah Abu Darda (untuk Shalat Malam). Salman mengatakan kepadanya, “Tidurlah.” Maka, Abu Darda pun tidur kembali. Kemudian Abu Darda bangkit kembali. Lalu, Salman mengatakan, “Tidurlah.” Maka, Abu Darda pun tidur kembali. Ketika memasuki akhir malam, berkatalah Salman, “Bangunlah sekarang.” Lalu mereka pun shalat berdua. Salman mengatakan kepada Abu Darda, “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu yang harus kamu tunaikan, dirimu punya hak atasmu yang harus kamu tunaikan, dan keluargamu punya hak atasmu yang harus kamu tunaikan. Maka, tunaikanlah hak kepada setiap pemiliknya.” Salman lalu mendatangi Rasulullah Saw. dan menceritakan yang terjadi. Berkatalah Nabi Saw., “Salman benar.” (H.R. Bukhari)

Sebagian orang memahami kedua hadis tersebut sebagai anjuran agar kita mengisi hidup tidak melulu dengan ibadah. Atau, paling tidak, ada keseimbangan antara ibadah vertikal (yang berkaitan langsung dengan ibadah terhadap Allah Swt.) dan ibadah horizontal (yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan). Tidak salah memang, tetapi hal tersebut seolah-olah mematikan kobaran semangat kita untuk beribadah mahdah, dalam hal ini shalat dan shaum. Seyogianya, dua keterangan tersebut dapat menjadi penyemangat untuk kita lebih giat melaksanakan shalat karena 24 jam waktu yang kita miliki dalam satu hari dapat diisi oleh rangkaian shalat dan doa.

Ya, sejak kita bangun tidur di pagi hari sampai kita tertidur lagi di malam hari, ada serangkaian ibadah shalat yang dapat kita kerjakan dalam rangka lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Kesibukan atau padatnya jadwal pekerjaan bukan alasan untuk tidak mengerjakan rangkaian shalat sehari penuh tersebut mengingat beberapa shalat (sunnah) hanya berjumlah dua rakaat sehingga dapat dikerjakan tidak lebih dari 15 menit. Bandingkan dengan waktu makan siang yang kita lakukan yang biasanya hingga menghabiskan waktu 30 menit, bahkan lebih.

Shalat seharian yang dimaksudkan di sini juga tidak harus dikerjakan di masjid atau tempat-tempat yang biasa dipakai untuk shalat. Kita bisa melakukan sejumlah shalat meski tengah berada dalam perjalanan, berkelana di alam terbuka, atau berada di tengah-tengah keramaian. Modalnya hanya kemauan untuk melaksanakan dan saya yakin peluang untuk melaksanakan shalat itu pasti akan selalu ada.

Jadi, tunggu apa lagi? Segeralah ambil air wudhu dan laksanakan shalat sekarang juga. Bukan nanti, tetapi sekarang!

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

Pengantar Penulis
Prolog
Bersuci
     I. Wudhu
     II. Mandi
Janabat
     III. Tayamum
     IV. Membersihkan
Najis
Bacaan
& Tata Cara Shalat
     A. Memperhatikan Waktu Shalat
     B. Persiapan Shalat
     C. Waktu dan Tempat Terlarang Mengerjakan Shalat
     D. Tata Cara Shalat
Ibadah
Sehari Penuh
     I. Subuh
     II. Shalat
Dhuha
     III. Zuhur
     IV. Ashar
     V. Maghrib
     VI. Isya
     VII. Tahajud
     VIII. Witir
Shalat
Jumat
     A. Amalan-amalan Sebelum Jumat
     B. Adab Khatib
     C. Adab Makmum
     D. Shalat Sunah Ba‘da Shalat Jumat
Shalat
Sunah
     I. Shalat
Sunah Munfarid
     II. Shalat Sunah Berjamaah
Doa
     I. Doa
Setelah Shalat
     II. Doa
Sehari-Hari Di Luar Shalat
Epilog
Tentang Penulis
Daftar Pustaka

Kutipan

Bersuci
Islam adalah agama paripurna. Ajarannya menyentuh segala aspek kehidupan. Tidak ada agama yang mengajarkan secara detail mengenai berbagai aspek kehidupan manusia kecuali Islam, termasuk di dalamnya tentang aspek kebersihan.

Islam menjunjung tinggi kebersihan. Tidak heran jika aspek kebersihan terdapat dalam tata cara ibadah Islam secara keseluruhan. Betapa pentingnya nilai kebersihan dalam ajaran Islam sehingga dalam kitab-kitab fikih pun, para ulama selalu menempatkan Bab Thaharah (bab tentang kesucian) pada bab pertama sebelum bab-bab lain dalam kitab-kitab mereka.

Dalam ajaran Islam, bersuci dan segala tata caranya merupakan ilmu dan amalan yang penting. Orang yang akan melaksanakan shalat diwajibkan dalam keadaan suci karena kunci shalat adalah suci.

Bersuci adalah membersihkan badan, pakaian, dan tempat dengan menggunakan alat yang dibolehkan menurut Islam. Bersuci ada dua macam, yaitu bersuci dari hadas dan bersuci dari najis. Bersuci dari hadas berlaku untuk badan, sedangkan bersuci dari najis berlaku untuk badan, pakaian, dan tempat.

Bacaan & Tata Cara Shalat
Shalat sesungguhnya merupakan bentuk pendidikan dari Allah Swt. Melalui pendidikan shalat, Rasulullah Saw. meluluskan manusia-manusia berkualitas unggul, yaitu para sahabat mulia. Shalat merupakan model pendidikan yang sangat efektif, di mana tiga potensi dasar manusia, yaitu jasmani, akal, dan ruh secara bersama-sama dibina dalam satu kesatuan.

Secara harfiah, shalat artinya doa. Dikatakan demikian karena seluruh kandungan shalat adalah doa. Dalam konteks ini ada dua macam doa yang terkandung dalam shalat, yaitu:
1. Du‘a Tsanaa’in artinya doa yang mengandung pujian. Misalnya, kita mengatakan Allahu Akbar (Allah Mahabesar), Subhaana rabbiyal a‘laa (Mahasuci Allah Yang Mahatinggi), dan sebagainya.

2. Du‘a Mas‘alatin artinya doa yang berisi permintaan. Misalnya, Ihdinaash shiraathal mustaqiim (Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus), Rabbigh firlii warhamnii ... (Ya Allah ampuni dan rahmati aku ...), dan sebagainya.

Sejatinya, shalat memberi makna tidak terhingga dalam kehidupan seorang Muslim. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih memahami shalat sebagai sebuah ibadah yang utama.

Para ahli fikih memaknai shalat sebagai ibadah yang mengandung ucapan (bacaan) serta amalan khusus, yang dimulai dengan takbiratul ihram (mengucapkan “Allahu Akbar”, yang artinya Allah Mahabesar) dan diakhiri dengan salam (mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullaah”, yang artinya salam sejahtera bagimu).

Adapun ucapan dan amalan khusus yang dimaksud adalah tata cara shalat yang wajib dikerjakan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw. dan bersumber pada dalil-dalil yang sahih. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasulullah Saw. bahwa kita harus shalat mengikuti cara yang telah beliau ajarkan. Rasulullah Saw. bersabda, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat” (H.R. Bukhari).

Ibadah Sehari Penuh
Shalat merupakan sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya. Ia diikat dengan syarat yang sudah ditentukan, baik gerakannya maupun bacaannya. Pelaksanaan shalat dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Dalam bab ini, shalat yang dibahas bukan hanya shalat wajib, tetapi juga dipadukan dengan beberapa shalat sunah munfarid (sendiri) yang ketetapan
waktunya sudah jelas. Susunan shalat dimulai dari saat kita bangun tidur hingga hendak tidur kembali.

Shalat-shalat sunah yang dibahas dalam bab ini antara lain shalat sunah Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tahajud, dan shalat Witir. Sementara, sebagian shalat sunah lainnya akan dibahas dalam bab tersendiri.

Shalat Jumat
Shalat Jumat diwajibkan bagi setiap Muslim. Hal itu merujuk pada firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Jumu‘ah [62]: 9)

Kalimat Hai orang-orang beriman ... dalam ayat itu bermakna umum, yakni panggilan untuk pria dan wanita. Sama halnya seperti kewajiban shaum yang menggunakan panggilan umum, “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183). Karena itu, tidak mengherankan jika ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa shalat Jumat pun diwajibkan pada kaum wanita.

Namun, jika memperhatikan keterangan lain, wanita termasuk salah satu golongan yang dikecualikan untuk melakukan shalat Jumat. Perhatikan keterangan berikut ini. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Jumat itu wajib bagi setiap Muslim, kecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak, dan orang sakit” (H.R. Abu Daud dari Thariq bin Syihab r.a.). Jadi, selain wanita, golongan yang tidak dikenai kewajiban shalat Jumat adalah hamba sahaya, anakanak, dan orang sakit.

Untuk menyempurnakan keutamaan shalat Jumat, kita dianjurkan mandi besar terlebih dahulu. Mandi besar pada hari Jumat ini bisa dilakukan mulai subuh sampai sebelum shalat Jumat dimulai. Itulah batas awal yang logis dari waktu “sebelum Jumat”.

Mengenai hukum mandi Jumat, terdapat perbedaan. Sebagian berpendapat wajib, sebagian yang lain berpendapat sunah. Menyikapi perbedaan itu, jalan yang terbaik adalah melaksanakan mandi besar sebelum shalat Jumat, apalagi jika situasi dan kondisinya memungkinkan. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa mandi pada hari Jumat, kemudian dia datang pada tempat shalat Jumat, lalu dia shalat semampunya (dua rakaat-dua rakaat) kemudian dia mendengarkan khutbah sampai khutbahnya selesai, kemudian dia shalat Jumat bersama imam, diampuni dosanya antara Jumat sebelumnya dengan Jumat saat itu dan ditambah tiga hari” (H.R. Muslim).

Shalat Sunah
Sebagaimana ibadah-ibadah lain, dalam Islam, perintah shalat pun bukan hanya datang sebagai ibadah wajib. Akan tetapi, ia juga disertai dengan shalat-shalat lain yang sifatnya sunah. Ibadah sunah merupakan ibadah yang mendampingi dan menjadi nilai tambah. Hikmahnya, shalat-shalat sunah ini akan menjadi penguat dan penyempurna ibadah wajib. Tentunya, ibadah sunah, sesering apa pun dilaksanakan, posisinya tidak akan bisa mengubah posisi shalat wajib.

Dalam bagian ini, akan dipaparkan mengenai beberapa shalat sunah munfarid dan shalat sunah yang dilaksanakan secara berjamaah. Sebagian shalat sunah munfarid sudah dipaparkan pada bagian “Ibadah Sehari Penuh”, maka sisanya akan dipaparkan pada bab ini.

Penempatan ini bukan berarti satu ibadah sunah lain lebih utama dari
ibadah sunah lainnya. Akan tetapi, penempatan ini hanya sebagai pengaturan saja pada shalat-shalat sunah munfarid yang memang tidak terikat waktunya, alias bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Sementara itu, untuk semua shalat sunah berjamaah, akan dipaparkan pada bagian ini.

Doa
Doa merupakan jenis ibadah yang tidak menuntut syarat dan rukun yang
ketat. Artinya, doa bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Selain itu,
berdoa bukan hanya bisa dilakukan saat kondisi kita tertekan atau kesulitan. Sebaliknya, jika ingin dicintai Allah, kita harus “datang” berdoa kepada-Nya
saat keadaan lapang. Dengan berdoa, kita berbaik sangka kepada Allah. Kita
memasrahkan segala kehendak kepada-Nya.

Bab ini dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama doa-doa yang bisa dipanjatkan