Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Fikih Kecantikan: Panduan Cantik Sesuai Syariat

Fikih Kecantikan

FITRAH seorang manusia adalah mencintai keindahan. Terlebih, bagi kaum Hawa. Sehingga, bukanlah sebuah kesalahan jika seorang wanita ingin terlihat dan tampil menarik. Hanya saja, semua tetap harus didasarkan kepada niat yang lurus, tulus, dan sesuai aturan syari’at Islam.

Banyak pertanyaan para muslimah yang diajukan kepada saya mengenai teknologi kecantikan yang saat ini sedang menjadi tren. Di antaranya, hukum hair extension, hair transplantation, botox dan dracula therapy, hair coloring, eye whitening, tanning, teknologi nano, mencukur bulu alis, memakai behel, suntik vitamin C, sedot lemak, dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Islam adalah agama yang sangat mudah dan menjunjung toleransi. Islam mengakomodasi semua keinginan dan kebutuhan manusia. Namun, untuk mencegah terbukanya pintu-pintu kerusakan dan dis-harmoni, Islam memberikan batasan dan aturan dalam pemuasan kebutuhan dan keinginan tersebut.

Masih terjadi perdebatan mengenai hukum berias. Ada yang melarangnya karena dianggap perbuatan tabarruj (perbuatan jahiliah). Akan tetapi, tidak sedikit pula yang membenarkan dan membolehkan, terlebih jika hal itu diniatkan agar terlihat rapi dan untuk menyenangkan suami. Selain itu, berias dan merawat diri bisa menjadi salah satu langkah untuk menunjukkan rasa syukur seorang muslimah terhadap nikmat yang telah Allah berikan.

Dalam buku ini, saya berusaha menjelaskan hukum teknologi kecantikan dan menganalisisnya dengan perspektif Islam. Buku ini berusaha membuka mata bahwa berdandan, bukanlah sebuah perbuatan salah.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Muslik / Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9789793838311
Terbit: September 2010, 122 Halaman

Ikhtisar

FITRAH seorang manusia adalah mencintai keindahan. Terlebih, bagi kaum Hawa. Sehingga, bukanlah sebuah kesalahan jika seorang wanita ingin terlihat dan tampil menarik. Hanya saja, semua tetap harus didasarkan kepada niat yang lurus, tulus, dan sesuai aturan syari’at Islam.

Banyak pertanyaan para muslimah yang diajukan kepada saya mengenai teknologi kecantikan yang saat ini sedang menjadi tren. Di antaranya, hukum hair extension, hair transplantation, botox dan dracula therapy, hair coloring, eye whitening, tanning, teknologi nano, mencukur bulu alis, memakai behel, suntik vitamin C, sedot lemak, dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Islam adalah agama yang sangat mudah dan menjunjung toleransi. Islam mengakomodasi semua keinginan dan kebutuhan manusia. Namun, untuk mencegah terbukanya pintu-pintu kerusakan dan dis-harmoni, Islam memberikan batasan dan aturan dalam pemuasan kebutuhan dan keinginan tersebut.

Masih terjadi perdebatan mengenai hukum berias. Ada yang melarangnya karena dianggap perbuatan tabarruj (perbuatan jahiliah). Akan tetapi, tidak sedikit pula yang membenarkan dan membolehkan, terlebih jika hal itu diniatkan agar terlihat rapi dan untuk menyenangkan suami. Selain itu, berias dan merawat diri bisa menjadi salah satu langkah untuk menunjukkan rasa syukur seorang muslimah terhadap nikmat yang telah Allah berikan.

Dalam buku ini, saya berusaha menjelaskan hukum teknologi kecantikan dan menganalisisnya dengan perspektif Islam. Buku ini berusaha membuka mata bahwa berdandan, bukanlah sebuah perbuatan salah.

Ulasan Editorial

Sebuah panduan bagi kaum hawa yang sudah semakin maju dalam mempercantik diri pada koridor yang benar dengan bersumber pada firman Allah dan hadis Rasul. Benar-benar pegangan wajib bagi mereka yang ingin menjadi muslimah cantik dunia-akhirat

Aktris / Oki Seiana Dewi

Buku wajib bagi kaum hawa supaya tahu bagaimana menghias diri yang syar'i. Panduannya sangat lengkap dengan bahasa yang mudah dimengerti, lengkap dengan kutipan sumbernya, baik dari Al-Quran ataupun hadits. Ayo kaum muslimah, kita sama-sama mempercantik diri tanpa keluar jalur Islami!

Presenter, pemain film, artis sinetron / Mediana Hutomo

Pendahuluan / Prolog

Kecantikan Di Simpang Jalan
CANTIK adalah sebuah predikat yang ingin disandang setiap wanita. Untuk mencapai predikat tersebut, berbagai cara dilakukan. Mulai dari perawatan tubuh, mix and match berbagai macam busana, melengkapi penampilan dengan berbagai aksesoris yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, sampai melakukan operasi kecantikan untuk menyempurnakan penampilan.

Sebut saja Vita. Untuk merawat penampilannya, wanita kelahiran tahun 80-an ini rajin mengunjungi salon langganannya, minimal dua minggu sekali. Baginya, perawatan rambut, wajah, serta kuku tangan dan kaki adalah menu wajib. Tidak boleh tidak. Tidak cukup dengan itu, sauna dan spa pun dikunjungi untuk menjaga keindahan dan keremajaan kulit.

Masalah pakaian, karyawati sebuah bank swasta nasional ini tidak mau ketinggalan. Mode pakaian terbaru selalu ia ikuti melalui majalah wanita–yang lebih tepat disebut katalog produk daripada bahan bacaan. Setiap akhir pekan, bersama teman-temannya, Vita keluar masuk butik dan factory outlet untuk hunting pakaian ter-up to date. Tentu saja, itu termasuk aksesoris pendukung, seperti tas ataupun sepatu.

Tidak heran bila Vita menganggarkan dana yang cukup besar untuk membayar semua kemewahan tersebut. Menyesalkah dia? Tidak. Semua pengeluaran tersebut terbayar ketika teman-temannya berkata, “Oh my God, kamu cantik bangeet Vita! Kereeen!”

Berbeda dengan Vita, Santi berpendapat bahwa pemujaan terhadap kecantikan adalah sebuah kesia-siaan. Hanya wanita bodoh yang mau terhipnotis stereotip wanita cantik versi iklan make up, pemutih kulit, pelangsing tubuh baik impor maupun lokal yang bukan hanya absurd, tetapi juga tidak realistis. Santi termasuk wanita yang memegang teguh ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak melihat rupa, melainkan ketakwaan umat-Nya.

Tidak heran, penampilan Santi biasa–kalau tidak bisa disebut ala kadarnya–walau di hadapan suaminya sekalipun. Tanpa disadarinya, sang suami tak jarang menginginkan istrinya tampil agak lebih modis. Tidak harus tampil glamor, yang penting segar dan rapi. Sindiran untuk menyuruhnya pergi ke salon sekali-kali ditanggapi dingin oleh Santi. “Ahh...buang-buang uang saja,” kilahnya.

Dua ilustrasi tersebut memang sangat bertolak belakang. Pada kenyataannya, tidak sedikit muslimah yang terjebak pada dua kutub antara mengikuti tren kecantikan yang mengabaikan aturan-aturan syariat Islam atau terkekang mematuhi hukum-hukum Islam yang dipahami secara keliru. Benarkah Islam mengekang muslimah untuk tampil cantik? Apa batasan berias yang tergolong kebutuhan dan bagaimana pula berdandan yang tergolong ke dalam tabarruj? Mari, kita urai satu per satu problematika tersebut.

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

Prakata
Kecantikan di Simpang Jalan
Prinsip-Prinsip Dasar Dalam Mempercantik Diri
Muslimah dan Teknologi Kecantikan
Make Up
Bedah Kosmetik
Botox & Dracula Therapy
Suntik Putih/Suntik Vitamin C
Teknologi Nano
Lulur
Tanning
Perawatan Rambut
Keindahan Gigi
Waxing
Tato Kecantikan
Eye Whitening
Parfum
Fashion
Spa
Facial
Totok Aura
Perhiasan
Silakan Berhias, Tetapi Jauhi Tabarruj
Hakikat Kecantikan
Kecantikan Yang Seimbang
Tentang Penulis
Daftar Pustaka

Kutipan

PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM MEMPERCANTIK DIRI
MEMPERCANTIK diri demi keindahan bukan merupakan hal terlarang dalam Islam. Bahkan, ia menjadi fitrah bagi manusia, khususnya wanita. Disebutkan dalam riwayat muslim bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sepercik kesombongan”. Seorang laki-laki bertanya, “Apakah termasuk kesombongan apabila seseorang menyukai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya, Allah itu indah dan Allah menyukai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” (H.R. Muslim).

MUSLIMAH DAN TEKNOLOGI KECANTIKAN
MUSLIMAH mana yang tidak ingin terlihat cantik? Tentu saja, semua muslimah ingin terlihat cantik dan menarik. Baik di usia muda, terlebih menjelang senja. Sebuah kebanggaan tersendiri ketika seorang muslimah dipuji oleh suami, rekan kerja, teman sejawat, serta relasi sosial lain karena mampu merawat kecantikannya.

MAKE UP
DALAM dunia muslimah, make up adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Dengan make up, pipi yang chubby bisa dibuat lebih tirus. Dengan make up, mata yang sayu bisa tampak lebih berbinar dan indah. Dengan make up pula, bibir yang tipis bisa tampak lebih berisi dan menarik. Tak mengherankan, sebagian muslimah kerap membawa make up kit di dalam tasnya, ke mana pun mereka pergi. Ya, mereka senantiasa membawa make up, mulai dari yang sederhana (seperti bedak plus lipstik) sampai satu set peralatan make up lengkap.

BEDAH KOSMETIK
BEDAH kosmetik merupakan serangkaian operasi plastik estetika yang bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan keremajaan atau untuk mempertahankan dan meningkatkan kecantikan sehingga mencapai kondisi estetika ideal bagi yang bersangkutan. Pada awalnya, bedah kosmetik bertujuan untuk mengembalikan penampilan korban luka bakar atau kecelakaan lain yang mengakibatkan kerusakan fisik. Seiring perkembangan dan kebutuhan zaman, bedah kosmetik pun dipergunakan oleh muslimah normal (bukan cacat karena luka bakar atau kecelakaan lainnya) untuk meningkatkan pesona keindahan fisiknya, mulai dari melakukan Face Lift, memperbesar ukuran payudara dan bibir, mempermak hidung, hingga mengencangkan bokong.

SILAKAN BERIAS, TETAPI JAUHI TABARRUJ
ADA tradisi kaum hawa di zaman jahiliah yang seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap muslimah. Tradisi itu dikenal dengan istilah tabarruj. Menurut bahasa, tabarruj adalah berhias dengan memperlihatkan kecantikan wajah dan menampakkan bagian tubuh. Ibnu Katsir memberi pengertian tabarruj sebagai “wanita yang keluar rumah dengan berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya dengan maksud mengundang nafsu mereka”. Inilah yang disebut sebagai tabarruj jahiliah.

HAKIKAT KECANTIKAN
APAKAH kecantikan seseorang hanya diukur dari warna kulitnya yang putih langsat saja? Apakah kecantikan hanya diukur dari rambut hitam, lurus, dan panjang tergerai? Apakah kecantikan hanya diukur dari lingkar dada, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul saja? Lalu, apakah seseorang yang tidak memiliki kriteria tersebut adalah muslimah yang tidak cantik?

KECANTIKAN YANG SEIMBANG
DALAM Islam, pengertian cantik tentu saja merujuk pada arti kecantikan yang hakiki dan ideal, yaitu kecantikan yang bersumber pada dimensi ruhiah (hati) dan dimensi lahiriah dalam batas tertentu. Hal ini berarti Islam tidak melarang wanita untuk berias dan memakai pakaian indah, tetapi tetap menekankan pentingnya ketakwaan kepada Allah Swt.