Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Doa Orang-Orang Sukses

Doa Orang-Orang Sukses

Secara garis besar, doa bisa dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama, doa-doa praktis, misalnya doa akan bepergian, doa mau makan, sesudah makan, doa mau tidur, bangun tidur, dll.

Kedua, doa-doa universal. Artinya doa-doa yang bisa kita baca kapan dan di mana pun kita mau. Biasanya, doa-doa universal itu dibutuhkan oleh siapa pun dalam keadaan apa pun, misalnya minta kebahagiaan dunia-akhirat, minta ilmu yang bermanfaat, harta yang berkah, mohon ampunan, hidayah, doa untuk orang tua, mohon anak-anak yang saleh, dll.

Nah, doa-doa yang dibahas dalam buku ini adalah jenis yang kedua, yaitu doa-doa universal. Buku yang ada di tangan pembaca ini bisa dibaca kapan saja; selesai shalat wajib, shalat rawatib, tahajud, atau saat mengisi waktu senggang. Pokoknya, kapan saja bisa dibaca.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9799827183
Terbit: November 2004, 156 Halaman

Ikhtisar

Secara garis besar, doa bisa dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama, doa-doa praktis, misalnya doa akan bepergian, doa mau makan, sesudah makan, doa mau tidur, bangun tidur, dll.

Kedua, doa-doa universal. Artinya doa-doa yang bisa kita baca kapan dan di mana pun kita mau. Biasanya, doa-doa universal itu dibutuhkan oleh siapa pun dalam keadaan apa pun, misalnya minta kebahagiaan dunia-akhirat, minta ilmu yang bermanfaat, harta yang berkah, mohon ampunan, hidayah, doa untuk orang tua, mohon anak-anak yang saleh, dll.

Nah, doa-doa yang dibahas dalam buku ini adalah jenis yang kedua, yaitu doa-doa universal. Buku yang ada di tangan pembaca ini bisa dibaca kapan saja; selesai shalat wajib, shalat rawatib, tahajud, atau saat mengisi waktu senggang. Pokoknya, kapan saja bisa dibaca.

Ulasan Editorial

Doa yang diiringi dengan kerendahan hati dan penuh harap akan menambah kedekatan diri kita dengan Allah sehingga akan tumbuh rasa cinta kepada-Nya. Kebahagiaan hakiki adalah di saat cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Buku ini akan membantu kita agar bersemangat dalam memanjatkan doa karena dilengkapi dengan materi yang singkat tetapi padat

Ustadzah / Ummu Gaida Mutmainah (Teh Ninih)

Pendahuluan / Prolog

PENGERTIAN DOA
Doa disebutkan dalam Al-Qur’an dengan beberapa makna. Pertama, doa bermakna permintaan, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut, “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan doamu. Sesungguhnya, orang-orang sombong yang tidak mau menyembah-Ku akan masuk Jahanam dalam keadaan terhina.’” (Q.S. Gāfir [40]: 60). Makna Berdoalah kepada-Ku pada ayat ini adalah “memintalah kepada-Ku”.

Kedua, doa bermakna permohonan, seperti dijelaskan pada ayat berikut. “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 55). Pada ayat ini Allah memerintahkan agar kita berdoa dengan merendahkan diri. Ini mengandung makna bahwa doa itu bermakna memohon karena memohon artinya meminta dengan dibarengi perasaan bahwa kita orang yang sangat butuh dan rendah diri di hadapan Allah Swt.

Ketiga, doa bermakna panggilan, hal ini dijelaskan dalam ayat berikut. “Yaitu pada hari ketika Allah memanggilmu dan kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya. Kamu merasa hanya sebentar berdiam di dalam kubur.” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 52). Pada ayat ini, Allah Swt. menggunakan kata yad’uuna yang artinya “memanggil”. Jadi, secara bahasa, doa bisa bermakna “memanggil”.

Keempat, doa bermakna pujian, seperti disebutkan dalam ayat berikut. “Katakanlah Muhammad, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān. Kamu dapat menyeru-Nya dengan nama yang mana saja karena Allah mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmā‘ul husna). Janganlah kamu keraskan suaramu dalam salat dan jangan pula merendahkan nya. Usahakan jalan tengah di antara keduanya.’” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 110). Ayat ini memberi arahan bahwa kalau kita berdoa sebaiknya diawali dengan Asmā’ul Ĥusnā yang merupakan pujian pada Allah Swt. sehingga doa bisa diartikan dengan pujian.

Bertolak dari makna doa yang digunakan dalam Al-Qur’an, bisa kita simpulkan bahwa doa artinya ucapan yang disampaikan dengan kerendahan hati, penuh harapan, yang berisi permohonan atau pujian kepada Allah Swt. dan dilakukan dengan cara-cara tertentu.

Para ahli sepakat bahwa doa adalah ibadah yang tidak menuntut syarat dan rukun yang ketat. Artinya, doa bisa dilakukan kapan dan di mana saja kita perlukan. Doa merupakan ibadah, bahkan intisari pengabdian kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat berikut. Nabi Saw. bersabda, “Doa adalah ibadah.” (H.R. Bukhari). “Doa adalah otak ibadah.” (H.R. Tirmidzi)

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

Pengantar
Pengantar Penulis
Bagian Pertama
     A. Pengertian Doa
     B. Urgensi Doa
     C. Sejarah Doa
     D. Pengabulan Doa
Bagian Kedua
     A. Hubungan Doa dengan Ikhtiar
     B. Hubungan Takdir dengan Ikhtiar
     C. Prosedur Doa
Bagian Ketiga
     A. Doa Untuk Kedua Orang Tua
     B. Doa Tobat
     C. Doa Syukur
     D. Doa Tertimpa Musibah
     E. Mohon Dicintai Allah Swt
.
     F. Mohon Keteguhan Hati
     G. Mohon Kebaikan Dunia & Akhirat
     H. Mohon Keluarga Harmonis
     I. Mohon Keturunan Saleh
     J. Mohon Ilmu Yang Bermanfaat
     K. Mohon Hati Yang Khusu
     L. Mohon Keselamatan Lahir & Batin
     M. Mohon Diberi Hikmah
     N. Mohon Terhindar Dari Syirik
Bagian Keempat
Tentang
Penulis
Daftar Pustaka
Lampiran

Kutipan

IKHTIAR & DOA
Ketika Nabi Ibrahim akan menempatkan istri dan putranya yang masih bayi, yakni Siti Hajar dan Ismail di suatu lembah yang dikenal dengan sebutan Bakka, istrinya bertanya, “Allahu amaraka bi haadza (Apakah ini perintah Allah)?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Mendengar jawaban ini, istrinya berkata, “Kalau begitu aku merasa tenang karena aku yakin Allah tidak akan meninggalkanku.”

Lembah Bakka adalah suatu tempat yang tidak memiliki pepohonan maupun sumber air. Tanahnya gersang, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Allah menggambarkannya dalam Surat Ibrahim (14) ayat 37 dengan ungkapan “bi waadin ghairi dzii zar’in”, artinya “lembah yang tidak ada pepohonan”. Kalimat ini menunjukkan bahwa tempat tersebut secara lahiriah bisa menyebabkan kematian.

Tidak lama setelah Nabi Ibrahim a.s. meninggalkannya, Siti Hajar melihat Ismail menangis kehausan. Hajar berikhtiar mencari sumber air, ia berlari ke bukit Shafa karena terlihat seperti ada genangan air, ternyata ia tidak ada apa-apa, itu hanya fatamorgana. Hajar menoleh ke belakang, ia melihat lagi seperti ada genangan air di bukit Marwah, ia pun berlari menuju tempat itu, ternyata tidak menemukan apa-apa, itu hanya fatamorgana.

Hajar tidak putus asa, ia bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sampai merasakan kelelahan yang luar biasa. Akhirnya, ia kembali menghampiri putranya yang terus-menerus menangis, dan ... Subhanallah, ternyata dari dekat kaki putranya meronta, keluar mata air yang jernih. Sampai sekarang, air itu masih terus mengalir, kita mengenalnya dengan Sumur Zamzam.

Peristiwa ini mengajarkan pada kita bahwa keyakinan akan pertolongan Allah, doa, serta ikhtiar merupakan tiga hal yang tidak terpisahkan. Dalam setiap keadaan, sesulit apa pun keadaan yang kita hadapi, harus selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah Yang Maha Berkuasa akan menolong kita, Allahlah satu-satunya sumber pengharapan dan tempat bergantung kita.

SELAMAT BERDOA
Ketika Iblis menolak untuk sujud pada manusia, “Allah berfirman, ‘Apa yang menghalangimu hingga tidak mau bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.’” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 12)

Allah Swt. mengajukan pertanyaan ini bukan berarti Allah Swt. tidak tahu alasannya, Mahasuci Allah, Allah Mahatahu segala sesuatu. Sesungguhnya dialog ini diungkap dalam Al-Qur’an sebagai proses pembelajaran pada manusia bahwa Iblis membangkang karena dia merasa lebih baik daripada Nabi Adam. Dengan kata lain, dia sombong, takabur, dan angkuh.

Allah Swt. sangat murka pada orang-orang sombong. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga bagi siapa yang di dalam hatinya masih ada kesombongan walau sebesar atom.” (H.R. Muslim). Mengapa? Karena yang paling berhak untuk sombong adalah Allah Swt. Sombong hanya milik Allah, manusia tidak layak untuk memilikinya. “Janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 37)

Congkak, pongah, sombong, angkuh, dan takabur adalah kata-kata yang mengandung arti sama, yaitu menghargai diri secara berlebihan.

SELAMAT BERDOA
Ketika Iblis menolak untuk sujud pada manusia, “Allah berfirman, ‘Apa yang menghalangimu hingga tidak mau bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.’” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 12)

Allah Swt. mengajukan pertanyaan ini bukan berarti Allah Swt. tidak tahu alasannya, Mahasuci Allah, Allah Mahatahu segala sesuatu. Sesungguhnya dialog ini diungkap dalam Al-Qur’an sebagai proses pembelajaran pada manusia bahwa Iblis membangkang karena dia merasa lebih baik daripada Nabi Adam. Dengan kata lain, dia sombong, takabur, dan angkuh.

Allah Swt. sangat murka pada orang-orang sombong. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga bagi siapa yang di dalam hatinya masih ada kesombongan walau sebesar atom.” (H.R. Muslim). Mengapa? Karena yang paling berhak untuk sombong adalah Allah Swt. Sombong hanya milik Allah, manusia tidak layak untuk memilikinya. “Janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 37)

Congkak, pongah, sombong, angkuh, dan takabur adalah kata-kata yang mengandung arti sama, yaitu menghargai diri secara berlebihan.