Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Dzikir Orang-Orang Sukses

Dzikir Orang-Orang Sukses

Seperti doa, dzikir adalah amalan yang sudah sepatutnya selalu membahasi bibir kita. Tidak ada detik, menit, bahkan jam yang seharusnya kita lewatkan dalam satu hari tanpa lantunan dzikir. Kalau hewan dan tumbuhan saja tidak pernah berhenti dari mengumandangkan dan mengagungkan nama-Nya dalam dzikir, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak melakukan hal yang sama.

Sayangnya, terkadang kita tidak terlalu paham dengan dzikir yang dilafazkan. Karenanya dzikir pun kemudian dimaknai tidak lebih dari sekadar bacaan yang kita ucapkan, bukan yang kita pahami dan resapi maknanya. Bukah hanya itu, tata cara dzikir yang benar sesuai dengan yang dicontohkan Rasul pun kerap terabaikan. Tidak heran kalau kemudian nilai ibadah dzikir yang kita kerjakan menjadi berkurang, atau bahkan nol sama sekali.

Untuk itulah buku ini hadir. Di dalamnya akan dibahas tuntas mengenai apa dan bagaimana dzikir itu sebenarnya.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi / M. Arifin Ilham
Editor: Muslik / Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9789793838199
Terbit: Desember 2008, 220 Halaman

Ikhtisar

Seperti doa, dzikir adalah amalan yang sudah sepatutnya selalu membahasi bibir kita. Tidak ada detik, menit, bahkan jam yang seharusnya kita lewatkan dalam satu hari tanpa lantunan dzikir. Kalau hewan dan tumbuhan saja tidak pernah berhenti dari mengumandangkan dan mengagungkan nama-Nya dalam dzikir, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak melakukan hal yang sama.

Sayangnya, terkadang kita tidak terlalu paham dengan dzikir yang dilafazkan. Karenanya dzikir pun kemudian dimaknai tidak lebih dari sekadar bacaan yang kita ucapkan, bukan yang kita pahami dan resapi maknanya. Bukah hanya itu, tata cara dzikir yang benar sesuai dengan yang dicontohkan Rasul pun kerap terabaikan. Tidak heran kalau kemudian nilai ibadah dzikir yang kita kerjakan menjadi berkurang, atau bahkan nol sama sekali.

Untuk itulah buku ini hadir. Di dalamnya akan dibahas tuntas mengenai apa dan bagaimana dzikir itu sebenarnya.

Ulasan Editorial

Menemukan makna kehidupan adalah kebutuhan mendasar sekaligus tertinggi bagi manusia. Apalagi jika makna yang diperoleh adalah kesadaran adanya Sang Maha Kuasa sebagai penentu kehidupan dan hanya kepada-Nya kita kembali. Buku ini menghadirkan makna tersebut, sehingga sesuai bagi siapa saja yang ingin meningkatkan ketakwaan dan memperoleh ketenteraman

Direktur Lentera Insan CDEC & Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia / Hj, Fitriani F. Syahrul, Msi.Psi.

Pendahuluan / Prolog

MACAM-MACAM DZIKIR
Sebelum membahas mengenai macam-macam dzikir, perlu ditekankan di sini bahwa dzikir harus menjadi kepribadian. Artinya, seseorang harus dapat merasakan hikmah-hikmah dzikir seperti hati yang senantiasa ingat kepada Allah, menjadikan dunia sebagai majelis dzikir, bumi dijadikan masjid, rumah-hotel-kantor diposisikan sebagai mushala, meja kerja dan tempat duduk diumpamakan sebagai hamparan sajadah, setiap berbicara bermuatan dakwah, diamnya untuk berdzikir, tarikan napasnya adalah tasbih, hatinya penuh dengan kasih sayang, senantiasa berbaik sangka (khuznudzan) tidak berpikiran sinis dan suka memvonis, telinganya terjaga, hatinya diam-diam berdoa, langkah kakinya jihad, cita-citanya adalah tegaknya syariat Allah, tujuannya adalah hak, strateginya adalah sabar. Kesibukannya adalah asyik memperbaiki diri, tidak tertarik mencari aib orang lain, serta cita-citanya tertingginya adalah syuhada.

Berdasarkan praktiknya, dzikir dibagi menjadi tiga bagian, yaitu,

1.Dzikr bil ‘Amal, yaitu segala perbuatan yang tujuannya untuk mengingat Allah Swt. Misalnya, seorang siswa atau mahasiswa tidak pernah mencontek ketika ujian, karena dirinya tahu bahwa Allah selalu mengawasi setiap saat dan kesempatan.

2. Dzikir Aqliyah, yaitu dzikir orang-orang berilmu (ulil albab) dengan cara tafakur dan tadabur. Mereka menggunakan ilmu yang dimiliki untuk berdzikir kepada Allah. Ini penting karena ketika ilmuwan tidak menggunakan ilmunya untuk berdzikir kepada Allah, maka ilmunya cenderung akan membuat mereka sombong.

3. Dzikr bil Lisan, yaitu setiap ucapan yang dilafalkan dengan tujuan untuk mengingat Allah. Misalnya, ucapan istighfar, takbir, tahmid, dan tahlil setelah selesai shalat fardhu.

4. Dzikir bil Qalbi, yaitu hati yang selalu mengingat Allah ketika muncul lintasan untuk berbuat maksiat. Misalnya, ketika kita berniat untuk mengambil barang orang lain, tetapi tidak jadi melakukannya karena takut terhadap azab Allah Swt.

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.
M. Arifin Ilham - lahir di Banjarmasin, 8 Juni 1969. Mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta Selatan (1983-1987) dan Pesantren Asy-Syafi‘iyah, Jakarta Timur (1987-1989). Kemudian, dia melanjutkan pendidikannya di jurusan Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Nasional Jakarta.

Semasa mahasiswa, dia bergabung dengan salah satu organisasi mahasiswa Islam, yakni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dia juga pernah menjuarai Lomba Pidato Bahasa Inggris tingkat ASEAN dan juara bulutangkis antar-Pondok Pesantren se-Jabotabek. Suami dari Wahyuniati Al-Waly dan ayah dari Muhammad Alfin Faiz, Muhammad Amer Az-Zikra, dan Muhammad Azka Najhan.

Ketua Umum Majelis Az-Zikra ini juga memiliki program di radio Music City 105.45 FM. Selain itu, dia juga masih aktif berdakwah ke pelosok negeri.

Karya yang pernah dihasilkannya antara lain (1) Renungan-Renungan Zikir; (2) Hakikat Zikir; (3) Indonesia Berzikir; (4) Amaliah Zikir, Taubah, dan Tausiah; (5) Arifin Ilham Dai Kota Penabur Kedamaian Jiwa; (6) Arifin Ilham; Tarikat, Dzikir, dan Muhammadiyah; dan (7) VCD: Dzikir Bersama Arifin Ilham.

Daftar Isi

Pengantar Penulis
Dzikir
     A.
Pengertian Dzikir
     B.
Macam-Macam Dzikir
     C.
Keutamaan Dzikir
     D. Objek Dzikir
     E. Majelis Dzikir
     F. Majelis Ilmu
Antara Dzikir, Istighfar, &
Taubat
     A.
Hubungan Dzikir, Istighfar, dan Taubat
     B.
Sayyidul Istighfar
     C.
Rahasia Sebuah Istighfar
     D. Dosa dan Taubat
     E. Imbalan para Pelaku Taubat
Dzikir
& Kesuksesan
     A.
Makna Dzikir dan Sukses
     B. Dzikir untuk Mewujudkan Hati yangTenang
     C. Etika Dzikir
Dzikir Orang-Orang
Sukses
     A.
Dzikir Setelah Shalat Wajib
     B. Dzikir di Waktu Pagi dan Sore
     C.
Dzikir Menjelang Tidur dan Bangun Tidur
     D.
Dzikir ketika Hendak Bertahajud
     E.
Dzikir ketika Berkendaraan
     F.
Dzikir ketika Keluar dan Masuk Rumah
     G. Dzikir Menghadapi Setan
     H. Dzikir untuk Meredam Amarah
     I. Dzikir Masuk Pasar
     J. Dzikir ketika Terlilit Utang
     K.
Dzikir ketika Mendapat Nikmat
     L. Dzikir ketika Ditimpa Kesusahan danKebimbangan
     M.
Dzikir ketika Tertimpa Musibah
     N. Dzikir di Akhir Majelis
     O. Dzikir Istikharah
     P. Dzikir Menghadiri Pernikahan danHendak Bersetubuh
     Q. Dzikir Sebelum dan Sesudah Makan
     R. Dzikir Menghadapi Rasa Takut
Selamat
Berdzikir
Dibalik Kesuksesan
Mereka
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Hubungan Dzikir, Istighfar, dan Taubat
Istighfar adalah bagian dari dzikir. Karena istighfar memiliki makna “menutupi atau memohon ampunan”. Atau lebih jelasnya, makna istighfar adalah “Meminta kepada Allah agar kita ditutupi dari hal-hal yang menyakitkan atau ditutupi dari akibat dosa yang pernah kita lakukan”. Makna tersebut sesuai dengan ungkapan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Istighfar adalah memohon kepada Allah agar kita dilindungi dari keburukan yang telah kita lakukan sebelumnya.” Allah Swt. berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristighfar).” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 33)

Sayyidul Istighfar
Tentang sayyidul istighfar ini, Rasulullah pernah bersabda, “Sayyidul istighfar itu adalah engkau mengucapkan ‘Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtani…’, Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan seyakin-yakinnya, kemudian dia meninggal di hari itu sebelum sore, maka dia ditetapkan sebagai ahli surga, dan barangsiapa mengucapkannya di malam hari dan kemudian dia meninggal sebelum Subuh, maka dia ditetapkan menjadi ahli surga.

Rahasia Sebuah Istighfar
Istighfar yang didasari oleh niat yang ikhlas dan hati yang khusyuk, insya Allah akan melahirkan kekuatan yang mahadahsyat, yang akan berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari, dan ini merupakan rahasia istighfar yang telah dijanjikan oleh Allah dan rasul-Nya.

Dosa dan Taubat
Tak ada seorang manusia pun yang steril dari dosa. Dosa adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah Swt., yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka. Oleh karena itu, kita harus mampu menjauhi dosa. Jika belum mampu, paling tidak, kita bisa meminimalisasinya, agar tidak terjerumus ke dalam neraka.

Imbalan para Pelaku Taubat
Setiap amalan yang kita lakukan akan mendapat imbalan dari Allah Swt., begitu pula dengan taubat. Orang yang melakukan taubat dengan sungguhsungguh akan mendapatkan manfaat dari taubat yang dia lakukan.

Makna Dzikir dan Sukses
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “sukses” mempunyai kesamaan arti dengan “berhasil” dan “beruntung”. Kesuksesan seseorang berarti juga keberhasilan seseorang. Kata “sukses” sering dipakai untuk menunjuk pada seseorang yang telah mampu mencapai yang dicita-citakannya, baik yang bersifat sementara maupun jangka panjang. Tidak ada standar baku untuk menentukan kesuksesan seseorang. Sukses menurut satu orang, belum tentu sukses menurut orang lain. Dengan demikian, indikator kesuksesan terkadang ditentukan seseorang, lembaga, atau yang lainnya. Terkadang juga bergantung pada sudut pandang yang dipakai atau ideologi yang dianutnya. Ada yang menjadikan “otonomi” sebagai ukuran keberhasilan, ada juga yang menjadikan ukuran sukses dari sisi finansial, ada juga yang menjadikan “pemenuhan dan stabilitas emosional” sebagai ukuran sukses, dan sebagainya.

Dzikir untuk Mewujudkan Hati yang Tenang
Dzikir yang sebenar-benarnya adalah dzikir yang di dalamnya terucap kalimat-kalimat yang berkarakter dan mampu menembus ruang qalbu yang paling dalam. Yang bisa membuat hati menjadi lembut penuh cinta dan kasih sayang serta mampu menembus segala hijab dan tabir kebenaran. Hati pun akan selalu hadir dan siap untuk segala hal yang menimpa dengan segala kerelaan dan keridhaan, karena yakin Dia akan selalu menemani. Kalimat dzikir yang terucap dan terhunjam, berkembang mekar merambah seluruh sudut hati, semakin menambah kekuatan iman dan istiqamah. Tiada rasa sedih dan rasa takut yang dapat menyebabkannya terjerumus ke dalam jurang kenistaan. Allah Swt. berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Yuunus [10]: 62)

Etika Dzikir
Berdzikir boleh dilakukan dalam kondisi berdiri, duduk, atau berbaring. Tidak terdapat petunjuk yang dapat menjadi rujukan kalau duduknya itu sambil menggerak-gerakkan anggota tubuh yang lain, apalagi berdiri sambil menari-nari. Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imraan [3]: 191)