Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Menelanjangi Strategi Jin: Jawaban Tuntas Seputar Jin, Setan, dan Ruqyah

Menelanjangi Strategi Jin

Buku ini berisi persoalan supranatural, yakni persoalan kegaiban yang kadang-kadang tidak rasional. Namun, kita harus yakin bahwa persoalan hidup itu ada yang rasional dan ada pula yang irasional. Ada yang natural, tetapi juga ada yang supranatural. Agama Islam mengajarkan hal-hal yang masuk akal, namun mengajarkan pula hal-hal yang ideologis dan irasional. Itulah di antara spesifikasi agama.

Apabila ajaran agama itu semuanya rasional, dia bukan lagi agama tetapi sains, karena ciri spesifik sains adalah harus rasional, bahkan empiris. Sedangkan dalam agama ada komplementasi (saling melengkapi) antara dimensi rasional dengan irasional, dimensi natural dengan supranatural. Itulah sebabnya seorang muslim wajib berpikir rasional, namun juga wajib percaya pada masalah-masalah gaib yang kadang irasional, seperti percaya akan adanya kehidupan di alam barzah, surga, neraka, termasuk masalah jin dan setan.

Buku yang Anda pegang ini lebih fokus menyoroti masalah kegaiban jin dan setan. Jin bukan ilusi tapi realita. Namun, kalau tidak dibimbing dengan ilmu yang bersumber pada Al Quran dan sunah, kepercayaan pada masalah gaib dikhawatirkan malah mengantarkan pada kemusyrikan.

Semoga buku yang sederhana ini bisa menjadi rambu-rambu agar kita tidak tersesat dalam belantara kemusyrikan. Kita patut prihatin, tidak sedikit orang terjerembab dalam kemusyrikan yang berkedok agama, misalnya, bermain debus dengan membaca ayat Al Quran sebagai mantra. Semoga dengan membaca buku ini kita bisa terbebas dari musibah tersebut.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 97938380610
Terbit: Februari 2006, 110 Halaman

Ikhtisar

Buku ini berisi persoalan supranatural, yakni persoalan kegaiban yang kadang-kadang tidak rasional. Namun, kita harus yakin bahwa persoalan hidup itu ada yang rasional dan ada pula yang irasional. Ada yang natural, tetapi juga ada yang supranatural. Agama Islam mengajarkan hal-hal yang masuk akal, namun mengajarkan pula hal-hal yang ideologis dan irasional. Itulah di antara spesifikasi agama.

Apabila ajaran agama itu semuanya rasional, dia bukan lagi agama tetapi sains, karena ciri spesifik sains adalah harus rasional, bahkan empiris. Sedangkan dalam agama ada komplementasi (saling melengkapi) antara dimensi rasional dengan irasional, dimensi natural dengan supranatural. Itulah sebabnya seorang muslim wajib berpikir rasional, namun juga wajib percaya pada masalah-masalah gaib yang kadang irasional, seperti percaya akan adanya kehidupan di alam barzah, surga, neraka, termasuk masalah jin dan setan.

Buku yang Anda pegang ini lebih fokus menyoroti masalah kegaiban jin dan setan. Jin bukan ilusi tapi realita. Namun, kalau tidak dibimbing dengan ilmu yang bersumber pada Al Quran dan sunah, kepercayaan pada masalah gaib dikhawatirkan malah mengantarkan pada kemusyrikan.

Semoga buku yang sederhana ini bisa menjadi rambu-rambu agar kita tidak tersesat dalam belantara kemusyrikan. Kita patut prihatin, tidak sedikit orang terjerembab dalam kemusyrikan yang berkedok agama, misalnya, bermain debus dengan membaca ayat Al Quran sebagai mantra. Semoga dengan membaca buku ini kita bisa terbebas dari musibah tersebut.

Ulasan Editorial

Strategi jin telah terbongkar! Visi-misi, strategi, metode serta sarana yang mereka pergunakan untuk menyesatkan manusia telah diketahui. Sebuah research literature dan case study telah dilakukan untuk mengungkap fakta-fakta tersebut. Hasilnya, penelanjangan sebuah dunia yang selama ini dianggap terlalu menyeramkan untuk diketahui apalagi untuk diungkap kebenaran hakikatnya.

Dalam buku ini, Anda akan diajak "melihat-lilhat" potret kehidupan jin, potret kehidupan iblis dan setan, fenomena kemusyrikan, serta apa dan bagaimana sesungguhnya pengobatan dengan ruqyah. Perlu diketahui, jin itu bukan ilusi tapi realita. Mempercayainya tanpa dibimbing ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunah, dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia pada kemusyrikan.

Ini mungkin tidak akan membuat setan tinggal diam dan memang itulah yang akan selalu dilakukannya. Jadi, tetap waspada!

Khazanah Intelektual / Muslik

Pendahuluan / Prolog

Iman Pada Fenomena Gaib
Umat Islam terbagi pada dua pemikiran ekstrem dalam memahami fenomena jin. Ada yang sangat memercayai keberadaan jin sehingga terjerumus pada kemusyrikan dengan menjadikannya pelindung, bahkan–na‘udzubillah–sampai pada derajat pengabdian padanya. Tentu saja, keyakinan semacam itu bertentangan dengan sistem keimanan dalam Islam yang mengajarkan konsep ketauhidan kepada Allah Swt.

Ada juga sebagian umat Islam yang beranggapan bahwa jin itu khayalan, alias sekadar ilusi. Alasannya, fenomena jin tidak rasional dan tidak bisa dibuktikan secara eksperimental. Sehingga, secara mutlak mereka menolak fenomena jin dan menganggap sesat orang-orang yang memercayainya. Sesungguhnya, anggapan semacam itu juga tidak sejalan dengan sistem keimanan dalam Islam, tidak senapas dengan firman-firman Allah dan sabda Rasulullah Saw.

Apabila orang ateis tidak percaya akan eksistensi jin dan tidak meyakini fenomena gaib, hal itu wajar karena mereka tidak percaya pada informasi yang termaktub dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul. Namun, kalau umat Islam tidak meyakininya dengan alasan tidak rasional dan tidak bisa dibuktikan secara eksperimental, kualitas keimanan mereka terhadap masalah gaib perlu dievaluasi: bukankah seorang mukmin wajib beriman pada masalah gaib?

“Alif laam miin. Inilah Al-Qur’an, tidak ada keraguan dalam kebenarannya. Sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman pada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 1-3).

Ayat tersebut menegaskan bahwa di antara tanda-tanda orang bertakwa adalah orang yang beriman pada masalah gaib. Beriman pada masalah gaib ternyata disebutkan terlebih dahulu, setelah itu baru shalat, kemudian menafkahkan rezeki. Hal itu merupakan gambaran betapa pentingnya beriman pada masalah gaib.

“Sungguh, Aku bersumpah dengan apa yang bisa kamu lihat, dan dengan apa yang tidak bisa kamu lihat.” (Q.S. Al-Haaqqah [69]: 38–39). Ayat itu pun menegaskan adanya fenomena yang tidak bisa diakses dengan perangkat indrawi, alias fenomena gaib.

Dengan demikian, gaib artinya realitas supranatural atau sesuatu yang eksis (ada), tetapi tidak bisa diakses atau dicapai dengan perangkat indrawi.

Bakteri, misalnya. Ia tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi bisa terlihat dengan menggunakan mikroskop. Oleh karena itu, bakteri bukan makhluk gaib karena bisa diakses dengan alat indra. Berbeda dengan malaikat. Malaikat tidak bisa dilihat, baik dengan mata telanjang, menggunakan mikroskop, bahkan teleskop sekalipun. Begitu juga dengan jin. Karena itu, malaikat dan jin disebut makhluk gaib.

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

Kata Pengantar
1. Pendahuluan
     A. Iman pada Fenomena Gaib
     B. Jenis-Jenis Kegaiban
     C. Sifat-Sifat Kegaiban
2. Potret
Kehidupan Jin
     A. Pengertian Jin
     B. Tipe Jin
     C. Agama Jin
     D. Persamaan Jin dengan Manusia
     E. Perbedaan Jin dengan Manusia
     F. Jin Qarin
     G. Penampakan Jin
     H. Pernikahan Jin dengan Manusia
     I. Meminta Pertolongan kepada Jin
     J. Kerasukan Jin (Kesurupan)
     K. Ruh Gentayangan
3. Potret
Iblis & Setan
     A. Pengertian Iblis
     B. Iblis Mendatangi Para Nabi
     C. Pengertian Setan
     D. Visi dan Misi Setan
     E. Strategi Setan
     F. Setan Hadir dalam Mimpi
     G. Budak Setan
4. Fenomena
Kemusyrikan
     A. Pengertian Syirik
     B. Bentuk Syirik
     C. Pengertian Sihir
     D. Hukum Sihir
     E. Klasifikasi Sihir
     F. Menonton Pertunjukan Sihir
     G. Nabi Muhammad Saw. Terkena Sihir
     H. Ramalan Paranormal
5. Pengobatan
Dengan Ruqyah
     A. Pengertian Ruqyah
     B. Macam-macam Ruqyah
     C. Syarat Ruqyah
     D. Bacaan Ruqyah
6. Penutup
     A. Senjata Paling Ampuh
     B. Tindakan Pencegahan
Tentang
Penulis
Daftar P
ustaka

Kutipan

POTRET KEHIDUPAN JIN
Secara etimologis, kata jin berasal dari kata janna yang artinya bersembunyi atau tidak terlihat. Dinamai jin karena tersembunyi dari pandangan manusia. Kata lain yang berasal dari janna adalah janin artinya jabang bayi. Dinamakan demikian karena dia tersembunyi dalam rahim ibu.

Secara terminologis, jin adalah makhluk ruhiyyah (gaib) yang diciptakan Allah Swt. dari api, sebagaimana firman-Nya, “Sungguh, Kami telah menciptakan Adam dari tanah liat kering dan lumpur hitam yang dibentuk. Kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat panas.” (Q.S. Al-Hijr [15]: 26-27). Ayat ini menegaskan bahwa jin diciptakan dari api, sedangkan manusia diciptakan dari tanah.

POTRET IBLIS & SETAN
Apabila kita membicarakan jin, berarti kita harus mendiskusikan pula makhluk yang bernama iblis. Iblis berasal dari kata ablasa artinya membangkang, bisa juga bermakna putus asa, maksudnya putus asa dari rahmat Allah. Untuk memahaminya lebih jauh, kita cermati ayat berikut.

“Ingatlah, ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Mereka bersujud kecuali iblis. Ia dari golongan jin yang membangkang perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan ia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Iblis itu sangat buruk jika dijadikan sebagai pengganti Allah bagi orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Kahf [18]:50)

FENOMENA KEMUSYRIKAN
Syirik adalah parasit keimanan yang paling berbahaya. Allah Swt. mengklasifikasikannya sebagai kezaliman besar, “...Sesungguhnya, menyekutukan Allah itu kezaliman yang besar.” (Q.S. Lukman [31]: 13). Nabi saw. bersabda, “Inginkah aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah.” (H.R. Muslim) “...Sesungguhnya, siapa pun yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 72)

PENGOBATAN DENGAN RUQYAH
Dalam kamus Lisanul Arab disebutkan bahwa ruqyah adalah doa yang digunakan untuk menyembuhkan seorang yang terkena malapetaka. Atau, dengan kata lain, ruqyah adalah doa untuk segala penyakit yang menimpa sesorang, baik penyakit fisik maupun nonfisik. Definisi ini masih bersifat umum, sedangkan definisi ruqyah secara khusus adalah, “Pengobatan yang dilakukan seseorang dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditujukan kepada orang yang terkena sihir atau penyakit.”

Ruqyah merupakan doa atau bacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang diperbolehkan oleh Rasulullah Saw. untuk dibaca atau dibacakan kepada orang yang kerasukan jin atau terkena penyakit, baik penyakit fisik ataupun nonfisik. Tetapi, ruqyah memiliki sejumlah ketentuan yang wajib diperhatikan agar tidak terjerumus ke dalam syirik dan sihir, sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw., “Jauhilah suatu hal yang bisa membawa kehancuran, yaitu syirik (menyekutukan Allah) dan sihir.” (H.R. al-Bazzar dan al-Mundzir)