Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Sudahkah Kudidik Anakku Dengan Benar?: Golden Parenting

Sudahkah Kudidik Anakku Dengan Benar?

Saat ini, kita banyak menemukan buku, slogan, seminar, pelatihan, bahkan iklan tentang smart parenting. Smart parenting dianggap sebagai pola pendidikan dimensi baru yang sangat luar biasa dan bisa menciptakan anak yang cerdas dan mandiri.

Dalam salah satu bukunya yang membahas tentang parenting, Larry J. Koeing membagi smart parenting menjadi dua bagian dasar.

Bagian pertama berkaitan dengan peraturan-peraturan yang harus dijalankan oleh anak-anak serta konsekuensi yang harus mereka tanggung saat terjadi pelanggaran. Bagian kedua berkaitan dengan penanaman keyakinan positif ke dalam diri anak-anak. Sebab, anak-anak yang memiliki pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinan positif tentang diri mereka akan bertindak lebih baik dibandingkan mereka yang mempunyai pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinan negatif tentang diri mereka.

Guna memberikan kesempatan pada orangtua untuk turut serta dalam pembentukan keyakinan anak perihal dirinya, Koeing menyebutkan bahwa keyakinan-keyakinan itu terbentuk melalui beberapa tahapan.

Pertama, memberi informasi positif kepada anak-anak melalui percakapan secara langsung. Kedua, berbicara kepada orang lain mengenai sisi positif anak dan berupaya agar pembicaraan tersebut sampai kepada anak secara tidak langsung. Ketiga, menulis informasi-informasi positif yang diharapkan orangtua bias menjadi sifat anak.

Dalam sebuah pelatihan smart parenting, orangtua akan diajarkan mengenai tahapan-tahapan pembentukan keyakinan tersebut sekaligus kiat-kiat efektif dalam mendidik dan membesarkan anak, seperti memahami psikologi anak, membantu anak belajar, mengatasi anak agresif, mengasah bakat anak agar tampil maksimal, mendidik anak agar memiliki rasa tanggung jawab, serta memilih mainan anak yang mendidik.

Dalam sebuah iklan bahkan disebutkan bahwa hanya smart parent (orangtua cerdas) yang akan melahirkan smart generation (generasi cerdas). Ini semua dimaksudkan untuk memberi awareness (kesadaran) betapa diperlukannya sebuah metode parenting yang excellent yang bukan hanya mendidik anak dari sisi kecerdasan intelektualnya, tetapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial mereka.

Sebagai umat Islam, kita tentu mendambakan metode parenting yang lebih dari sekadar pendidikan untuk kecerdasan intelektual, emosional, maupun sosial anak. Untuk menjadi orangtua muslim yang baik, dibutuhkan lebih dari sekadar smart. Ya, selain mencerdaskan anak secara intelektual, emosional, serta sosial, putra-putri kita pun harus dibekali kecerdasan spiritual. Oleh karena itu, lahirlah Islamic parenting yang dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan orangtua muslim dalam mempersiapkan generasi muslim yang berkualitas.

Apa saja ruang lingkup Islamic parenting tersebut? Isinya lengkap seputar tata cara mendidik anak sejak ia masih dalam kandungan sampai menginjak usia remaja (baligh), bahkan sampai usia pranikah. Beberapa buku Islamic parenting menjelaskan secara gamblang cara mendidik anak dari segi akidah dan akhlak. Ya, karena akidah adalah fondasi utama yang harus dibentuk dalam diri anak agar mereka tidak mudah tercerabut dari akar agamanya. Sedangkan akhlak adalah modal yang akan ia gunakan dalam menjalani kesehariannya saat berinteraksi, baik dalam keluarga maupun dengan lingkungan di sekitarnya.

Lantas, sudah cukupkah Islamic parenting tersebut dijadikan acuan dalam melahirkan generasi Islam yang tangguh? Mungkin ya dan mungkin juga tidak. Tanpa bermaksud menafikan cakupan Islamic parenting seperti yang disebutkan, saya merasakan ada sesuatu yang kurang dari pembahasan Islamic parenting. Seperti juga yang saya rasakan pada smart parenting.

Saya melihat bahwa dalam kedua metode tersebut terdapat dikotomi pemikiran. Sebut saja, smart parenting lebih condong pada pendidikan anak secara duniawi atau materi, sementara Islamic parenting lebih condong pada pendidikan ukhrawi atau spiritual. Saya tidak habis pikir mengapa sebuah pendidikan yang seharusnya holistik (menyeluruh) dipisahkan oleh sekat-sekat tersebut? Menurut saya, untuk melahirkan generasi unggul dibutuhkan lebih dari sekadar smart parenting atau Islamic parenting.

Sedikit mencoba berteori, bagaimana jika kedua metode tersebut digabungkan? Mungkin hasilnya akan lebih dahsyat daripada metode smart parenting dan Islamic parenting yang diterapkan secara terpisah. Bayangkan saja, sebuah metode yang mengedepankan pembinaan intelektualitas berpadu dengan pembahasan berbagai hal seputar anak dari sudut pandang psikologis dan medis, tanpa mengesampingkan pendekatan agama dalam setiap pembahasannya.

Tentu bukan main dahsyatnya bila motede ini berhasil diterapkan pada pendidikan anak. Apalagi bila kemudian disertai dengan satu hal yang tak kalah penting (bahkan mendasari keberhasilan suatu metode parenting) yakni komunikasi efektif yang diterapkan ketika menyampaikan beragam tata nilai pada anak. Tentu hal ini bisa disebut lebih dari cerdas, ini brilian! Konsep ini saya sebut “Golden Parenting”.

Mengapa harus golden parenting? Tidak lain karena untuk mengasah anak yang sedang dalam masa keemasan (golden age) tentu harus dengan pola pengasuhan (parenting) yang keemasan pula. Masa keemasan adalah masa yang memungkinkan anak menyerap semaksimal mungkin informasi, ilmu, serta doktrin dari lingkungan di sekitarnya. Betapa akan menyesalnya orangtua yang tidak memanfaatkan masa-masa keemasan anaknya untuk menanamkan berbagai pendidikan inti, yang salah satunya dan terpenting, yakni agama. Mengingat masa keemasan ini hanya terjadi satu kali (dan tidak akan berulang setelahnya), alangkah bijaksananya jika orangtua memanfaatkan kesempatan tersebut dengan semaksimal mungkin menerapkan pola pengasuhan yang saya sebut golden parenting tersebut.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Muslik / Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9789793838366
Terbit: Maret 2011, 94 Halaman

Ikhtisar

Saat ini, kita banyak menemukan buku, slogan, seminar, pelatihan, bahkan iklan tentang smart parenting. Smart parenting dianggap sebagai pola pendidikan dimensi baru yang sangat luar biasa dan bisa menciptakan anak yang cerdas dan mandiri.

Dalam salah satu bukunya yang membahas tentang parenting, Larry J. Koeing membagi smart parenting menjadi dua bagian dasar.

Bagian pertama berkaitan dengan peraturan-peraturan yang harus dijalankan oleh anak-anak serta konsekuensi yang harus mereka tanggung saat terjadi pelanggaran. Bagian kedua berkaitan dengan penanaman keyakinan positif ke dalam diri anak-anak. Sebab, anak-anak yang memiliki pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinan positif tentang diri mereka akan bertindak lebih baik dibandingkan mereka yang mempunyai pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinan negatif tentang diri mereka.

Guna memberikan kesempatan pada orangtua untuk turut serta dalam pembentukan keyakinan anak perihal dirinya, Koeing menyebutkan bahwa keyakinan-keyakinan itu terbentuk melalui beberapa tahapan.

Pertama, memberi informasi positif kepada anak-anak melalui percakapan secara langsung. Kedua, berbicara kepada orang lain mengenai sisi positif anak dan berupaya agar pembicaraan tersebut sampai kepada anak secara tidak langsung. Ketiga, menulis informasi-informasi positif yang diharapkan orangtua bias menjadi sifat anak.

Dalam sebuah pelatihan smart parenting, orangtua akan diajarkan mengenai tahapan-tahapan pembentukan keyakinan tersebut sekaligus kiat-kiat efektif dalam mendidik dan membesarkan anak, seperti memahami psikologi anak, membantu anak belajar, mengatasi anak agresif, mengasah bakat anak agar tampil maksimal, mendidik anak agar memiliki rasa tanggung jawab, serta memilih mainan anak yang mendidik.

Dalam sebuah iklan bahkan disebutkan bahwa hanya smart parent (orangtua cerdas) yang akan melahirkan smart generation (generasi cerdas). Ini semua dimaksudkan untuk memberi awareness (kesadaran) betapa diperlukannya sebuah metode parenting yang excellent yang bukan hanya mendidik anak dari sisi kecerdasan intelektualnya, tetapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial mereka.

Sebagai umat Islam, kita tentu mendambakan metode parenting yang lebih dari sekadar pendidikan untuk kecerdasan intelektual, emosional, maupun sosial anak. Untuk menjadi orangtua muslim yang baik, dibutuhkan lebih dari sekadar smart. Ya, selain mencerdaskan anak secara intelektual, emosional, serta sosial, putra-putri kita pun harus dibekali kecerdasan spiritual. Oleh karena itu, lahirlah Islamic parenting yang dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan orangtua muslim dalam mempersiapkan generasi muslim yang berkualitas.

Apa saja ruang lingkup Islamic parenting tersebut? Isinya lengkap seputar tata cara mendidik anak sejak ia masih dalam kandungan sampai menginjak usia remaja (baligh), bahkan sampai usia pranikah. Beberapa buku Islamic parenting menjelaskan secara gamblang cara mendidik anak dari segi akidah dan akhlak. Ya, karena akidah adalah fondasi utama yang harus dibentuk dalam diri anak agar mereka tidak mudah tercerabut dari akar agamanya. Sedangkan akhlak adalah modal yang akan ia gunakan dalam menjalani kesehariannya saat berinteraksi, baik dalam keluarga maupun dengan lingkungan di sekitarnya.

Lantas, sudah cukupkah Islamic parenting tersebut dijadikan acuan dalam melahirkan generasi Islam yang tangguh? Mungkin ya dan mungkin juga tidak. Tanpa bermaksud menafikan cakupan Islamic parenting seperti yang disebutkan, saya merasakan ada sesuatu yang kurang dari pembahasan Islamic parenting. Seperti juga yang saya rasakan pada smart parenting.

Saya melihat bahwa dalam kedua metode tersebut terdapat dikotomi pemikiran. Sebut saja, smart parenting lebih condong pada pendidikan anak secara duniawi atau materi, sementara Islamic parenting lebih condong pada pendidikan ukhrawi atau spiritual. Saya tidak habis pikir mengapa sebuah pendidikan yang seharusnya holistik (menyeluruh) dipisahkan oleh sekat-sekat tersebut? Menurut saya, untuk melahirkan generasi unggul dibutuhkan lebih dari sekadar smart parenting atau Islamic parenting.

Sedikit mencoba berteori, bagaimana jika kedua metode tersebut digabungkan? Mungkin hasilnya akan lebih dahsyat daripada metode smart parenting dan Islamic parenting yang diterapkan secara terpisah. Bayangkan saja, sebuah metode yang mengedepankan pembinaan intelektualitas berpadu dengan pembahasan berbagai hal seputar anak dari sudut pandang psikologis dan medis, tanpa mengesampingkan pendekatan agama dalam setiap pembahasannya.

Tentu bukan main dahsyatnya bila motede ini berhasil diterapkan pada pendidikan anak. Apalagi bila kemudian disertai dengan satu hal yang tak kalah penting (bahkan mendasari keberhasilan suatu metode parenting) yakni komunikasi efektif yang diterapkan ketika menyampaikan beragam tata nilai pada anak. Tentu hal ini bisa disebut lebih dari cerdas, ini brilian! Konsep ini saya sebut “Golden Parenting”.

Mengapa harus golden parenting? Tidak lain karena untuk mengasah anak yang sedang dalam masa keemasan (golden age) tentu harus dengan pola pengasuhan (parenting) yang keemasan pula. Masa keemasan adalah masa yang memungkinkan anak menyerap semaksimal mungkin informasi, ilmu, serta doktrin dari lingkungan di sekitarnya. Betapa akan menyesalnya orangtua yang tidak memanfaatkan masa-masa keemasan anaknya untuk menanamkan berbagai pendidikan inti, yang salah satunya dan terpenting, yakni agama. Mengingat masa keemasan ini hanya terjadi satu kali (dan tidak akan berulang setelahnya), alangkah bijaksananya jika orangtua memanfaatkan kesempatan tersebut dengan semaksimal mungkin menerapkan pola pengasuhan yang saya sebut golden parenting tersebut.

Ulasan Editorial

Inti parenting adalah keteladanan orangtua untuk anak-anaknya. Karenanya, orangtua harus banyak membaca buku-buku inspirasi, motivasi, enterpreneurship, serta mengikuti seminar. Orangtua yang lebih cerdas akan memberikan pengasuhan dan pendidikan yang lebih baik bagi anaknya. Dan, buku ini adalah salah saru referensi wajib dalam hal parenting

Ekonom Muslim / Syafii Antonio

Orangtua memiliki kewajiban mendidik dan mempersiapkan anak sedini mungkin. Hal ini harus dipersiapkan sejak saat berhubungan intim, suami-istri sudah harus memiliki komitmen bersama untuk senantiasa berdoa agar dikaruniai anak yang terhindar dari godaan setan

Intelektual Muslim / Prof. Dr. Miftah Faridl

Anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan baik. Dalam Al-Quran disebutkan, Quu anfusakum wa ahliikum naaran. Dengan begitu, tugas orangtua dalam mendidik anak-anaknya tidak akan berhenti sampai mereka diwisuda, tapi sampai ke pintu gerbang surga

Artis / Astri Ivo

Pendahuluan / Prolog

Mendidik Anak dalam Islam, Kecerdasan Spiritual Diprioritaskan
Siapa yang tidak mau memiliki putra-putri yang cerdas? Sepertinya semua orangtua pasti mendambakannya. Anak cerdas berarti anak yang mempunyai masa depan yang cerah dan bisa diandalkan di kemudian hari. Namun begitu, kecerdasan bukan hanya terbatas pada potensi intelektual dan kecerdasan emosional. Kecerdasan spiritual adalah bentuk kecerdasan lain yang harus lebih dikembangkan. Mengapa? Tidak lain karena pengembangan kecerdasan spiritual sejak dini akan memberi dasar bagi terbentuknya kecerdasan intelektual dan emosional pada usia anak selanjutnya. Lemahnya penanaman nilai (spiritual) terhadap anak pada usia dini merupakan awal terjadinya krisis akhlak. Ya, pembentukan akhlak yang terkait erat dengan kecerdasan emosi dan kecerdasan emosi ini tidak akan berarti tanpa ditopang oleh kecerdasan spiritual.

Lebih lanjut, kecerdasan anak pada sisi spiritual bergantung pada orangtua dan keluarganya sebagai tempat belajar pertama (sekolah dan lingkungan sekitarnya merupakan tempat belajar kedua). Jika keluarga (dalam hal ini orangtua) kurang memperhatikan aspek spiritual, dengan sendirinya sulit ditemukan anak yang memiliki kecerdasan spiritual. Tingkatan spiritual pada diri anak pun dapat berbeda-beda bergantung pada pendekatan yang digunakan terhadapnya.

Ya, banyak anak yang melenceng dari ajaran agama karena faktor yang berbeda. Kekurangan kasih sayang dari keluarga, pengaruh pergaulan yang tidak baik, dan kondisi lingkungan sekitar yang kurang kondusif dapat menjadi pemicu hal tersebut. Oleh karena itu, sebagai orangtua, kita harus berhati-hati menjaga anak meski bukan berarti kita menjadi “polisi” bagi mereka. Cukup menjadi sahabatnya yang bila mereka merasa sedih, kita ada untuk memberinya pelukan dan kehangatan. Dan bila mereka merasa senang, kita menjadi luapan kebahagiaannya.

Meski keberadaan sosok ibu tidak terbantahkan sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, hal tersebut tidak berarti ayah tidak harus ikut andil dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Dalam sebuah keluarga, suami-istri harus saling membantu, termasuk dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Kenyataannya, saat ini banyak ibu yang juga merangkap sebagai wanita karier sebagai bentuk aktualisasi talenta yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Di sinilah peran ayah dibutuhkan. Agar pola pendidikan yang diberikan keduanya berjalan seimbang, dibutuhkan komunikasi yang baik demi tercapainya kesepakatan cara atau pola pendidikan yang akan diberikan.

Tentu saja, cara mendidik anak yang ideal dalam Islam adalah dengan mengikuti cara Rasul. Meski demikian, harus ada aturan yang bersifat khusus (bagi keluarga tersebut) yang harus diikuti seluruh anggota keluarga. Orangtua dapat membuat peraturan di rumah dengan melibatkan anak dalam proses pembuatan peraturan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar anak tidak protes terhadap pemberlakuan peraturan tersebut. Beri mereka pengertian mengenai fungsi pembuatan peraturan tersebut.

Kewajiban sebagai seorang muslim (dalam konteks akidah, ibadah, dan muamalah) harus ditekankan sejak usia dini. Adalah kewajiban orangtua untuk memperkenalkan Allah Swt. pada anak di usia keemasannya. Selain itu, ajarkan pula shalat, mengaji, dan ajaran Islam lainnya sebagai pembiasaan agar hidupnya senantiasa berada dalam koridor Islam. Beri anak kesadaran bahwa Allah melihatnya setiap saat. Ajarkan kepada anak untuk menghormati orangtua, menyayangi saudara dan temannya, serta perihal berbagi pada sesama. Kedisiplinan pun perlu dicontohkan oleh orangtua agar anak bisa menghargai waktu.

Anak menjadikan orangtua sebagai contoh atas segala yang dilakukannya. Ia melakukan proses modeling atau belajar sosial dari yang dilihatnya. Bila ia melihat kasih sayang di tengah keluarganya, maka ia akan tumbuh dengan kasih sayang. Namun sebaliknya, bila ia hidup dengan amarah, cemoohan, dan hinaan, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang egois dan rendah diri. Karena itu, orangtua harus berhati-hati dalam menerapkan pendidikan bagi anak.

Dalam menggali kecerdasan intelektual anak, setiap orangtua harus mengetahui potensi dasar yang dimiliki anak dan hal itu berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan tidak bisa diseragamkan. Ada anak yang hebat di bidang akademis, cerdas dalam bersosialisasi, pandai dalam bidang musik, dan lain sebagainya. Sejak kecil, tuntun mereka pada hal-hal yang memang menjadi minat mereka. Selain itu, menumbuhkan minat baca pada anak juga harus ditanamkan sejak dini dengan mengenalkan buku-buku yang sesuai dengan umur mereka demi memperkaya wawasan ilmu yang mereka miliki.

Terakhir, positive thinking mutlak dibiasakan dalam diri anak. Bila anak mengalami sesuatu yang buruk, ajari mereka untuk mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Dengan begitu, mereka akan terbiasa mengambil hal-hal positif dari setiap kejadian dalam hidup mereka. (Disarikan dari hasil wawancara)

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

SUDAHKAH KUDIDIK ANAKKU DENGAN BENAR? (Golden Parenting)
     Pengantar Penulis
     Golden #1 Vision
          A. Mandat Allah untuk Orangtua
          B. Tugas Pokok Orangtua
     Golden #2 Mission
          A. Tiga Misi Penting Pendidikan Anak
          B. Pesan Rasulullah dalam Mendidik Anak
     Golden #3 Communication
          A. Qaulan Sadida
          B. Qaulan Baligha
          C. Qaulan Ma’ruufan
          D. Qaulan Kariiman
          E. Qaulan Layyinan
          F
. Qaulan Maysuura
     Golden #4 Leadership
     Golden #5 Handling
     Daftar Pustaka
     Tentang Penulis
     Suplemen 1
     Suplemen 2
     Suplemen 3

Kutipan

Golden #1 Vision
Ketika dikaruniai anak, tentu setiap orangtua akan mendapatkan banyak sekali ucapan selamat dari keluarga, teman, serta kolega. Namun demikian, berapakah dari mereka yang mewanti-wanti dengan bertanya, “Sudah siapkah Anda menjadi orangtua?”, atau “Sudahkah Anda memiliki konsep pendidikan yang akan diberikan kepada anak?”

Rasanya hal itu jarang dilakukan. Mereka berasumsi bahwa mendidik anak adalah sesuatu yang dapat dipelajari sambil dijalankan, alias learning by doing. Kita pun sebagai orangtua mengira pasti akan bisa melakukannya. Bahkan banyak orang mengira bahwa setelah menikah (dan kemudian mempunyai anak), pasangan suami-istri bisa secara otomatis siap menjadi orangtua yang baik dan cakap.

Jika Anda termasuk orang yang berpikiran seperti itu, maka Anda salah. Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman sekarang, mengemban amanah lewat mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shaleh adalah tugas yang mahaberat.

Jadi, kemampuan menjadi orangtua yang baik dan cakap tidak begitu saja jatuh dari langit, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Mereka yang aktif belajar, insya Allah, memiliki banyak pengetahuan tentang cara mendidik anak dengan baik dan benar. Namun, orangtua semacam itu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan orangtua yang tidak mau belajar. Kebanyakan hanya mengandalkan insting dan berbekal pelajaran dari orangtua mereka dahulu.

Golden #2 Mission
Semua orang pasti punya keinginan agar anak-anaknya shaleh. Secara kodrati, semua orangtua ingin meninggalkan generasi yang lebih baik dari dirinya. Anak merupakan amanah bagi orangtuanya untuk dijaga kesucian batinnya, dididik, dirawat, dan dibimbing dalam menapaki kehidupan yang penuh ujian.  

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka ayah dan ibunyalah (lingkungan terdekat) yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.” (H.R. Abu Daud)

Golden #3 Communication
Crutchfield & Ballachey (1992: 6) menyebutkan bahwa communication is the interchange of  meaning among people. Artinya, komunikasi adalah pertukaran makna di antara orang-orang. Saat berkomunikasi dengan anak, sesungguhnya kita sedang melakukan pertukaran makna. Artinya, kita berusaha menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan hati dengan menggunakan bahasa sebagai simbol yang bisa dipahami oleh anak-anak. Sehingga, diharapkan apa yang disampaikan melalui bahasa itu bisa dipahami oleh mereka. Oleh karena itu, Wood (1997: 40) menegaskan bahwa meaning is the heart of communication. Artinya, pemaknaan adalah jantung atau inti dari komunikasi. Komunikasi dianggap berhasil atau efektif apabila orang yang diajak berkomunikasi memahami makna apa yang kita inginkan.

Mungkin kita banyak bicara pada anak, tetapi jika mereka tidak bisa menangkap makna yang diinginkankan, komunikasi itu dianggap gagal. Banyak orangtua yang mengatakan pada anaknya, “Mama udah sering bicara, tapi kok kamu nggak ngerti juga, ya?”

Kalau ada kasus semacam ini, orangtua jangan dulu menyalahkan anaknya, tetapi harus melakukan introspeksi. Mengapa anaknya sampai tidak mengerti? Boleh jadi, ketidakmampuan anak memahami makna yang disampaikan akibat dari ketidakmampuan orangtua berkomunikasi secara efektif.

Golden #4 Leadership
Orang bijak berkata bahwa seorang bayi yang baru lahir ibarat kertas putih tanpa noda. Orang yang pertama kali menulisi kertas tersebut adalah orang terdekatnya, yaitu orangtua. Bagus tidaknya tulisan yang dihasilkan bergantung kepada mereka, para orangtua. Apakah kertas itu akan diisi oleh coretan tanpa makna ataukah sebuah karya yang indah dan mengagumkan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikit pun dosa orang-orang yang mengikutinya” (H.R. Muslim).

Salah satu isi “tulisan” yang hendaknya orangtua dituangkan dalam kertas putih seorang anak adalah teladan yang baik. Anak akan lebih mudah memahami sesuatu perbuatan jika ia melihat contoh langsung dari orangtuanya. Sederhananya, mereka akan bisa melakukan kebaikan jika melihat orang-orang di sekelilingnya melakukan kebaikan.

Tak dapat dipungkiri, orangtua adalah guru dan orang terdekat yang harus jadi anutan. Orangtua harus bisa menjadi figur ideal bagi anak-anak. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua dituntut untuk bekerja keras memberikan contoh dalam berperilaku. Insya Allah dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Menjadi teladan yang baik bagi anak memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, bila perilaku positif sudah jamak dilakukan dalam kehidupan keseharian, teladan bisa diberikan bahkan tanpa perlu bersusah payah.

Salah satu praktik pemberian teladan yang baik bagi anak adalah kesamaan antara ucapan dan perbuatan yang dilakukan. Artinya, orangtua harus mampu bertingkah laku sama seperti yang mereka katakan kepada anak sehingga si anak langsung mendapatkan gambaran cara tingkah laku yang baik tersebut. Bagaimanapun, perbuatan dan tingkah laku jauh lebih mudah diingat bila dibandingkan hanya sebatas kata-kata.

Golden #5 Handling
Kemandirian pada anak harus dilakukan secara sistematis. Untuk itulah, orangtua perlu mempelajari apa yang disebut dengan tugas perkembangan dan kemandirian serta tanggung jawab merupakan tugas perkembangan anak pra-sekolah. Artinya, pada usia lima tahun, anak harus sudah dapat mandiri dan bertanggung jawab.

Mandiri di sini didefinisikan sebagai mampu melakukan help-self (menolong dirinya sendiri). Hal ini berarti anak baru dapat dikatakan mandiri bila ia sudah mampu mengurus dirinya sendiri. Oleh karena itu, pada tugas perkembangan anak pra-sekolah, anak harus sudah bisa mengontrol sistem pencernaannya, termasuk BAB (buang air besar) dan BAK (buang air kecil). Di samping mengontrol sistem pencernaannya tersebut, anak juga harus sudah mampu membersihkan dirinya. Anak harus sudah mampu berpakaian sendiri, makan sendiri, dan mampu berpisah secara emosional dari ibunya. Dengan kata lain, anak berani mengambil keputusan atas nama dirinya.