Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Kehamilan Yang Didamba: Ikhtiar Menggapai dan Merawat Kehamilan

Kehamilan Yang Didamba

Judul yang tertera di cover depan, secara eksplisit telah menginformasikan pada Anda bahwa buku ini mengangkat tema fertilitas dan infertilitas –atau yang dalam bahasa awam sering disebut dengan istilah “subur” dan “mandul”—dengan penekanan utama pada infertilitas. Tema ini dapat dianggap biasa-biasa saja, tetapi bisa pula menjadi sangat luar biasa. Bila kita melihat masalah infertilitas dari satu sudut pandang, dalam hal pengobatan misalnya, permasalahan ini paling hanya dideskripsikan menjadi dua bagian, yaitu Penyebab Infertilitas dan Cara Mengatasi Infertilitas. Namun, saat permasalahan ini ditinjau dari berbagai aspek, kita akan menemukan banyak masalah yang menyebabkannya sekaligus menyertainya. Terlebih apabila pembahasan masalah tersebut menyertakan analisis yang berdasarkan ajaran Islam (Al Quran dan sunah), tentunya akan semakin terlihat bahwa dalam dunia realita permasalahan tersebut tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.

Misalnya, pasangan yang tak kunjung di­karuniai anak, mungkin pada satu atau dua tahun pertama akan menempuh jalur yang logis dalam upaya mendapatkan kehamilan. Namun, ketika dalam tahun-tahun berikutnya kehamilan tak kunjung tiba, tidak sedikit dari mereka yang terjebak pada praktik-praktik yang sifatnya mistis. Mereka sudah bosan dan tak percaya lagi pada ikhtiar medis.

Pertanyaannya kemudian adalah, “Benarkah pasangan itu tak percaya lagi pada ikhtiar medis?” Ternyata, kalau kita menganalisisnya lebih dalam lagi, pasangan tersebut bukan tidak percaya pada ikhtiar medis, tetapi mereka tengah berada dalam keputusasaan, tidak memahami esensi ikhtiar, dan lebih jauh lagi tidak meyakini Kemahakuasaan Allah Sang Pencipta.

Buku ini menguraikan berbagai permasalahan seputar infertilitas, mulai dari pengertian infertilitas, penyebab, penanganan, apa yang harus dilakukan bila penanganan tersebut membuahkan hasil, upaya merawat kehamilan, berbagai permasalahan pada kehamilan, serta bagaimana mempersiapkan mental dalam menghadapi hal yang terburuk (versi manusia) sekalipun.

Mungkin di antara Anda ada yang bertanya, “Lho, tuntunan Islamnya mana?” Tenang! Anda akan menemukan apa yang dicari dalam lembaran-lembaran buku ini. Anda akan mengetahui bagaimana Al Quran yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah Muhammad saw. belasan abad yang lalu, ternyata sejumlah ayatnya berisi hal-hal yang berhubungan secara langsung dengan dunia kedokteran/medis, termasuk yang berhubungan dengan masalah infertilitas. Bila selama ini kita hanya menafsirkan ayat yang melarang manusia untuk tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum sebagai sebuah larangan semata, sudah saatnya pola pikir demikian kita buang jauh-jauh. Makan dan minum yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang berisiko obesitas (kegemukan). Berbagai penyakit penyerta akan muncul bila seseorang dalam keadaan obesitas. Salah satu penyakit penyerta yang tergolong pada tingkat risiko tinggi adalah penyakit diabetes tipe II. Bila diurai lebih lanjut, penyakit ini ternyata turut ”bertanggung jawab” atas terjadinya impotensi. Saat hal itu terjadi, tentunya penderita tak bisa berharap banyak untuk dapat memiliki anak, karena kemampuan untuk ereksi –sebagai sarana untuk dapat menempatkan sperma dalam vagina—sudah sangat menurun, bahkan menghilang sama sekali. Nah, lho...?!

Infertilitas sering menjadi masalah besar dalam keluarga, terutama untuk kaum wanita karena mereka takut dicerai atau dimadu. Hal ini menyebabkan stres. Stres tersebut dapat membuat kehamilan semakin sulit terjadi karena sistem hormonal yang terganggu. Di samping itu, stres menandakan kurangnya berserah diri (tawakal). Tujuan buku ini adalah menjaga jangan sampai hanya karena kehamilan yang didamba tak kunjung datang, suami-istri malah menjauh dari Islam. Selain juga tentunya menggambarkan bahwa manusia wajib melakukan ikhtiar dan untuk selanjutnya menyerahkan hasil ikhtiar tersebut kepada Sang Pencipta, karena terjadi atau tidaknya suatu kehamilan adalah mutlak kekuasaan Allah.

Kehamilan yang Didamba adalah buku kedua yang kami tulis bersama, setelah buku “Seks Tak Sekadar Birahi”. Anda akan menemukan sejumlah hal yang telah dibahas pada buku Seks Tak Sekadar Birahi dibahas pula dalam buku ini, misalnya saja tentang proses terjadinya pembuahan. Ini tidak dapat kami hindari karena hal tersebut memang harus diuraikan kembali dalam menjelaskan masalah infertilitas.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Hanny Ronosulistyo / Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9791641005
Terbit: Juli 2007, 122 Halaman

Ikhtisar

Judul yang tertera di cover depan, secara eksplisit telah menginformasikan pada Anda bahwa buku ini mengangkat tema fertilitas dan infertilitas –atau yang dalam bahasa awam sering disebut dengan istilah “subur” dan “mandul”—dengan penekanan utama pada infertilitas. Tema ini dapat dianggap biasa-biasa saja, tetapi bisa pula menjadi sangat luar biasa. Bila kita melihat masalah infertilitas dari satu sudut pandang, dalam hal pengobatan misalnya, permasalahan ini paling hanya dideskripsikan menjadi dua bagian, yaitu Penyebab Infertilitas dan Cara Mengatasi Infertilitas. Namun, saat permasalahan ini ditinjau dari berbagai aspek, kita akan menemukan banyak masalah yang menyebabkannya sekaligus menyertainya. Terlebih apabila pembahasan masalah tersebut menyertakan analisis yang berdasarkan ajaran Islam (Al Quran dan sunah), tentunya akan semakin terlihat bahwa dalam dunia realita permasalahan tersebut tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.

Misalnya, pasangan yang tak kunjung di­karuniai anak, mungkin pada satu atau dua tahun pertama akan menempuh jalur yang logis dalam upaya mendapatkan kehamilan. Namun, ketika dalam tahun-tahun berikutnya kehamilan tak kunjung tiba, tidak sedikit dari mereka yang terjebak pada praktik-praktik yang sifatnya mistis. Mereka sudah bosan dan tak percaya lagi pada ikhtiar medis.

Pertanyaannya kemudian adalah, “Benarkah pasangan itu tak percaya lagi pada ikhtiar medis?” Ternyata, kalau kita menganalisisnya lebih dalam lagi, pasangan tersebut bukan tidak percaya pada ikhtiar medis, tetapi mereka tengah berada dalam keputusasaan, tidak memahami esensi ikhtiar, dan lebih jauh lagi tidak meyakini Kemahakuasaan Allah Sang Pencipta.

Buku ini menguraikan berbagai permasalahan seputar infertilitas, mulai dari pengertian infertilitas, penyebab, penanganan, apa yang harus dilakukan bila penanganan tersebut membuahkan hasil, upaya merawat kehamilan, berbagai permasalahan pada kehamilan, serta bagaimana mempersiapkan mental dalam menghadapi hal yang terburuk (versi manusia) sekalipun.

Mungkin di antara Anda ada yang bertanya, “Lho, tuntunan Islamnya mana?” Tenang! Anda akan menemukan apa yang dicari dalam lembaran-lembaran buku ini. Anda akan mengetahui bagaimana Al Quran yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah Muhammad saw. belasan abad yang lalu, ternyata sejumlah ayatnya berisi hal-hal yang berhubungan secara langsung dengan dunia kedokteran/medis, termasuk yang berhubungan dengan masalah infertilitas. Bila selama ini kita hanya menafsirkan ayat yang melarang manusia untuk tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum sebagai sebuah larangan semata, sudah saatnya pola pikir demikian kita buang jauh-jauh. Makan dan minum yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang berisiko obesitas (kegemukan). Berbagai penyakit penyerta akan muncul bila seseorang dalam keadaan obesitas. Salah satu penyakit penyerta yang tergolong pada tingkat risiko tinggi adalah penyakit diabetes tipe II. Bila diurai lebih lanjut, penyakit ini ternyata turut ”bertanggung jawab” atas terjadinya impotensi. Saat hal itu terjadi, tentunya penderita tak bisa berharap banyak untuk dapat memiliki anak, karena kemampuan untuk ereksi –sebagai sarana untuk dapat menempatkan sperma dalam vagina—sudah sangat menurun, bahkan menghilang sama sekali. Nah, lho...?!

Infertilitas sering menjadi masalah besar dalam keluarga, terutama untuk kaum wanita karena mereka takut dicerai atau dimadu. Hal ini menyebabkan stres. Stres tersebut dapat membuat kehamilan semakin sulit terjadi karena sistem hormonal yang terganggu. Di samping itu, stres menandakan kurangnya berserah diri (tawakal). Tujuan buku ini adalah menjaga jangan sampai hanya karena kehamilan yang didamba tak kunjung datang, suami-istri malah menjauh dari Islam. Selain juga tentunya menggambarkan bahwa manusia wajib melakukan ikhtiar dan untuk selanjutnya menyerahkan hasil ikhtiar tersebut kepada Sang Pencipta, karena terjadi atau tidaknya suatu kehamilan adalah mutlak kekuasaan Allah.

Kehamilan yang Didamba adalah buku kedua yang kami tulis bersama, setelah buku “Seks Tak Sekadar Birahi”. Anda akan menemukan sejumlah hal yang telah dibahas pada buku Seks Tak Sekadar Birahi dibahas pula dalam buku ini, misalnya saja tentang proses terjadinya pembuahan. Ini tidak dapat kami hindari karena hal tersebut memang harus diuraikan kembali dalam menjelaskan masalah infertilitas.

Ulasan Editorial

Buku yang dapat dijadikan pegangan wajib bagi pasangan suami istri mudah yang tengah mendambakan atau mungkin tengah menanti kelahiran buah hati pertamanya. Lengkap dan penuh dengan tips singkat yang harus diketahui para orangtua muda

Khazanah Intelektual / Muslik

Pendahuluan / Prolog

Kehamilan Yang Kudamba
“Iihhh… lucunya...,” demikian puji seorang wanita sambil menggendong anak berusia sekitar dua tahun yang memakai baju bermotif bunga-bunga. Sementara itu, si anak merengek dan meronta-ronta. Namun, wanita itu malah menciumi pipinya. “Siapa namanya?” tanyanya sambil mengalihkan anak kecil itu ke pangkuan seorang ibu muda. “Putri,” jawab ibu muda itu ramah, berusaha menutupi keheranannya atas sikap wanita itu, yang tanpa basa-basi langsung menggendong dan menciumi pipi anaknya.

Potongan cerita di atas bukanlah prolog sebuah novel atau iklan sinetron, tapi sebuah contoh ringan tentang tidak terkontrolnya emosi seorang ibu yang tak kunjung memiliki momongan kendati telah menikah lebih dari sepuluh tahun. Padahal, berbagai upaya telah ia lakukan, dari yang logis hingga yang mistis.

Benarlah adanya ketika pasangan yang telah cukup lama menikah, tetapi tak kunjung memiliki anak, akan merasakan kekurangsempurnaan. Terlebih bila faktor ekstern, seperti orangtua ataupun mertua yang begitu bawel bertanya pada anak atau menantu tentang kapan mereka akan “memberikan” cucu. Seolah yang berkuasa menghadirkan makhluk yang bernama manusia adalah anak dan menantu mereka. Malah, dalam berbagai kasus, tak jarang orangtua atau mertua sewot pada anak atau menantu gara-gara belum “dihadiahi” cucu

Permasalahan-permasalahan lain akan muncul apabila pasangan suami-istri tak lagi seiring dan sejalan dalam menghadapi masalah tersebut. Bahkan, akan semakin meruncing ketika masing-masing dari mereka mengikuti ego pribadi dan mengenyampingkan sikap empati. Misalnya saja, karena malu selalu mengatakan belum punya momongan ketika ditanya teman-temannya, suami melampiaskan rasa malu tersebut dengan bersikap kasar kepada istri. Di lain pihak, istri pun mengomel kepada suami karena ibu mertua yang selalu menyindir tentang “ketidakmampuannya”, “Ibumu tuh, dia pikir yang bisa mandul hanya perempuan. Dasar kolot. Dia nggak tahu kalau laki-laki juga bisa mandul.”

Apabila kondisinya sudah seperti itu, permasalahan pokoknya tidak akan terpecahkan, yang muncul justru permasalahan-permasalahan lain karena istri maupun suami akan mempertahankan harga diri masing-masing. Ketika itu pula, keharmonisan rumah tangga mulai goyah. Terlebih, jika masing-masing pasangan bertekad “membuktikan” siapa sebenarnya yang bermasalah. Misalnya, dengan berselingkuh.

Sebenarnya, permasalahan di atas tak perlu terjadi ketika semua pihak –baik istri, suami, maupun orangtua dan mertua—menyadari bahwa anak hanyalah titipan Allah. Ia adalah amanah yang mesti ditunaikan sesuai dengan kehendak Pemiliknya. Namun, permasalahannya justru terletak pada ketidaksadaran akan hakikat tersebut. Ketidaksadaran itu terjadi karena kebanyakan manusia menempatkan nafsu atau keinginan di atas segalanya.

Allah telah menganugerahkan pada diri manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkannya, seperti terdapat dalam Al Quran,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ” (Q.S. Ali Imran 3: 14)

Berdasarkan ayat di atas, wajar apabila manusia memiliki kecenderungan cinta terhadap anak-anak. Namun, keadaan yang wajar ini akan berubah manakala kecintaan tersebut pada akhirnya menyengsarakan dan menimbulkan seabreg permasalahan. Hal ini terjadi karena kebanyakan manusia hanya memerhatikan hal-hal yang sesuai dengan kehendaknya. Bukankah kita pun sering memaknai ayat di atas secara sepenggal saja? Yang kita lihat hanyalah tentang kecenderungan manusia akan apa-apa yang diinginkan, cukup sampai di situ. Kita jarang (atau mungkin tidak mau) memaknai kalimat selanjutnya, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Bukankah dengan demikian, kita selalu mencocokkan ayat-ayat-Nya dengan keinginan kita? Padahal dengan cara seperti itu, akhirnya kita akan menemukan jalan buntu. Jalan buntu yang dibuat sendiri, karena kita berpaling dari jalan keluar yang telah Allah sediakan. Pertanyaan lanjutannya adalah, “Mengapa kita berpaling?” Karena tidak nyambung dengan keinginan kita. Inilah yang menyebabkan kita sering bertindak membabi buta dalam hal ikhtiar menggapai sebuah tujuan –yang dalam hal ini adalah memperoleh anak atau kehamilan—sehingga bila upaya yang logis seperti memeriksakan diri ke dokter tak kunjung berhasil, kita pun beralih kepada hal-hal yang sifatnya mistis.

Ikhtiar apa saja yang dapat dilakukan untuk memperoleh keturunan? Bagaimana bila ikhtiar tersebut telah menunjukkan kemajuan berupa tampaknya tanda-tanda kehamilan? Upaya apa saja yang mesti dilakukan agar kehamilan dapat terjaga dengan baik sehingga sampai pada persalinan yang sehat? Terpisahkah antara upaya medis dan ajaran Islam dalam proses ikhtiar tersebut? Bagaimana bila ikhtiar tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan? Sederet pertanyaan di atas merupakan identifikasi permasalahan yang akan dideskripsikan secara menyeluruh dalam bagian demi bagian buku ini.

Penulis

Hanny Ronosulistyo - Beliau terkenal aktif di segala bidang. Ini terlihat dari penghargaan dan prestasi yang telah diraihnya selama ini.

Masa-masa sekolah di TK, SD, SMP, dan SMA ia habiskan di Bandung. Demikian pula pendidikan S1 dan S2-nya ia dapatkan di Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ia sedang merampungkan kuliah S3-nya di universitas yang sama angkatan 2003. Ia juga pernah kuliah di IMMI Jakarta, lulus tahun 2002.

Hobinya di bidang olahraga seperti judo, tenis, mendaki gunung, tenis meja, juga renang membuat koleksi medalinya tak terhitung. Sebut saja Wanadri (1972), Atlas Medical Pionir (1973), Juara Nasional Judo Kelas Welter (1979-1981), Juara Sea Games, Welter (1979), Kejuaraan Duni Judo Paris (1979), Kejuaraan Dunia Judo Maastricht (1980), Juara Rally Mobil Jakarta Metropolitan (1969), dan masih banyak lagi. Teater Orexas, Remy Sylado (1970), melukis (Prof. Srihadi), fotografi (Perhimpunan Amatir Foto - Bandung), modeling adalah sarana aktualisasi jiwa seninya.

Tidak cukup hanya dengan pendidikan formal, ia pun mengambil kursus atau pelatihan dalam bidang kesehatan, seperti Sport Medicine, Maastricht, Belanda (1980), WHO USG di Universitas ZAGREB, Kroasia (1990), Andrology di National University, Singapura. Keinginannya untuk menjadi yang terbaik membuatnya menyandang gelar lulus terbaik Penataran Judo Nasional (1972), Siswa terbaik TNI AL, Sepawamil III/1979, serta Lulus tebaik Diklatpim th II, 2001 Bandung

Tak heran jika seabreg kegiatannya tersebut kemudian membuatnya aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah bergabung dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga, Lembaga Sosial Mabarrot NU Jabar, pernah menjabat sebagai wakil ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah Jabar (ARSADA) dan koordinator bidang Pengembangan ARSADA pusat, pengurus organisasi kedokteran IDI, POGI, YKI (Yayasan kanker), pengurus organisasi olahraga KONI, PELTI, PASI (Judo), FIKS, pengurus organisasi kemahasiswaan CSB, ketua Judo Institute Bandung (1997-2002), serta Ketua alumni haji SAFARI SUCI (2001).

Dokter yang selera humornya cukup tinggi ini, menikah dengan dr. Hj. Ina Rosalina, Sp. A. M.Kes. pada 5 Agustus 1987, dan dikaruniai tiga orang putra: Ayu Angelina, Putri Asterina, dan Doddy Kusumah.

Pekerjaan formal yang pernah dijalaninya adalah Perwira TNI Angkatan Laut (1979-1983), kuliah sambil kerja FK UNPAD/RS DR HASAN SADIKIN (1983-1988), Kepala Bagian Obsgin RS Majalaya (1988-1999), Direktur PLH Majalaya (1998-1999).

Saat ini, ia menjabat sebagai Dosen LB UNPAD (sejak 1989), Direktur RS Cibabat (2000-sekarang), Ketua ARSADA Jabar (2003-2007 & 2007-2010), Konsultan Obstetri Sosial, pengurus besar Persatuan Judo Indonesia (2007-2012), dan ketua ICMI Orda Kota Cimahi Periode 2006-2011. Di sela-sela kegiatannya, ia masih menyempatkan diri mengisi rubrik Konsultasi Ahli di Majalah Percikan Iman, menjadi penceramah di Yayasan Percikan Iman, Pontren Daarut Tauhid, pernah menjadi konsultan sebuah website: , juga http://www.sexclinique.com. Mengisi acara Buka Pintu di Radio Maragitha FM setiap Selasa pukul 22.00-24.00 WIB.

Buku-buku yang ia tulis antara lain: 1. Seks Tak Sekadar Birahi, Panduan Lengkap Seputar Kesehatan Reproduksi: Tinjauan Islam dan Medis. Ditulis bersama H. Aam Amiruddin, M.Si. 2. Ma, Aku Hamil, Segudang Problematika Hamil di Luar Nikah. Ditulis bersama K.H. Shiddiq Aminullah, Drs., MBA 3. Malapraktik! Tinjauan Secara Islami. Ditulis bersama Prof. Dr. dr. H.M. Nurhalim Shahib; Dr. H. Agus Purwadianto, S.H., DFM., SPF.; K.H. Abdullah Gymnastiar, Ary Ginanjar Agustian, Ust. Abdul Aziz Al Fadhol, S.Th.I 4. dr. Hanny Menjawab Problematikan Realitas Seks 5. Setetes Kearifan dalam Lingkaran Rutinitas (Editor) 6. Ekspresi Keagamaan: Semangat di Tengah Pergulatan Aktivitas (Editor)

Saat ini, beliau pun tengah menulis sejumlah buku yang insya Allah akan segera menjumpai pembaca, antara lain : 1. Membangun Kebersamaan, Menapak Harapan 2. Ketika Putri Kecilku Bertanya Tentang Seks 3. Pernikahan Islami 4. Doa dan Ikhtiar Penyembuhan
Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

Cover
Pengantar Penulis
Daftar Isi
Pembuka
Fertilitas dan Infertilitas
     A. Fertilitas
     B. Infertilitas
Apa yang Mesti Kulakukan?
     A. Upaya yang Dapat Dilakukan Sendiri
     B. Upaya yang Melibatkan Ahli Medis
     C. Mitos dalam Ikhtiar
     D. Peran Doa
Kurasakan Detak Jantungnya
     A. Hal-hal yang Memengaruhi Kesehatan Janin
     B. Perawatan Janin dalam Kandungan
     C. Perangsangan Kecerdasan Janin
     D. Perubahan Selama Kehamilan
Kehamilan Bermasalah
     A. Hamil di Luar Kandungan
     B. Hamil Kosong
     C. Hamil Anggur
     D. Keguguran
     E. Kehamilan di Atas Usia 30 Tahun
     F. Cacat Janin
Sia-Siakah Ikhtiarku?
     A. Antara Ikhtiar, Doa, Tawakal, dan Takdir
     B. Adopsi
Penutup
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Fertilitas dan Infertilitas
Berbicara kehamilan, artinya berbicara fertilitas (kesuburan) dan infertilitas (ketidaksuburan). Kesuburan dan ketidaksuburan ini biasanya selalu diidentikkan dengan wanita, sehingga pada saat Neng Eva yang baru menikah, dua bulan kemudian sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan, para tetangga akan berkata, “Neng Eva subur, ya.” Kalaupun ada sebagian orang yang mengomentari “keberhasilan” suami Neng Eva, biasanya dalam kategori berkelakar. Sedangkan yang menjadi indikator subur atau tidak subur, tetap pada wanita. Kalau saja Neng Eva tak kunjung hamil setelah usia pernikahannya lebih dari satu tahun, orangtua atau pun mertua akan membuat prediksi awal bahwa Neng Eva kurang subur. Prediksi mereka tidak sepenuhnya salah, walaupun tidak selamanya benar karena fertilitas diartikan sebagai kesanggupan untuk membuahi atau dibuahi. Bila demikian, infertilitas pun memiliki makna yang sejajar, yaitu ketidaksanggupan untuk membuahi atau dibuahi. Sehingga, bila seorang istri hamil, ini mengandung arti bahwa suami dan istri sama-sama subur. Pun bila istri tak kunjung hamil, yang patut “dicurigai” tidak hanya istri. Benarlah adanya bahwa permasalahan infertilitas terbesar terdapat pada wanita (sekitar 55%), tetapi kita pun tidak boleh menutup mata bahwa terdapat kemungkinan sebesar 45% lagi, yaitu sekitar 35% permasalahan terdapat pada pria, dan yang 10% adalah ignota (permasalahan yang tidak diketahui, karena baik istri maupun suami sama-sama tidak memiliki masalah dalam hal fertilitas).

Untuk lebih jelasnya, berikut uraian tentang sejumlah kondisi seseorang dikatakan subur atau tidak subur.

Apa yang Mesti Kulakukan?
Kala kehamilan tak kunjung hadir dalam waktu lebih dari satu tahun, suami-istri tentunya akan merasakan kegundahan. Namun, kegundahan itu tidak ada gunanya bila tidak memacu daya ikhtiar serta kemauan untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Ikhtiar yang dimaksud tentunya berupa upaya yang tidak menyimpang dari tuntunan Islam. Hal ini perlu diperhatikan karena biasanya bila seseorang tengah panik, kadang upaya yang dilakukan menjadi tak terarah dan cenderung serabutan. Ibarat seseorang yang terpeleset di tepi tebing, ia akan menggapai apa saja yang ia lihat dan ada di dekatnya, walaupun hanya sejumput rumput liar. Secara logis, jelas ia tahu bahwa rumput itu takkan mampu menopang berat badannya, namun tetap ia gapai juga.

Dalam pencapaian keinginan, seseorang biasanya suka terbawa arus dalam melakukan ikhtiar. Misalnya saja Yani yang hampir dua tahun menikah dan belum juga hamil. Ia minta pada Yadi –suaminya–untuk diantar ke Mbah Yayat. “Kata Ibu Shelly, tetangga kita yang baru pindah minggu kemarin itu, kakak iparnya langsung hamil setelah tiga kali dibawa ke Mbah Yayat. Pengobatannya juga mudah, cuma diurut dan dikasih air putih,” paparnya meyakinkan suaminya.

Beruntung Nunung dan suaminya, Mukhlis. Mereka tetap melakukan ikhtiar dalam koridor yang benar, walaupun belum memiliki momongan setelah lima tahun menikah. Desakan orangtua dan mertua untuk segera “dihadiahi” cucu, mereka hadapi dengan bijak, walau tak jarang Nunung menangis di dalam kamar karena mertuanya cemberut seharian setelah menimang-nimang Akbar –cucunya Pak Ali–tetangga sebelah rumah. Kalau sudah begitu, untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah, ia mengambil wudlu dan shalat dua raka’at, kemudian berdoa meminta jalan yang terbaik bagi dirinya dan juga suaminya. “Ya Allah, aku sangat ingin memiliki anak. Bila itu baik untuk kami, karuniakanlah ia kepada kami ya Allah. Namun, bila tidak, maka Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik menurut ilmu-Mu.” Demikian doanya sambil berurai air mata.

Dari sisi medis, ada sejumlah upaya yang dapat dilakukan dalam rangka ikhtiar mengatasi infertilitas. Upaya ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, upaya yang dapat dilakukan sendiri (berdasarkan arahan dan bimbingan dokter, tentunya). Kedua, upaya yang menuntut campur tangan ahli medis.

Berbicara mengenai ikhtiar memperoleh keturunan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengetes kesuburan. Secara sederhana, hal ini dapat dilihat dari siklus menstruasi. Karenanya, biasakanlah mencatat tanggal menstruasi, dari awal hingga akhir. Ciri dari siklus yang subur adalah siklusnya teratur dengan jumlah hitungan hari sama dari satu periode ke periode selanjutnya. Tentu saja, hal ini tidak lepas dari pengaruh sejumlah faktor. Faktor tersebut bisa berupa faktor fisik maupun psikis. Sakit, kelelahan, stres, atau minum obat-obatan tertentu dapat memengaruhi siklus menstruasi seorang wanita. Hal ini juga tidak boleh luput dalam pencatatan, karena sangat diperlukan untuk mengetahui alasan apabila terjadi kekacauan pada siklus menstruasi. Namun tetap saja, dalam keadaan normal, siklus yang teratur menjadi patokan untuk mengetahui adanya satu sel telur yang keluar pada tiap siklusnya.

Dalam satu siklus subur, sel telur yang dikeluarkan akan hidup selama 24 jam. Apabila tidak terjadi pembuahan dalam waktu 24 jam tersebut, sel telur akan mati, dan dalam waktu 14 hari akan terjadi menstruasi. Jadi, untuk menentukan tanggal subur adalah 14 hari sebelum mens yang akan datang. Kalau seseorang siklus –jarak dari satu siklus ke siklus yang akan datang menstruasinya teratur 28 hari, maka hari subur adalah 28 dikurangi 14 hari. Jadi, masa suburnya jatuh pada hari ke-14, dihitung dari hari pertama mensturasi. Kalau siklusnya 32 hari, masa suburnya adalah 32 dikurangi 14, yaitu hari ke-18. Perhitungan ini hanya dapat dilakukan bila siklus menstruasinya teratur. Yang dimaksud teratur adalah siklusnya sama sekitar 3 – 6 bulan secara berturut-turut.

Salah satu ciri ketidaksuburan adalah menstruasi yang tidak teratur. Pada kondisi seperti ini, pola menstruasi yang terjadi adalah withdrawal bleeding atau perdarahan destrowel. Maksudnya adalah perdarahan yang disebabkan oleh pelepasan sebagian endometrium atau lapisan dalam rahim yang disebabkan karena masalah hormonal.

Banyak sedikitnya jumlah darah mens menggambarkan kondisi di dalam dinding rahim. Makin banyak darah, berarti makin tebal endometriumnya atau rongga rahim yang meluas seperti pada keadaan pembengkakan rahim. Kalau darah yang keluar sedikit, harus diwaspadai, jangan-jangan endometrium terbentuk sangat tipis atau rahim mengecil atau bisa juga ada perlengketan sebagian rongga rahim sehingga sebagian endometrium tak terbentuk. Hal ini menyebabkan janin tidak bisa menempel sehingga kehamilan tidak dapat terjadi. Darah mens yang sedikit juga bisa mengindikasikan ukuran rahim yang kecil. Hal ini dapat terjadi karena perkembangannya tidak sempurna atau karena ada perlengketan-perlengketan yang menyebabkan sel-sel endometrium yang masih berfungsi menjadi sedikit.

Pada wanita, menstruasi dapat dijadikan indikasi kesuburan. Mens yang baik –yang menunjukkan kesuburan—biasanya ditandai dengan sedikit perdarahan pada hari pertama, menjadi banyak pada hari kedua dan ketiga, dan kembali sedikit sampai berhenti pada hari kelima atau ketujuh.

Untuk mengetes kesuburan pada pria, dibutuhkan pemeriksaan kualitas dan kuantitas sperma. Dalam upaya pengetesan ini, diupayakan tiga hari sebelum pengetesan tidak melakukan aktivitas seks sehingga memungkinkan mendapatkan sperma dengan kualitas yang baik dan kuantitas yang memadai.

Kurasakan Detak Jantungnya
“Pa, garisnya dua! Garisnya dua!” Ujar Sri sambil berjingkrak-jingkrak di depan Fikri yang memaksakan matanya untuk terbuka. Maklum, jam dinding di kamarnya masih menunjukkan pukul 3 dinihari, padahal suaminya itu baru pulang kantor pukul 23 dan baru bisa tidur pukul 24.

“Apanya yang dua?” tanya Fikri setengah kesal. “Garisnya, Pa! Saya hamil!” Mata Fikri yang tadinya baru terbuka seperempat, langsung menjadi bundar. Ia pun membuka selimut, melompat dari tempat tidur, dan memeluk istrinya. Tanpa terasa, air mata bahagia menetes dari kedua sudut mata yang makin berbinar. Maklumlah, selama hampir 12 tahun mereka menunggu, akhirnya pagi itu mereka mendapatkan tanda bahwa sang istri positif hamil. Walaupun mereka masih harus menjalani tes ulang di laboratorium untuk lebih meyakinkan bahwa apa yang ditunjukkan oleh test pack itu benar, pagi itu mereka benar-benar bahagia karena yakin bahwa garis dua di test pack tersebut sudah cukup membuktikan sang istri tengah mengandung. Pasalnya, selama ini Sri punya persediaan test pack yang cukup banyak yang selalu ia gunakan setiap kali terlambat menstruasi, dan setiap kali itu pula garis yang ada di test pack selalu satu atau paling-paling satu tebal dan satu tipis, artinya negatif. Belum pernah dua-duanya sama tebal.

Ketika telah mendapati tanda-tanda positif hamil, hendaknya pasangan suami-istri segera memeriksakan diri ke dokter, bidan, atau puskesmas terdekat. Berikut uraian tentang hal-hal yang perlu diketahui pasangan suami-istri dalam rangka merawat janin yang ada dalam kandungan.

Kehamilan Bermasalah
Berita kehamilan tentu saja menggembirakan setiap pasangan suami-istri yang mendambakannya. Akan tetapi, perjalanan mendapatkan sang buah hati kadang tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan ketika tanda kehamilan itu begitu nyata, masih saja ada masalah yang apabila tidak dicermati dengan bijaksana dapat menimbulkan keguguran.

Beberapa hal berkenaan dengan kehamilan yang bermasalah adalah hamil di luar kandungan, hamil kosong, hamil anggur, serta risiko keguguran.

Sia-Siakah Ikhtiarku?
Setelah melewati berbagai ikhtiar dan penantian yang begitu panjang, betapa gembira pasangan suami-istri ketika suatu saat mereka “disuguhi” tanda-tanda kehidupan di dalam rahim sang istri –seperti kisah Sri dan Fikri dalam bagian IV. Namun, tentunya kita pun dapat merasakan kekecewaan pasangan suami-istri yang sampai pada usia lanjut tak kunjung dikaruniai anak, padahal mereka tak pernah berhenti berikhtiar. Dapat pula kita bayangkan betapa luluh lantaknya perasaan suami-istri bila setelah ikhtiar yang dilakukan membuahkan hasil, lantas timbul permasalahan dalam kehamilan sang istri yang berujung pada terenggutnya kehidupan sang janin yang telah sekian lama didamba.