Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Kunci Sukses Meraih Cinta Ilahi

Kunci Sukses Meraih Cinta Ilahi

Selain menciptakan malaikat dari cahaya yang selalu taat pada setiap perintah-Nya, Allah Swt. juga menciptakan setan dari api yang dilengkapi dengan hawa nafsu. Tidak cukup dengan dua makhluk tersebut, Dia kemudian menciptakan manusia dari tanah yang memiliki perpaduan sifat kedua pendahulunya.

Manusia memiliki potensi ketaatan terhadap perintah Allah Swt. seperti halnya malaikat dan pada waktu bersamaan dia juga memiliki potensi pembangkangan terhadap perintah-Nya seperti halnya setan. Perpaduan formula inilah yang kemudian menjadikan manusia naik level hingga setara dengan para malaikat, bahkan lebih tinggi. Formula ini pula yang dapat menjadikan manusia jatuh levelnya hingga setara dengan para jin, bahkan lebih rendah bila dibandingkan dengan binatang sekalipun. Begitulah manusia.

Berbicara mengenai manusia adalah berbicara mengenai kompleksitas. Seorang manusia yang kita nilai buruk, pasti memiliki sisi baik dalam dirinya. Pun seorang manusia yang kita nilai baik, belum tentu tidak memiliki sisi buruk dalam perilakunya. Uniknya, sisi baik dan buruk ini dapat secara ekstrem muncul bergantian dalam rentang waktu yang bisa dikatakan hampir bersamaan.

Di sinilah peran penting malaikat dan setan dalam membisikkan kebaikan dan keburukan dalam hati manusia. Ajakan mana yang akan didengarkan dan dituruti manusia nantinya, itulah yang akan membuatnya mendapatkan pahala ataupun dosa.

Untuk itulah buku ini hadir. Di dalamnya kita akan dikenalkan pada bermacam karakter manusia, cara bersabar dan meraih hikmah di balik ujian, serta cara mensyukuri nikmat sebagai kunci untuk meraih cinta Ilahi.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Dini Handayani

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9793838175
Terbit: Juli 2008, 196 Halaman

Ikhtisar

Selain menciptakan malaikat dari cahaya yang selalu taat pada setiap perintah-Nya, Allah Swt. juga menciptakan setan dari api yang dilengkapi dengan hawa nafsu. Tidak cukup dengan dua makhluk tersebut, Dia kemudian menciptakan manusia dari tanah yang memiliki perpaduan sifat kedua pendahulunya.

Manusia memiliki potensi ketaatan terhadap perintah Allah Swt. seperti halnya malaikat dan pada waktu bersamaan dia juga memiliki potensi pembangkangan terhadap perintah-Nya seperti halnya setan. Perpaduan formula inilah yang kemudian menjadikan manusia naik level hingga setara dengan para malaikat, bahkan lebih tinggi. Formula ini pula yang dapat menjadikan manusia jatuh levelnya hingga setara dengan para jin, bahkan lebih rendah bila dibandingkan dengan binatang sekalipun. Begitulah manusia.

Berbicara mengenai manusia adalah berbicara mengenai kompleksitas. Seorang manusia yang kita nilai buruk, pasti memiliki sisi baik dalam dirinya. Pun seorang manusia yang kita nilai baik, belum tentu tidak memiliki sisi buruk dalam perilakunya. Uniknya, sisi baik dan buruk ini dapat secara ekstrem muncul bergantian dalam rentang waktu yang bisa dikatakan hampir bersamaan.

Di sinilah peran penting malaikat dan setan dalam membisikkan kebaikan dan keburukan dalam hati manusia. Ajakan mana yang akan didengarkan dan dituruti manusia nantinya, itulah yang akan membuatnya mendapatkan pahala ataupun dosa.

Untuk itulah buku ini hadir. Di dalamnya kita akan dikenalkan pada bermacam karakter manusia, cara bersabar dan meraih hikmah di balik ujian, serta cara mensyukuri nikmat sebagai kunci untuk meraih cinta Ilahi.

Ulasan Editorial

Sebuah buku panduan yang wajib dimiliki dalam rangka bertobat dan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Pembahasannya mendalam disertai penjelasan logis yang akan mengajak pembaca mengamini setiap ajakan bertobat dalam buku ini

Khazanah Intelektual / Muslik

Pendahuluan / Prolog

Mengenal Karakter Manusia
Allah Swt. menciptakan manusia dengan struktur yang paling baik. Struktur tersebut terdiri atas jasad dan ruhaniah. Dalam struktur itu, Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang. Dalam ilmu psikologi, kecenderungan itu disebut potensi atau disposisi.

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

Pengantar Penulis
Mengenal Karakter Manusia
     A. Kecenderungan Manusia
     B. Kecenderungan Positif Manusia
     C. Fitrah Manusia
     D. Karakter Manusia
Merawat Qalbu dari Gejolak Nafsu
     A. Macam-macam Qalbu
     B. Fungsi Qalbu
     C. Penyebab Matinya Qalbu
     D. Tingkatan Kualitas Nafsu
     E. Ciri-ciri Hati yang Sehat
     F. Cara Menyucikan Hati
Meraih Cinta Ilahi
     A. Cara Meraih Cinta Ilahi
     B. Konsekuensi Cinta Allah
Pertolongan Allah yang Dinanti
     A. Pertolongan dalam Tinjauan Al-Quran
     B. Cara Mendapatkan Pertolongan Allah
Bertaubat dari Noda Dosa
     A. Penyebab Terjerumus pada Dosa
     B. Cara Bertaubat
     C. Agar Dosa Tidak Terulang
     D. Imbalan Bagi Para Pelaku Taubat
Menuju Pintu Hidayah
     A. Hidayah Al-Wijdan
     B. Hidayah Al-Hawas wa Al-Masya'ir
     C. Hidayah Al-Aqli
     D. Hidayah Ad-Din
Sabar Ketika Ujian Datang
     A. Fondasi Utama
     B. Sabar Menghadapi Ujian
Hikmah Dibalik Ujian
     A. Bentuk-bentuk Ujian Kehidupan
     B. Bejal Dalam Menghadapi Ujian
Syukur Ketika Nikmat Berlimpah
     A. Nikmat Allah yang Harus Disyukuri
     B. Sifat Manusia yang Melahirkan Kufur Nikmat
Agar Amal Saleh Berbuah Surga
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Merawat Qalbu Dari Gejolak Nafsu
Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak kelebihan. Namun, banyak di antara manusia yang lupa sehingga mereka tidak bersyukur. Akibatnya, mereka lalai terhadap tugas yang diemban, yaitu menjadi khalifah di muka bumi. Adapun kelebihan yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut.

Pertama, jasad. Jasad adalah tubuh manusia dalam bentuk fisik. Bentuk manusia maksudnya adalah bentuk mereka secara lahiriah, menempati ruang dan waktu, dan terikat oleh hukum-hukum alam, misalnya suka makan, minum, tidur, serta aktivitas lainnya. Manusia akan mempunyai jasad yang baik atau berkualitas, jika dipelihara dan diberi makanan halal serta bergizi, juga berolahraga secara teratur.

Kedua, akal. Dalam Al-Quran, banyak sekali ayat yang menganjurkan manusia untuk banyak berpikir dan menggunakan akalnya. Akal mendapat penghargaan yang cukup tinggi di sisi Allah Swt. karena merupakan media untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, yakni pengetahuan yang memiliki dua kemungkinan, mungkin benar dan mungkin juga salah. Hal ini bergantung pada caranya menyikapi pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, untuk mengarahkan pengetahuan pada jalan kebenaran, diperlukan media yang mampu menjembataninya. Oleh karena itu, wahyulah satu-satunya media yang akan mampu menjadi jembatan pengetahuan pada jalan kebenaran. Wahyu dianggap sebagai jalan kebenaran yang bersifat absolut atau mutlak.

Ketiga, hati. Dalam Al-Quran, hati memiliki tiga istilah. (1) kabid, dalam bahasa Inggris disebut liver, yaitu organ tubuh yang bersifat konkret; (2) fu’aad yaitu hati yang selalu condong pada kebenaran, walau terkadang ada kecenderungan untuk berbuat buruk; (3) qalbu, yaitu hati yang memiliki dua kecenderungan (cenderung berbuat baik dan cenderung berbuat buruk). Berbeda dengan fu’aad yang lebih cenderung pada perbuatan baik, dalam qalbu selalu ada persaingan memperebutkan perbuatan baik dan perbuatan buruk sehingga qalbu dapat menentukan mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk.

Meraih Cinta Ilahi
Cinta tidak dapat didefinisikan, tetapi dapat dirasakan dalam qalbu. Namun, setiap orang berhak untuk mendefinisikan cinta. Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu, itulah cinta manusia. Menurut Aristoteles, cinta adalah kata yang “magic” (kekuatan yang tidak terlihat).

Moh. Iqbal, seorang penyair dari Pakistan, menyatakan bahwa yang menjadi sumber energi jiwa yang dominan dalam diri manusia adalah cinta. Orang yang tidak punya cinta dan tidak mencintai merupakan orang yang telah gagal menjalani kehidupannya. Ada pemahaman yang rigid (kaku) tentang cinta, yaitu yang diaplikasikan dengan konsep hak dan kewajiban suami istri. Padahal, cinta hanya dapat dirasakan, walaupun tidak terucapkan karena cinta bukan sekadar “sound”.

Ketika mengekspresikan cinta, ada yang sporadis, tidak terstruktur, emosional, refleks, dan reaktif sebagai indikasi dari emosi yang tidak tersalurkan yang menimbulkan banyak konsekuesi negatif dan merupakan awal untuk menuju kehancuran. Emosi atau cinta yang tidak terakomodasi akan terekspresikan ”lewat jalur” atau keluar dari koridor etis, “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli.” (H.R. Abu Daud dan Ahmad)

Menurut Yahya bin Aktsan, cinta buta adalah bayang-bayang keindahan yang melintas dalam diri seseorang lalu hatinya tunduk kepadanya dan rela berkorban karenanya. Sebagian filosof berkata, jika cinta buta itu semakin menguat, orang yang menjalaninya akan bertambah tergetar, gundah, dan ingin mendapatkan apa yang diharapkannya sehingga sering menimbulkan keresahan hati serta kekhawatiran yang mengakibatkan aliran darah pada saat itu terpusat di otak. Hal tersebut menimbulkan gangguan pikiran. Jika pikirannya terganggu, berarti akalnya sudah tidak terkontrol lagi. Dia bisa mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi, berangan-angan apa yang tidak tercapai, akhirnya bisa menjurus pada gila. Dalam keadaan seperti itu, bisa jadi orang yang dimabuk cinta bunuh diri atau mati karena merana.

Adapun makna mencintai secara hakikat (substansi) adalah menginginkan kebaikan orang lain (yang dicintai). Mengekspresikan cinta yang sesungguhnya adalah “memfasilitasi” orang yang dicintai menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Fakta cinta adalah ketika yang dicintai merasa lebih baik dari sebelumnya.

Aplikasi dari mencintai adalah melalui kemampuan memerhatikan, mengamati secara empiris (ilmiah/proses), terencana dan terstruktur terhadap yang dicintai, bersikap terbuka sehingga dapat diketahui visi dan misi kehidupan di antara keduanya. Menikah merupakan keputusan yang valid (rasional) untuk mentrasformasikan cinta. Oleh karena itu, bersikap selektif ketika memilih pasangan hidup dengan didasari saling mencintai karena Allah Swt. (menyamakan visi dan misi) adalah sikap yang sangat tepat.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Cinta yang tumbuh atas dasar kebersamaan tidak akan menimbulkan rasa sesal di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, orang bercinta yang hatinya tidak tersentuh oleh kebersamaan akan mudah berkata, ’Kalau saja saya tidak menjadikan si fulan sebagai kekasih.’ Namun, orang yang mendasarkan cintanya kepada rasa kebersamaan, tidak akan terjadi perpisahan, permusuhan, penyesalan, dan celaan di antara mereka.”

Rumi menambahkan, “Sesungguhnya rasa kebersamaan inilah yang telah menciptakan keimanan dalam diri para sahabat Rasulullah sehingga jiwa mereka tertambat kepada beliau. Rasa kebersamaan ini pula yang mempertebal keimanan orang Islam terdahulu. Banyak sekali pengaruh positif yang timbul dari rasa kebersamaan ini.”

Dalam pengejawantahan cinta, perlu ada kejujuran (sikap terbuka atau realistis). Cinta memerlukan kepercayaan dan kepercayaan sebagai modal dasar untuk sampai kepada tahap cinta, yaitu mencintai karena Allah (cinta atas dasar iman), merasakan aman dan damai. Kedamaian dan keamanan merupakan anugerah dari Allah Swt. Oleh karena itu, bingkailah dengan cinta kepada Allah sehingga langgeng sampai hari kiamat.

Bertaubat dari Noda Dosa
Kata at-tawwab terambil dari akar kata yang terdiri atas huruf ta, wauw, dan ba. Maknanya hanya satu, yaitu “kembali”. Kata ini mengandung makna bahwa yang “kembali” berarti pernah berada pada posisi buruk yang kemudian kembali pada yang baik.

Taubat yang pertama kali dialami oleh manusia adalah penyesalan Adam dan Hawa ketika masih berada di surga yang kemudian diturunkan ke bumi karena melanggar perintah Allah Swt., sebagaimana Firman-Nya, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu (Hawa) surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai dan janganlah kamu dekati pohon ini (Pohon Khuldi) yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 35)

Setelah itu, datanglah iblis, menaburkan bujuk rayunya kepada Adam dan Hawa supaya memakan buah di Pohon Khuldi yang dilarang oleh Allah Swt. Terbawa oleh bujuk rayu iblis, Adam dan Hawa lupa akan larangan itu sehingga mereka diusir dari surga, “Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah Khuldi) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan padamu, Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (Q.S. Al-A’raf [7]: 22)

Setelah mendapat teguran dari Allah Swt., Adam dan Hawa menyesali perbuatannya, kemudian bertaubat, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 37) Dengan ungkapan, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 23)

Menuju Pintu Hidayah
”Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tidak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh-Nya, tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?” (Q.S. Az-Zumar [39]: 36 – 37)

Hidayah adalah kata yang begitu akrab di telinga kita. Hidayah ditujukan kepada mereka yang telah mengubah jalan hidupnya dari kesesatan kepada Islam. Lalu dengan cara apakah seseorang dapat meraih hidayah? Betulkah hidayah bisa mengantarkan ke surga?

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (Q.S. Al-'Araf [7]: 172)

Ayat ini menjelaskan bahwa sejak dalam rahim, manusia telah diberi potensi spiritual.

Potensi ini Allah berikan pada manusia dalam bentuk dialog. Dialog tersebut menggambarkan bahwa tidak ada seorang pun yang tidak dibekali potensi spiritual. Potensi spiritual ini biasa disebut dengan istilah fitrah. Fitrah adalah potensi keagamaan yang hanif (kecenderungan kepada yang benar). Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 30). Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan firah (suci), orangtuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhari)

Fitrah harus diaktualisasikan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, Allah Swt. memberikan rambu-rambu berupa aturan-aturan agama, agar manusia mampu menjaga kefitrahannya. Rambu-rambu yang Allah amanahkan kepada para nabi dan Rasul-Nya disebut hidayah. Hidayah merupakan peta kehidupan bagi manusia agar tidak tersesat dalam belantara kehidupan dunia. Allah Swt. berfirman, “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 54)

Dari ayat tersebut sangatlah jelas bahwa manusia memiliki sumber hukum yang dijadikan tujuan hidup untuk meraih kebahagiaan akhirat, yaitu berupa kitab suci Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Inilah potensi spiritual yang harus kita miliki, yang bisa menyelamatkan diri dari kobaran api neraka.

Sabar Ketika Ujian Datang
“Sesungguhnya sabar yang sejati adalah sabar pada awal datangnya musibah” (H.R. Bukhari dan Muslim). Sabar membuat seseorang selalu merasa tenang dan tenteram, hatinya selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. sehingga orang-orang yang sabar hidupnya selalu merasa berkecukupan. Dia tidak pernah meminta sesuatu yang bukan haknya karena Allah Swt. akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar berupa kenikmatan surga, sebagaimana firman-Nya, “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik (surga) dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl [16]: 96)

Sabar bukan berarti menyerah pada keadaan. Namun, sabar adalah ketabahan hati ketika menjalani ujian kehidupan yang dihadapkan oleh Allah kepada manusia. Hidup adalah perjuangan yang harus dihadapi, bukan untuk dihindari.

Hikmah Dibalik Ujian
Setiap manusia yang hidup di dunia pasti akan mengalami ujian. Jika lulus dalam menghadapi ujian, mereka akan mendapatkan piala surga. Akan tetapi, jika tidak lulus, mereka akan dianugerahi siksa neraka.

Syukur Ketika Nikmat Berlimpah
“Barangsiapa yang tidak mensyukuri (pemberian) yang sedikit, dia tidak akan mensyukuri (pemberian) yang banyak.” (H.R. Ahmad, Baihaqi, dan Abid-Dunya). Nikmat Allah yang diberikan kepada manusia sangatlah luas sehingga kita tidak bisa menghitungnya, bahkan tidak akan pernah terhitung.

Allah Swt. berfirman, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim [14]: 34)

Syukur adalah pengakuan seseorang bahwa sesungguhnya ucapan alhamdulillah seorang mukmin sebagai pernyataan bahwa hanya Allah-lah yang berhak menerima segala puji dan syukur. Hal ini bisa menghilangkan sifat egois dan sikap sombong yang melekat pada diri seseorang. Bagaimana mau sombong, jika dia sendiri menyadari bahwa nikmat dan keberhasilan yang diraihnya selama ini adalah anugerah Allah semata. Allah Swt. memberikan karunia-Nya tanpa batas dan melimpahkannya pun tanpa batas.

Agar Amal Saleh Berbuah Surga
Amal saleh adalah fondasi utama yang akan mengantarkan kita ke surga. Seseorang yang hari-harinya selalu diisi dengan beribadah kepada Allah Swt., niscaya hidupnya akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Lalu, bagaimanakah agar ibadah yang kita lakukan di dunia ini mendapat kenikmatan di surga kelak?