Me too syndrome

Majalah Money&I - Edisi 107
10 Januari 2019

Majalah Money&I - Edisi 107

Dengan sedemikian banyaknya perubahan yang terjadi, seringkali kita melupakan alasan mendasar untuk melakukan suatu tindakan sehingga mudah terkena “me too syndrome.”

Money&I
No.., saya nggak mau punya ‘alis sinchan’, alis saya nggak usah digambar,” demikian protes salah seorang keponakan saya, pada saat kita semua sedang persiapan untuk acara wedding. Saya sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar perbincangan tersebut.

Rupanya, dikarenakan alis tebal (Istilah ponakan saya, seperti ada ulat bulu raksasa diatas mata) sedang “trend”, dan kebanyakan make up artist dalam merias alis ‘hampir selalu’ menggunakan alis tebal sebagai referensi. Alhasil dari “trend” tersebut, banyak alis-alis “Sinchan” menghiasi wajah perempuan Indonesia.

Alis tebal mungkin sedang trending, tetapi kan bukan berarti cocok untuk semua tipe wajah? Ini saya sebut salah satu “me too syndrome. Me too syndrome”, biasa terjadi dalam dunia fashion, salah satu contoh adalah trending celana jeans yang sobek-sobek.

Dengan trending jeans sobek ini, hampir semua generasi milenial bahkan beberapa generasi kolonial (ini istilah yang saya pakai untuk mereka yang diatas usia 40 tahun), memiliki jeans sobek.

Yang kadang sobeknya keterlaluan, sampai terkesan jeannya terkoyak-koyak dan berteriak. Cocok atau tidak cocok, urusan belakangan, yang penting menjadi bagian dari kekinian.

“Me too syndrome”, yang dilakukan dalam ‘level histeris’ (serentak), menciptakan suatu demand yang luar biasa. Apalagi untuk pangsa pasar Indonesia yang demikian besarnya. Bayangkan, berapa banyak extra pekerja yang diperlukan, untuk menyobek-nyobek celana jeans.

Berbagai alat perbengkelan digunakan untuk menciptakan “sobek” yang spesifik, mulai dari alat pengasah, parutan, obeng, pisau, gergaji dan lain sebagainya.

Majalah Money&I dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI