Akun palsuku, zona nyamanku

Tabloid NOVA - Edisi 1652
21 Oktober 2019

Tabloid NOVA - Edisi 1652

Ramainya dunia maya, banyak juga yang isinya pura-pura. Bahkan, tiap media sosial bisa berbeda tujuannya.

NOVA
“Kalau ditanya buat apa bikin akun palsu, aku sih buat kepoin mantan pacarnya suamiku. Kepo aja lihat hidupnya, padahal enggak kenal juga. Setelah kepo, aku sebal sendiri. Emang gitu ya?” tanya seorang ibu muda. “Ih, aku kira cuma aku yang kayak gitu, Bu..” timpal ibu lainnya.

Percakapan semacam ini mungkin pernah kita dengar, atau jangan-jangan kita sendiri yang melontarkannya. Jika iya, tampaknya soal akun palsu dan saling kepo di media sosial sudah jadi sesuatu yang lazim di Indonesia, bahkan dunia. Ya, mengapa tidak, akun di media sosial—entah itu Facebook, Twitter, sampai Instagram—bisa dibuat dengan sangat mudah.

Instagram sampai punya istilah untuk akun palsunya yakni finstagram (fake Instagram atau sering disebut finsta saja). Di akun yang kita sebut palsu ini, pemilik akun tak bisa dikenali, karena ia tidak memberikan identitas aslinya. “Memang sifat internet itu anonymous. Nah karena itu, dia bisa menjadi siapa pun, menggunakan nama apa pun.

Diharapkannya menggunakan nama asli, ya. Tapi banyak dalam praktiknya tidak pakai nama asli,” ujar pengamat media sosial Heru Sutadi. Memang, sebaiknya kita punya satu akun saja dengan nama dan data asli sehingga kalau ada kebutuhan bisa dihubungi. Kecuali kita memang ada kebutuhan untuk punya beberapa akun. Tapi kalau sudah membuat lebih dari satu akun dan sengaja memasukkan data-data palsu, berarti, kan, memang tidak ingin dikenali.

Tabloid NOVA dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI