Festival Lembah Baliem: Perang, refleksi kesuburan

Majalah Peluang - Edisi 103
4 Oktober 2018

Majalah Peluang - Edisi 103

Festival Lembah Baliem (FLB) menyapa pengemarnya tiap Agustus. Atraksi peperangan dan tari-tarian penduduk asli, dengan segala kelengkapan atribut orisinalitasnya.

Peluang
Festival Lembah Baliem (FLB) menyapa pengemarnya tiap Agustus. Atraksi peperangan dan tari-tarian penduduk asli, dengan segala kelengkapan atribut orisinalitasnya. Lokasinya tak mudah dijangkau. Nun di kejauhan lembah di Pegunungan Jayawijaya. Namun, patut diingat, inilah festival etnis tertua di jantung Pulau Papua. Mulai go public sebagai ekspresi budaya sejak 1989, tiga dekade silam.

Pada mulanya, festival ini merupakan atraksi perang antarsuku Dani, Lani, dan Yali. Perang ditampilkan sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan. Tampaknya semacam rasa syukur atas pemberian (hasil) bumi. Festival ini mengekspresikan ajang adu kekuatan antarsuku yang telah berlangsung turun temurun. Dalam formatnya teranyar, sebagai atraksi, tarian perang itu tentulah aman untuk anda nikmati.

Festival Lembah Baliem merefleksikan acara perang antarsuku. Aslinya, perang yang ditandai dengan silang siur anak panah memang inheren dengan kultur masyarakat. Selain tari perang, paket festival menyuguhkan pertunjukan musik tradisional menggunakan pikon, karapan babi, aksi teatrikal, lomba panahan dan lempar tombak.

Pemangku hajat bahkan menyuguhkan permainan Sikoko dan Puradaan, peragaan memasak dengan cara tradisional, dan pameran kerajinan tangan masyarakat suku adat. Nuansa kehidupan zaman batu yang ‘bertolak belakang’ dari peradaban modern juga terasa kental di sana. Para wisatawan, jika berminat, dipersilakan mengenakan pakaian adat macam koteka.

Majalah Peluang dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI