Radar Tegal dapat dibaca gratis dalam masa terbatas di aplikasi smartphone & tablet Android.

Editorial

ini jagat maya diramaikan dengan istilah child grooming atau pelecehan anak via media sosial (medsos). Di sejumlah negara, grooming telah lama marak jadi modus kejahatan asusila yang dilakukan oleh groomer (pelaku grooming). Namun di Indonesia, baru sebulan ini kasus serupa mengemuka, meski mungkin sudah lama terjadi.

Dalam dunia kejahatan anak, grooming adalah membangun komunikasi dengan anak atau remaja, lalu mengeksploitasi dan melecehkan mereka. Ini dilakukan oleh orang yang sebelumnya tak dikenal oleh korban. Kasus ini membuka mata publik, bahwa pelecehan seksual tidak harus terjadi pertemuan secara fisik antara pelaku dan korban. Di dunia maya pun bisa terjadi.

Di Indonesia, dalam sebulan ini dua kasus grooming dibongkar oleh aparat kepolisian di lokasi berbeda. Kasus pertama, di Surabaya, Jawa Timur. Seorang napi Lapas Surabaya ditangkap petugas Direktorat Tindak Pidana Siber Mabes Polri, karena melakukan tindak pidana asusila via media sosial. Korbannya tak tanggung-tanggung, 50 orang. Dia mengoleksi 1.300 foto dan video cabul korbannya.

Kasus kedua, seorang pemuda ditangkap aparat Polda Metro Jaya atas kasus serupa. Korbannya sudah 10 orang rata-rata berusia belasan tahun. Sejak setahun lalu berselancar di dunia maya mencari mangsa. Modusnya, mengajak si bocah berteman di aplikasi game online. Selanjutnya chating via WhatsApp, lalu membujuk si bocah melakukan adegan porno dan direkam. Yang mengerikan, pelaku punya grup WhatsApp yang anggotanya punya ‘hobi’ sama, mengoleksi foto anak-anak dengan pose tak senonoh.

Di era digital ini, anak-anak milenial yang terlahir sebagai generasi Z, memang tidak bisa menghindari gadget alias gawai. Tapi di sisi lain, mereka belum bijak dalam menggunakan gawai, bahkan tak sedikit yang terjebak dalam perangkap dunia maya. Gadget ibarat dua sisi mata pisau, yakni dampak positif dan negatif.

Kasus grooming yang kini mengancam anak-anak, adalah contoh betapa berbahayanya sisi negatif gawai. Celakanya, hanya segelintir orang tua yang paham. Orang tua baru tersadar ketika anaknya sudah menjadi pecandu game. Anak-anak itu tidak bisa disalahkan, karena mereka sejatinya adalah korban. Korban dari sisi negatif gadget, dan korban dari kelalaian orang tua.

Menghindari anak atau keluarga menjadi korban buasnya pelaku grooming, orang tua harus lebih peduli. Orang tua dituntut aktif mengawasi anak ketika mengakses dunia maya, mengetahui konten apa yang kerap dibuka, grup apa saja yang mereka miliki, siapa saja teman mereka di medsos.

Anak dan remaja usia 10 -17 tahun, belum kuat membentengi diri sendiri. Orang tualah yang harus menjadi tembok melindungi dan memproteksi anak. Jadikan anak sebagai sahabat berbagi cerita, beri pemahaman tentang sisi negatif medsos, termasuk modus kejahatan asusila supaya mereka bisa memproteksi diri. Intinya, anak perlu dibekali pengetahuan tentang penggunaan internet secara sehat.

Agustus 2019