Radar Tegal dapat dibaca gratis dalam masa terbatas di aplikasi smartphone & tablet Android.

Editorial

Besok, 17 Agustus 2019, adalah hari dimana seluruh masyarakat akan memperingati. Sebab, besok adalah hari Kemerdekaan RI yang ke-74. Saat perayaan tiba, seluruh aktivitas perkantoran, sekolah, dan lain sebagainya akan diliburkan. Akan ada banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat baik dalam lingkup kecil seperti RT atau RW maupun lingkup besar seperti kota hingga provinsi.

Namun, perayaan hari kemerdakaan tidak dapat dinikmati oleh lima anak yang kini ditahan di Mapolres Tegal. Mereka kini jadi tersangka setelah diduga melakukan pembunuhan terhadap anak di bawah umur lima bulan yang lalu. Yang kasusnya diketahui baru-baru ini, karena telah ditemukannya mayat yang tinggal tulang belulang pekan lalu.

Pembunuhan itu, selain karena ada motif asmara, sebelumnya mereka juga ternyata telah minum-minuman keras. Menyesal mungkin. Sebab, tak tahu kalau yang diperbuat dengan spontan itu akhirnya malah harus berurusan dengan kepolisian. Apalagi pasal yang menjerat itu sangat tinggi. Yakni maksimal hukuman enjara sampai 20 tahun. Mau sampai tua di tahanan, jika itu menjadi keputusan. Rugi jelas masa hidupnya.

Mulane aja petakilan. Kata itu yang pantas buat mereka yang masih muda-muda. Dimana artinya, makanya jangan banyak tingkah. Sebab, jika banyak tingkah, apalagi sampai membunuh, hasilnya pasti akan berurusan dengan hokum. Apalagi membunuh. Menyampaikan perkataan tidak baik dan menyakiti saja bisa berurusan dengan yang berwajib.

Ini kesalahan siapa? Jelas pelaku. Tapi dampak perkembangan teknologi informatika yang tanpa batas dan adanya kesenjangan kemakmuran hingga pergaulan anak muda kurang kontrol dirasa punya andil menjadi penyebab insiden ini terjadi. Seperti yang disampaikan bupati Tegal. Karena itu, orang tua juga perlu mengawasi dengan ketat anak-anaknya.

Agustus 2019