Radar Tegal dapat dibaca gratis dalam masa terbatas di aplikasi smartphone & tablet Android.

Editorial

Masyarakat Indonesia harus pandai dalam menerima informasi. Apakah informasi itu benar adanya atau malah justru bohong atau hoax. Masyarakat harus juga menyampaikan tentang kebenaran-kebenaran yang ada. Jangan sampai, informasi yang belum tentu kebenarannya, malah di-share atau dibagikan ke orang lain.

Kasus rusuh di Papua, ternyata dilakukan diawali dari berita hoax yang diterima oleh masyarakat Papua. Akibat hoax berkonten provokasi terkait insiden pelakuan aparat terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, situasi di Bumi Cendrawasih menjadi memanas dan mencekam. Aksi unjuk rasa berujung kerusuhan terjadi di beberapa wilayah di Papua.

Mabes Polri pun melakukan pengejaran terhadap sejumlah akun media sosial (medsos) yang diduga menyebarkan berita bohong atau hoax, terkait insiden kekerasan mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya. Sebab, hoax tersebut memicu terjadinya kerusuhan di Papua.

Ini memprihatinkan. Di tengah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, tetapi malah terjadi kerusuhan yang dipicu dari informasi yang tidak benar. Ini harus diusut secara tuntas dan adil bagi siapapun yang dianggap melakukan pelanggaran hukum dalam peristiwa ini.

Apa yang dilakukan Tim Direktorat Siber Bareskrim Polri dengan melakukan profiling terhadap sejumlah akun media sosial (medsos) yang diduga menyebarkan berita hoax pemicu kerusuhan di Papua Barat dan Papua, Senin (19/8) lalu harus didukung. Dan akhirnya ada lima akun medsos yang sedang dibidik Polri.

Kita berharap, kejadian tersebut tidak terjadi di daerah daerah lain. Dan Papu yang kondisinya mencekam segera menjadi aman dan nyaman. Pihak kepolisian diharapkan dapat mengamankan kegaduhan yang terjadi.

Agustus 2019