Radar Tegal dapat dibaca gratis dalam masa terbatas di aplikasi smartphone & tablet Android.

Editorial

Kasus pembakaran mobil dinas (mobdin) Bupati Tegal perlu menjadi bahan evaluasi tentang pengamanan untuk orang nomor satu di daerah tersebut. Meskipun Bupati Tegal Umi Azizah dan Wakil Bupati Sabilillah Ardi pada saat Pilkada meraih suara sekitar 70 persen lebih, tetapi ternyata masih ada orang yang dengan sengaja melempar bensin ke mobil dinas yang dipakai bupati perempuan pertama tersebut.

Mungkin banyak pertanyaan soal kejadian tersebut. Ada apa? Apakah bupati Tegal sedang punya musuh, sampai akhirnya ada teror. Atau ada kebijakan yang mungkin tidak disukai oleh orang-orang yang dengan sengaja membakar mobilnya. Pertanyaan-pertanyaan ini wajar adanya. Sebab, sampai sekarang belum diketahui motif pembakaran mobil dinas berplat nomor G 1 F tersebut.

Meski demikian, sambil menunggu pelakunya ditangkap oleh pihak kepolisian, kejadian ini harus menjadi bahan evalausi bagi pemerintah Kabupaten Tegal. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali. Bupati butuh pengamanan. Meskipun datang di lokasi yang menjadi basis pemilih pada saat pemenangan masa lalu.

Yah, menyadari bahwa kebijakan bupati atau pemerintah ada yang pro dan kontra itu menjadi keharusan. Sebab, dimungkinkan ada pihak tertentu yang tidak setuju dengan kebijakannya. Siap dengan segala risiko atau konsekuensi sebagai pelayan masyarakat juga harus dimiliki oleh para pemimpin kita. Tidak gentar. Tidak baperan.

Tidak dendam dengan pelaku pembakaran. Dan itu sudah disampaikan bupati ke publik. Semoga saja demikian. Meskipun saat pelaku ditangkap, mereka juga harus menanggung perbuatan yang telah dilakukan. Sebab, negara ini adalah nengara hukum.

Apapun masalahnya, masyarakat Tegal perlu berdoa agar kejadian serupa tidak terulang. Keamanan dan kenyamanan sangat diharapkan agar Kabupaten Tegal kedepan semakin maju dan sejahtera.

Agustus 2019