Radar Tegal dapat dibaca gratis dalam masa terbatas di aplikasi smartphone & tablet Android.

Editorial

Lesbian, gay, bisexual, and transgender (LGBT) masih haram dibicarakan di Indonesia, meski beberapa negara khususnya di Eropa telah terbiasa dan memaklumi isu LGBT. Namun, meskipun bertentangan dengan kaidah kesehatan, kaidah agama, kaidah budaya dan tidak sesuai dengan Indonesia, pelaku LGBT ternyata banyak di Indonesia.

Di Kota Tegal, ada 236 pria terindikasi masuk kategori Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau yang sering disebut gay. Data itu diambil dari Dinas Kesehatan Kota Tegal yang terjaring dalam Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP). Ironisnya, bukan hanya warga biasa, tetapi virus tersebut terjadi di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru.

Yang lebih ironis lagi, usia dari para pelaku LSL itu dari usia produktif. Yakni berkisar 15 hingga 30 tahun. Yang lebih mencengangkan lagi, dari data itu, sebagian pria yang terindikasi LSL tersebut justru sudah mempunyai anak dan istri.

Jelas ini sangat memprihatinkan. Apalagi selain terungkap kategori LSL, di Kota Tegal ada ratusan penderita HIV/AIDS. Jumlahitu didapat dari hasil penjaringan pemeriksaan HIV/AIDS yang sudah dilakukan hingga Agustus 2019. Jumlahnya, khusus yang berstatus warga Kota Tegal mencapai 313 Orang Dengan HIV AIDS (ODHA).

Ini harus menjadi perhatian bagi masyarakat, khususnya pemerintah Kota Tegal agar dapat meminimalisir pria-pria yang terindikasi LGBT. Perlu penegakan penegakan peraturan tentang rumah kos dan karaoke yang disebut sebagai tempat penemuan dan tempat-tempat lainnya. Selain itu, peraturan ruang terbuka hijau atau taman agar tidak dijadikan sarana mesum.

Agustus 2019