Radar Tegal dapat dibaca gratis dalam masa terbatas di aplikasi smartphone & tablet Android.

Editorial

Terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagian wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak boleh dianggap sebelah mata. Sebab, hingga kini, dampaknya sulit dibendung. Selain itu, kondisi ini ternyata tidak hanya terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sejumlah daerah di Jawa pun rentan dengan peristiwa serupa.

Dampak karhutla ini sangat luas. Selain udaranya akan membahayakan manusia, sejumlah sarana transportasi juga terganggu. Antara lain bandara dan pelabuhan. Akibatnya, Minggu lalu (15/9) sejumlah bandara ditutup. Antara lain, Bandara Kalimarau Berau, Bandara Juwata Tarakan, Bandara APT Pranoto Samarinda, dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Penutupan itu karena perubahan jarak pandang bandar udara sehingga layanan penerbangan harus ditutup. Dimana visibility 500 meter. Sementara standar instrument aproach procedure itu minimal, jarak pandangnya 3500 meter. Ketika bandara ditutup dan maskapai penerbangan batal terbang, perekonomian jelas sangat terganggu. Memang sih, keselamatan harus diutamakan.

Selain transportasi udara, atensi juga diberikan untuk transportasi laut. Nakhoda kapal diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kabut asap yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran. Berlayarpun ditunda jika kondisi kabut asap sangat tebal yang mengganggu jarak pandang.

Dengan kondisi kabut asap ini seluruh nakhoda ataupun operator kapal agar berhubungan dengan stasiun radio pantai terdekat dan melaporkan kondisi cuaca saat berlayar. Agar kondisi itu cepat teratasi, penanggulangan karhutla harus terus dilakukan. Semua harus terlibat. Bukan hanya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI dan Polri juga terlibat aktif.

September 2019