Kolang-kaling enak dalam 4 rasa

Tabloid Saji - Edisi 356
15 Juni 2016

Tabloid Saji - Edisi 356

Selama ini kolang-kaling sudah terbiasa kita konsumsi. Biasanya kolang-kaling menjadi pelengkap dalam satu hidangan, misalnya es campur, es buah, dan beragam hidangan manis lainnya. Namun di tangan Bpk. Fithrawan (43), kolang-kaling justru menjadi hidangan utama. / Foto : Miftakh F. • visual Bayu P.

Saji
Kolang-kaling biasanya naik daun ketika Bulan Puasa. Beragam hidangan, khususnya minuman atau makanan manis, menampilkan kolangkaling sebagai salah satu bagiannya. Sebut saja es buah, es campur, kolak, hingga bubur manis. Nah, di Koling, Tangerang ada sajian kolangkaling dalam 4 rasa, bukan sebagai pelengkap. Usaha yang dirintisnya setahun lalu ini menawarkan kolang-kaling dengan pilihan rasa vanila, frambozen (bunga mawar), melon, dan blueberry. “Rasa dan warnanya saya gunakan dari produk sirop premium, yaitu sirop Sarang Sari yang sudah terkenal sejak tahun 1930-an,” jelas Wawan.

Setiap memberikan rasa, warna pun berbeda sesuai dengan rasanya. Untuk rasa vanila, warna kolang-kaling tidak berubah, tetap putih bersih. Sementara rasa melon ditunjukkan dengan kolang-kaling warna hijau. Bagaimana dengan yang biru? Itulah kolang-kaling rasa bluberi. Sementra yang merah, mewakili kolang-kaling rasa frambozen. Setiap jenis kolang-kaling tersedia dalam 3 jenis kemasan, yaitu kemasan cup 200 gram, 400 gram, dan 1 kilogram. Harganya dibanderol mulai Rp 12 ribu – Rp 55 ribu. “Kolang-kaling ini punya masa konsumsi kira-kira 1,5 bulan,” jelasnya.

Bahan Terseleksi Selain menggunakan sirop premium Sarang Sari sebagai pewarna dan perasa, Wawan juga sangat ketat menyeleksi kolangkaling yang akan diproses menjadi kolang-kaling aneka rasa. Untuk biji kolang-kaling, ia memilih kolang-kaling asal Medan yang punya beberapa keunggulan. Selain ukurannya besar, tekstur kolangkaling medan lebih padat, dan tidak memiliki bintik putih di dalamnya. “Biasanya bintik putih ini teksturnya keras sekali, dan agak mengganggu ketika dimakan,” jelasnya. Tentu saja tidak semua biji kolang-kaling seperti itu. Semuanya tetap harus diseleksi secara manual, satu per satu. Dari total pemakaian kolang-kaling yang berkisar 30 – 60 kilogram per hari, kira-kira 15 – 20 persen tidak memenuhi syarat. Jadi biji kolang-kaling yang diproses sudah terseleksi secara manual.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI