Kue bika Nurmalis, Medan konsisten hadirkan citarasa nostalgia kue bika

Tabloid Saji - Edisi 366
26 September 2016

Tabloid Saji - Edisi 366

Di tengah serbuan makanan modern, makanan tradisional tak tergusur oleh zaman dan tetap digemari. Salah satunya adalah kue bika, kue tradisional yang masih sangat diminati warga Medan. Seorang penjual kue bika yang masih bertahan bahkan mampu meraup laba puluhan juta rupiah per bulan.

Saji
Memanfaatkan area di tepi jalan di kawasan Jalan Amaliun, Medan, Nurmalis (51) dibantu dua putranya, Ilham dan Abdul Daud (16), menggelar dagangannya yakni kue bika. Kue bika merupakan kue tradisional khas suku Minang, yang seiring waktu sangat populer di kota Medan dan sekitarnya. Mulai pukul 11.00 hingga 16.00 WIB, mereka menjajakan kue bika. Namun tak sekadar kue bika yang sudah jadi saja. Proses pembuatan hingga memasak kue bikanya pun dilakukan di tempat. Sehingga pembeli bisa mendapatkan kue bika dalam kondisi yang masih hangat.

Agar lebih otentik citarasanya, proses memasak kue bika dilakukan Nurmalis dengan cara yang masih tradisional. Yakni menggunakan tungku dengan api bawah dan atas yang bahan bakarnya memanfaatkan limbah batok kelapa dan serabutnya. Kue bikanya sendiri menggunakan resep turun temurun keluarga Nurmalis. Bahan bakunya terdiri dari kelapa parut, tepung beras, dan gula pasir yang diaduk rata. Selanjutnya, adonan dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk bundar yang terbuat dari bahan aluminium. Akan tetapi, adonan kue tak langsung menyentuh cetakan aluminium.

Nurmalis terlebih dulu mengalasi cetakan dengan daun pisang. “Seharusnya membuat kue bika dialasi daun waru. Sayangnya, saat ini di Medan sangat susah mendapatkan daun waru. Akhirnya kami ganti dengan daun pisang,” ungkap Ilham. Ternyata, ada alasannya mengapa adonan kue perlu dialasi daun pisang di atas cetakan. “Agar apinya tidak langsung menyentuh kue. Sebab nanti permukaan kue bikanya jadi menghitam seperti gosong. Tidak cantik hasilnya,” imbuh Ilham. Setelah semua adonan memenuhi cetakan yang masing-masing dialasi daun pisang, cetakan disimpan di dalam loyang dan dimasukkan ke dalam tungku sederhana yang dibuat dan dimodifikasi sendiri menggunakan drum bekas.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI