Ade Meutia, meurudu, pidie jaya konsisten memasak secara tradisional, usaha kue

Tabloid Saji - Edisi 369
14 November 2016

Tabloid Saji - Edisi 369

Setiap orang yang melakukan perjalanan darat antara kota Banda Aceh-Medan, pasti akan melintasi wilayah Meurudu, Pidie Jaya, NAD. Nah, di sini terdapat puluhan penjual kue ade yang sayang untuk dilewatkan. Dari sekian banyak penjual, Ade Meutia masih mempertahankan cara tradisional dalam membuat kuenya.

Saji
Kue ade sepintas mirip kue bingka atau bika ambon. Bedanya, kue ade tidak berserat dan teksturnya lebih lembut. Secara kasat mata, kue ade tampak berlemak (berminyak), yang berasal dari bahan utamanya yang menggunakan tepung terigu dicampur santan, telur, dan gula pasir. Di wilayah Meurudu, penganan khas ini cukup mudah ditemui. Mulai dari warung kopi hingga pedagang jajanan di pasar. Seiring waktu, kini kue ade sudah sangat jarang dibuat dengan cara tradisional. Cara yang modern tentu saja untuk menaikkan jumlah produksi dalam waktu cepat.

Namun tak demikian dengan kue ade merek Ade Meutia. Sejak membuka usaha pada 30 tahun silam hingga kini, sang pemilik tetap mempertahankan penggunaan bahan bakar dan cara memasak yang masih sangat tradisional. “Saya meneruskan usaha Ibu, Hj Hamidah. Dulu, ibu saya hanya menerima pesanan saja. Setelah kami pegang kendali, kami buat kue ready stock dan dijual dengan sistem titip jual. Tapi cara memasaknya masih tetap dipertahankan seperti cara ibu saya,” jelasnya. Lepas loyang saat dibeli Untuk memproduksi kue ade, Hj Meutia (55) bersama sang suami, HM Kasim A. Latif (65) memanfaatkan pekarangan rumah mereka. Bahan bakar yang digunakan adalah kayu, tempurung kelapa, dan limbah kelapa.

Menurut Meutia, untuk memproduksi kue ade, setiap harinya ia membutuhkan satu mobil pick-up limbah kelapa untuk dijadikan bahan bakar. “Tempurung dan limbah kelapa dijadikan bahan bakar untuk api atas tungkunya, sementara api bawah saya gunakan kayu bakar,” ucapnya. Sementara untuk membuat adonan kue dilakukan di sebuah bangunan khusus beratap rumbia dekat pekarangan. “Agar pekerja kami tidak kepanasan, karena membuat kue ade ini selalu dekat dengan api. Makanya atapnya tidak dari seng,” ucap Meutia yang memiliki 10 karyawan ini.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI