Menjalajah rasa di pulau dewata

Tabloid Saji - Edisi 375
2 Maret 2017

Tabloid Saji - Edisi 375

Denpasar merupakan tempat bercampurnya budaya asli Bali dan pendatang yang kemudian menetap. Hasil perpaduan budaya dapat ditemukan di dalam sepiring tipat tahu hingga nasi pedas. Namun jangan lupakan kuliner asli yang sudah pasti nikmat di lidah. Sebut saja rujak kuah pindang, tipat catok, plecing, lawar kuwir, dan nasi campur yang halal. Selamat menjelajah rasa di Denpasar! / Foto : Pitoresmi

Saji
Setiap mendengar kata “lawar”, para pelancong yang berasal dari luar Bali pasti langsung membayangkan sajian khas lokal berbahan dasar daging babi dan berbumbu darah.

Namun jangan khawatir, di sini ada lawar yang menggunakan daging mentok dan tanpa darah sama sekali.

Konon Pan (bapak, Red.) Sinar adalah warung lawar kuwir pertama di Denpasar dan sudah ada sejak 1996. Di masa lalu, warung ini sempat berada di Pasar Ketapean, Katrangan, Denpasar. Namun setelah berpindah-pindah beberapa kali, akhirnya Pan Sinar berjualan dihalaman rumahnya. Sejak Pan Sinar tiada, usaha ini dilanjutkan istrinya, Kadek.

Di I Meme (artinya si ibu, red.) kita bisa menikmati sajian khas Bali dengan konsep kafe. Namun begitu, harga makanan yang paling mahal di sini hanya Rp 20 ribu saja. Kedai murahmeriah ini relatif baru, buka sejak November 2016 .

Jika menyusuri Jalan Hasanudin ke arah Lapangan Puputan, ambil jalur kanan dan belok ke arah Jalan Sutoyo menuju RSAD.

Sekitar 100 meter di sebelah kanan, Anda akan langsung melihat penanda dari kayu bergambar wajah seorang ibu setengah baya.

Di situlah I Meme berada.

Meski masih baru, I Meme tergolong kedai yang selalu ramai. Mereka datang untuk bersantai sambil menikmati plecing kangkung, rujak kuah pindang, betutu, atau tipat catok yang rasanya sangat khas.

Warung pinggir jalan yang sudah ada sejak era 1960-an ini dikelola oleh Ngatinah yang berasal dari Malang. Bersama suaminya, ia berdagang tipat (ketupat) tahu di sekitar Banjar Gerenceng, Denpasar. Seiring waktu, pelanggannya kian meningkat jumlahnya hingga akhirnya mereka membangun warung yang bertahan hingga saat ini.

Warung ini tampaknya khusus dibuka bagi mereka yang sering kelaparan saat dini hari. Sebab Men Lotri hanya buka dari pukul 00.00 hingga 03.00 dini hari. Semula warung ini buka lebih awal, mulai pukul 22.00. Namun sejak aplikasi layan antar makanan menggunakan motor, marak di Bali, Men Lotri memendekkan jam operasionalnya menjadi hanya 3 jam saja.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI