Pelesir sukabumi

Tabloid Saji - Edisi 377
2 Maret 2017

Tabloid Saji - Edisi 377

Banyak tempat untuk memanjakan perut saat berada di Sukabumi. Jangan lupa, coba pula santapan legendarisnya yang ikut menorehkan sejarah perjalanan kota ini. Ada mi goreng Mang Udin, sate Pak H. Mamat, cita rasa masakan khas Sunda, serta hangatnya Sekoteng Singapura. / Foto : Star

Saji
Musim hujan dan cuaca dingin di Sukabumi, sangat tepat dihalau dengan minuman hangat seperti sekoteng. Di Sukabumi ada warung sekoteng yang laris yakni Sekoteng Singapura. Kendati di warung ini hanya menyediakan menu minuman, namun pembelinya selalu tampak berjubel.

Untunglah sang penjual cukup gesit menata kacang hijau, kolang-kaling, hanjeli (jali), pacar cina, dan air gula di dalam mangkuk. Semua bahan disiram air jahe panas, yang menguarkan aroma jahe dan pandan dari dalam dandang besar di atas kompor menyala.

“Ada orang yang hanya suka jahe, tapi ada juga yang suka aroma pandan. Jadi saya sediakan dua pilihan rasa air jahenya,” tutur Samsul Komar (38) pemilik warung.

Menyaksikan orang membakar sate, bisa membuat perut jadi tak sabar minta diisi. Nah, warung sate yang satu ini sangat tepat disinggahi di saat jam santap siang. Pembeli yang datang boleh memilih sendiri daging kambing yang ingin dibakar. “Biasanya yang seperti itu kalau beli sate dalam hitungan kiloan,” tutur Laksmi (41), pemilik waung Sate Haji Mamat yang sudah ada sejak 1976.

Aktivitas di warung makan Mie Goreng Mang Udin tampak begitu sibuk. Sampaisampai penjualnya perlu menyiapkan dua kompor gas berjejer demi membuat pelanggan tak perlu lama mengantre. Saking larisnya, per harinya warung ini membutuhkan lebih dari 60 kg mi dan 40 kg daging ayam.

Di Sukabumi, warung Mie Goreng Mang Udin memang sangat populer. “Mie Mang Udin sudah ada sejak 1978,” kata Dodi (54), pemilik warung.

Saat berkunjung ke Sukabumi, tentu tak afdal bila belum menikmati aneka sajian khas Sunda.

Salah satu yang menyediakan menu khas Sunda cukup otentik adalah Kedai Sari Raos. Kendati kedai ini sangat sederhana, namun cita rasa masakannya sungguh menggugah selera.

Sri (62), pemilik kedai, setiap hari menyediakan masakan rumahan yang berbeda setiap harinya.

“Agar pelanggan tidak bosan. Jadi mereka seperti sedang bersantap di rumah sendiri,” ungkap Sri yang membuka kedainya sejak 7 tahun lalu.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI