Alkuturasi budaya yang meninggalkan cita rasa kuliner unik

Tabloid Saji - Edisi 380
5 Juni 2017

Tabloid Saji - Edisi 380

Masa jaya peradaban di kota tua Sei Rampah, Serdang Bedagai, kini telah musnah. Di zaman Kesultanan Melayu, sesuai namanya yang berarti sungai rempah, kawasan ini dikenal dengan jejak sungainya yang dijadikan akses transportasi untuk mengangkut rempah. Namun peradaban kulinernya tetap ada dan telah mengalami akulturasi dari berbagai budaya. Unik, dengan cita rasa otentik. / Foto : Sita Rahman

Saji
Rumah makan sederhana yang kini dikelola oleh istri mendiang pemilik, Ani (30), menyajikan menu ayam penyet, burung goreng, nasi goreng, dan aneka gorengan khas seperti risoles dan kue cincin. Di antara beberapa menu yang ditawarkan, burung goreng yang paling digemari. Jenis burung yang dijual adalah belibis.

Sebelum digoreng, belibis diungkep dengan bumbu kuning agar rasa gurihnya lebih berasa. Per ekor belibis goreng harganya Rp 13 ribu. Jika ditambah sepiring nasi, tinggal menambah Rp 4 ribu. Uniknya, belibis goreng disajikan bersama sambal pedas segar, yang tampaknya tak ada di tempat lain, yakni sambal nanas. Bisa jadi sambal nanas inilah yang menjadi kunci larisnya rumah makan milik (alm.) Bang Yusuf yang buka sore hingga malam ini.

“Sambalnya terbuat dari irisan buah nanas. Selain lebih segar, nanas juga bisa mengurangi rasa dan aroma amis dari daging burung,” tutur Ani. Bumbu sambalnya terdiri dari cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kecap manis, dan gula merah. Semua bumbu direbus lalu diblender dan dicampurkan dengan irisan buah nanas segar.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI