Menguatkan kembali filosofi sego gudang & kembulan

Tabloid Saji - Edisi 391
9 Agustus 2017

Tabloid Saji - Edisi 391

Festival kuliner tradisional Klaten, Jawa Tengah / Foto : visual michael w. a.

Saji
Ya, bagi masyarakat Klaten, gudangan atau menyantap sego (nasi) gudang cenderung disantap sebagai menu sarapan. Kuliner ini seolah menjadi teman setia masyarakat Kota Klaten, sebelum memulai aktivitas di pagi hari. Tak heran bila penjual gudangan sudah bersiap menyambut para pelanggannya sejak pukul 05.30 WIB.

Dan biasanya, gudangan sudah habis sebelum pukul 08.00 WIB. Meski sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Klaten, namun hingga saat ini ternyata gudangan bisa dikatakan masih kalah ngetop bila dibandingkan keberadaan keberadaan sego liwet (nasi liwet) atau gudeg.

Maka dari itu, untuk tetap melestarikan warisan budaya kuliner asli Klaten, dirasa penting untuk mengangkat kuliner tradisional tersebut. Salah satunya melalui Festival Kuliner Tradisional Klaten, yang baru saja dilaksanakan pada Juni lalu di Alum Alun Klaten. “Gudangan atau nasi gudang adalah cermin dari sebuah kesederhanaan.

Makanan itu tidak sulit dibuatnya alias sederhana. Kita hanya perlu menambahkan racikan sayuran dan bumbu parutan kelapa dan kedelai goreng yang ditumbuk ke dalam nasi. Begitu sederhana, namun kita bisa menikmatinya,” tutur Nick Nurahman, pemrakarsa Festival Kuliner Tradisional Klaten 2017.

Nasi gudang menjadi simbol kesederhanaan orang Jawa. Memiliki filosofi dari kehidupan masyarakatnya yang tidak neko-neko dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa, dalam menjalani kehidupan. Menu sederhana ini pun bisa dinikmati siapa saja. Tak hanya masyarakat bawah, tapi juga kalangan atas bisa ikut menyukainya.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI