Tambak udang wajib dilengkapi Ipal

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3739
19 Februari 2018

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3739

Tambak udang. / Foto : kkp.co.id

Sinar Tani
Budidaya udang hingga saat ini masih menjadi pilihan usaha yang menjanjikan. Agar usaha budidaya udang bisa berkelanjutan, pemerintah mewajibkan setiap pertambakan udang melengkapi diri dengan instalasi pengolahan air limbah (Ipal).

Dirjen Perikanan Budi­daya Kementerian Kelaut­an dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto meng­ungkapkan, usaha budi­­daya, khususnya udang harus berbasis keberlanjutan. Artinya, setiap petambak udang harus menjaga keberlanjutan di lingkungannya dan usahanya sendiri.

“Sudah ada kesepakatan dengan Srimp Club Indonesia (SCI) untuk melakukan usaha budidaya udang berkelanjutan. Karena itu, ke depan semua petambak udang wajib membuat Ipal,” kata Slamet Soebjakto, di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Slamet, Ipal nantinya akan masuk dalam penilaian sertifikasi cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Bahkan nilai Ipal bobotnya akan diperbesar. Karena budidaya udang harus berkelanjutan, maka budi­daya udang akan difokuskan di kawasan budidaya berbasis klaster (kelompok).

“Dengan sistem klasterisasi ini diharapkan setiap usaha budidaya udang mudah dikelola dan dikontrol,” kata Slamet Soebjakto. Ia menekankan, usaha budi­daya udang yang berkelanjutan ke depan ada muatan biosekuriti-nya. Sehingga, lokasi budidaya udang ada tanaman mangrove-nya.

Benih (benur) yang ditebar pun bebas penyakit dan harus menggunakan manajemen penebaran yang benar supaya usaha budidaya udang tak over produksi. Selain menerapkan biosekuriti, usaha budidaya udang perlu pula untuk menerapkan pengaturan suplai dan pembuangan air. Artinya, petambak udang harus membuat bak-bak reservoir, pembuangan air dan Ipal.

Tabloid Sinar Tani dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI