Belgian Blue, asa baru mengejar swasembada daging

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3743
19 Maret 2018

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3743

Pemerintah berupaya menghilangkan ketergantungan impor daging sapi dengan mengembangkan sapi ras baru bernama Belgian Blue (BB). / Foto : dok.sinar tani

Sinar Tani
Pemerintah berupaya menghilangkan ketergan­tungan impor daging sapi dengan mengembangkan sapi ras baru bernama Belgian Blue (BB). Tak tanggung-tanggung ditargetkan 1.000 ekor kelahiran hingga tahun 2019 mendatang. Target ini sempat diungkap­kan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di akhir tahun 2017.

Untuk mencapai target tersebut Balai Embrio Ternak (BET), Cipelang kini tengah mengembangkan sapi ‘berdarah Eropa’ tersebut. Dengan berat sapi bisa men­capai 1 ton hanya dalam waktu 2 tahun, memang menjadi asa bagi bangsa Indonesia untuk keluar dari ketergantungan daging sapi impor.

Berat sapi BB jauh lebih tinggi dibandingkan sapi lokal yang rata-rata hanya 250-300 kg. Bahkan dengan penggunaan pakan yang maksimal, sapi lokal hanya mampu menambah bobot sekitar 0.6-0.7 kg.

“Sapi Belgian Blue dipilih karena punya karkas yang lebih tinggi sekitar 70-80% dibandingkan sapi lainnya,” kata Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Sugiono saat meninjau Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Sabtu (10/3).

TE dan IB Sementara itu Kepala BET Cipelang, Oloan Parlindungan mengungkapkan, pihaknya telah mengembangkan BB dengan metode transfer embrio (TE) dan Inseminasi Buatan (IB). Diawali dengan uji coba tahun 2015-2016 sebanyak 22 embrio dan semen beku 200 dosis dari BB asli Belgia.

Sampai Maret 2018, BET sudah berhasil melakukan TE sebanyak 372 embrio. Dari jumlah tersebut dilahirkan sebanyak 20 ekor sapi hasil IB dari persilangan dengan Simental, Limousin dan FH serta hasil transfer embrio sebanyak 3 ekor. “Saat ini, yang bunting dari hasil TE ada 10 ekor dan IB sebanyak 36 ekor,” katanya.

Menariknya, sapi keturunan BB yang dihasilkan dengan IB dari bangsa lain (Simental, FH maupun PO) dapat dilahirkan secara normal tanpa caesar dibandingkan BB murni yang harus dilahirkan dengan caesar.

Tabloid Sinar Tani dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI