Kunci sukses pengembangan pangan pokok lokal

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3744
26 Maret 2018

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3744

Nasi singkong / Foto : BKP

Sinar Tani
Ketiga kunci itu me­nurut Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keaman­an Pangan Tri Agustin yakni: 1) kolaborasi dengan instansi lain (Badan Litbang, BPPT, dll.), 2) komitmen dan dukungan yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah, dan 3) kecintaan, kreativitas dan kemauan masya­rakat untuk mengolah dan meng­konsumsi pangan lokal.

Ada beberapa kisah sukses pengembangan pangan pokok lokal yang dapat dilihat di beberapa daerah. Di antaranya adalah Mie Ayo Gunungkidul dan Rasteja Grobogan. Masyarakat Gunungkidul terbiasa mengkonsumsi singkong, ubi atau ketela. Biasanya singkong direbus, dikukus, digoreng, maupun dibakar dalam bentuk aslinya.

Juga diolah menjadi keripik, kerupuk, tape, gethuk, dan olahan makanan tradisional lainnya. Belakangan, kebiasaan makan singkong ini sudah mulai luntur, terutama pada anak-anak dan pemuda. Mereka bahkan kurang mengenal singkong sebagai bahan makanan dibanding nasi, mie instan, fast food, dan sejenisnya.

Mengikuti perkembangan zaman, cara penyajian singkong tidak lagi bisa dengan cara tradisional agar bisa tetap diterima masyarakat. UKM Kelompok Wanita Tani Putri 21, Desa Ngawu, Playen, Gunungkidul pun menciptakan Mie Instan berbahan baku singkong.

Mie Ayo namanya, mie ini diciptakan mengikuti tren makanan cepat saji dengan berbagai varian rasa dari bahan alami, di antaranya; original, bayam, sawi, brokoli, wortel, tomat, cabai merah, cabai hijau, ubi ungu, ubi kuning, sukun, pisang, dan mie mocaf. Pemasaran produk ini sudah sampai ke luar wilayah Gunungkidul, bahkan sampai ke Jakarta.

Tabloid Sinar Tani dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI