Ramuan pembasmi kutu kebul ramah lingkungan

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3756
25 Juni 2018

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3756

Sebagian petani hortikultura biasa membasmi hama terutama hama kutu kebul, menggunakan pestisida nabati. Dalam proses pencampurannya umumnya petani menambahkan deterjen yang sering digunakan ibu rumah tangga untuk mencuci pakaian sehari-hari. / Foto : dok. Sinar Tani

Sinar Tani
Sebagian petani hortikultura biasa membasmi hama terutama hama kutu kebul, menggunakan pestisida nabati. Dalam proses pencampurannya umumnya petani menambahkan deterjen yang sering digunakan ibu rumah tangga untuk mencuci pakaian sehari-hari.

Walaupun dapat digunakan sebagai campuran pestisida nabati, tetap harus diperhatikan jenis deterjennya karena kalau asal penggunaannya akan merusak lingkungan, khususnya menyebabkan pencemaran air. Detergen yang digunakan sebaiknya yang tidak mangandung fosfat atau kadar fosfatnya rendah. Mengapa?

Karena kalau menggunakan yang fosfatnya tinggi akan sulit terurai oleh air yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Salah satu deterjen yang tidak mengandung atau rendah kandungan fosfatnya adalah yang memiliki busa sangat sedikit (deterjen untuk penggunaan mesin cuci).

Untuk lebih amannya dapat menggantinya dengan sabun alkali rendah (sabun bayi) yang dikombinasikan dengan minyak kayu putih. Sabun bayi ini dapat berupa yang batangan atau yang cair yang telah dilarutkan ke dalam air. Ada cara yang lebih aman dan sangat ramah lingkungan untuk membasmi kutu kebul, yakni dengan air bekas cucian beras yang didiamkan 3 hari.

Setelah itu, dicampurkan dengan serai dan air. Ramuan ini dapat dikatakan ramah lingkungan karena tidak menggunakan zat kimia sama sekali. Jadi silahkan memilih, mau menggunakan deterjen non fosfat, sabun bayi atau air bekas cucian beras.

Tabloid Sinar Tani dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI