Minimalisasi dampak kekeringan

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3765
4 September 2018

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3765

Kekeringan ibarat tamu yang datang tiap tahun menemui petani.

Sinar Tani
Kekeringan ibarat tamu yang datang tiap tahun menemui petani. Ancaman kekeringan terhadap lahan sawah memang tidak bisa dihindari. Faktor utama yang menyebabkan kekeringan memang berkurangnya curah hujan.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terjadi penurunan signifikan curah hujan pada Juni-Agustus 2018 dibandingkan curah hujan tahun 2017 yang lebih fluktuatif. Penurunan terbesar pada Agustus 2018 sebesar 32.21 (mm), sedangkan pada Agustus 2017 masih sebesar 138.47 (mm).

Data Direktorat Perlindungan, Ditjen Tanaman Pangan, dibandingkan luas tanam pada Januari-Agustus 2018 yang mencapai 10.029.891 ha, maka dampak kekeringan masih kecil karena yang terkena hanya 1,34% (135.226 ha). Dari luasan itu, yang puso hanya 0,26 % atau 26.438 ha.

Selain terjunkan tim khusus langsung ke lapangan, Kementan juga sudah membentuk posko penanganan kekeringan. Berdasarkan data Ditjen Tanaman Pangan, areal persawahan yang terkena kekeringan hingga pertengahan Agustus 2018 seluas 127.101 ha, dan Puso 25.405 ha.

Kekeringan terbesar terjadi pada bulan Mei hingga Juli 2018, yang terkena seluas 87.827 ha dan sampai terjadi puso seluas 22.153 ha. Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi provinsi yang paling terdampak kekeringan.

Persentase puso di Pulau Jawa mencapai 1,42% dan di luar Jawa 0,19%, sehigga secara nasional lahan sawah terkena puso hanya 0,69%. Karena itu dampak puso masih sangat kecil dibanding dengan luas tanam yang ada, sehingga tidak akan mengganggu produksi nasional.

Tabloid Sinar Tani dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI