Culik tanam, cara cerdas menyiasati musim kemarau

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3767
18 September 2018

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3767

Di Gunung Kidul, petani berhasil meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dengan penerapan sistem persemaian culik di tengah musim kemarau tahun ini.

Sinar Tani
Di Gunung Kidul, petani berhasil meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dengan penerapan sistem persemaian culik di tengah musim kemarau tahun ini. Sementara petani di Lombok Tengah, NTB, petani menggunakan varietas unggul baru Inpari 40, penerapan metode tanam jajar legowo, aplikasi pupuk biosilika, serta sistem pengairan basah kering, sehingga masih bisa panen, meski kekeringan melanda wilayah mereka.

Cara yang petani gunakan tersebut adalah teknologi yang diperkenalkan Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian. Sistem culik tanam merupakan salah satu upaya optimalisasi pemanfaatan hujan melalui manajemen waktu tanam dengan mempercepat waktu tanam.

Parjono, seorang Mantri Tani Kecamatan Girisubodo, Kabupaten Gunung Kidul dalam pertemuan dengan Tim Upsus dari Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) mengatakan, sistem ini bisa membuat petani lebih produktif saat musim kemarau.

“Dengan sistem ini, petani yang biasanya menanam dua kali dalam setahun, sekarang dapat menanam tiga kali, yaitu padipadi- jagung atau tembakau,” ungkapnya. Apalagi lanjut Parjono karakteristik lahan di wilayahnya tidak jauh berbeda dengan Desa Wareng, Kecamatan Wonosari yang lebih dulu berhasil menerapkan sistem culik.

Dengan potensi air tanah yang cukup besar, ditambah banyaknya sumber air di dalam gua dan pembangunan kantung air di sekitar sawah, seperti sumur gali di lahan garapan petani, Parjono yakin dengan mengadopsi pola culik tanam, petani dapat berproduksi meski musim kemarau.

Tabloid Sinar Tani dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI