Kapan berbohong, 'diperbolehkan?'

Majalah Womens Obsession - Edisi 03/2017
12 April 2018

Majalah Womens Obsession - Edisi 03/2017

Siapakah yang tidak pernah bohong kepada anak? Mungkin hampir semua ibu pernah melakukannya / Foto : Istimewa

Womens Obsession
Siapakah yang tidak pernah bohong kepada anak? Mungkin hampir semua ibu pernah melakukannya. Bagi mereka yang mampu tidak pernah berbohong sepanjang hidup anaknya, pasti banyak perempuan yang akan salut dan ‘angkat topi’.

Apakah saya pernah berbohong kepada anak saya? Tentu, pernah. Ketika anak pertama saya berumur tiga tahun, dia punya film kartun kesayangan yang selalu ditunggu tiap Minggu pagi. Tapi entah kenapa, stasiun TV yang memutar film tersebut kerap kali terlambat memutarnya atau batal menayangkan. Padahal, anak saya sudah menunggu sesuai jadwal yang diiklankan.

Alhasil, dia menangis sambil mengomel. Lucu di awalnya, tetapi lama-kelamaan iba dan menimbulkan keributan. Yang bisa menenangkannya, ketika saya berpura-pura menelepon stasiun TV dan menegur, karena terlambat atau batal menayangkan film kesayangan anak saya. Setelah ‘telepon sakti’, anak saya pun kembali ceria dan bermain lagi.

Sebagai orang tua, tentu kita berkeinginan untuk menanamkan hal yang baik-baik kepada buah hati. Namun adakalanya, kita terjepit pada situasi yang seolah memaksa untuk berbohong. Alasan yang acapkali dipakai sebagai alasan berbohong antara lain:

1. Supaya anak lebih mudah mengerti.
2. Takut melukai perasaan anak atau agar anak tidak menjadi sedih.
3. Ada hal-hal yang terlalu rumit untuk dijelaskan.
4. Agar lebih mudah, cepat, dan praktis.
5. Tidak tahu jawabannya jadi berbohong saja.

Apa dampaknya terhadap anak? Dalam jangka waktu pendek, memang tidak terlalu kentara. Anak tetap ceria dan bahagia, meski ada kebohongankebohongan kecil di sekitarnya. Namun, yang perlu diwaspadai risiko-risiko yang mungkin terjadi.

Majalah Womens Obsession dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI