Mengejar organik yang menguntungkan dan berkelanjutan

Majalah Agrina - Edisi 303
11 September 2019

Majalah Agrina - Edisi 303

BUNGARAN SARAGIH dan GUNAWAN SUTIO (no.4 dan 5 dari kiri), bersama pengurus Asosiasi Bio Agro-input Indonesia selepas pembukaan seminar.

Agrina
Untuk memenuhi kebutuhan pangan 319 juta jiwa pada 2045, produksi pangan kita harus dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu caranya dengan memanfaatkan teknologi yang menghasilkan sarana produksi organik dan hayati.

“Bicara organik mungkin orang berpikir low production, low input, dan low business. Sedangkan kalau bicara berkelan jutan, maka bicara high production, berkelan jutan, profit,” ujar Gunawan Sutio, Ketua Umum Asosiasi Bio Agro-input Indone sia (ABI) dalam pembukaan seminar dan mini expo “Pengendalian Pirit, Wereng Batang Cokelat, dan Layu Fusarium dengan Teknologi Organik dan Hayati” di Menara 165, Jakarta, 28 Agustus 2019.

Gunawan mencontohkan India yang me ngembangkan biotek meliputi biostimulan, biopestisida, juga biofertilizer un tuk mendapatkan produk pertanian berkelanjutan. Sementara China, 80% kelas menengah atasnya mencari produk yang berkualitas dan sadar kesehatan.

“Indonesia memiliki peluang untuk memasuk kan produk tersebut dilihat dari ekosistem dan posisi penghasil pangan, perke bunan, perikanan, dan pertanian yang bebas residu dan lebih ramah ling kungan,” tandas Direktur Pemasaran PT Prima Agro Tech tersebut.

Karena itu, untuk mensosialisasikan pro duk teknologi organik dan hayati buatan dalam negeri juga mendapatkan du kungan pemerintah serta parlemen, ABI menggandeng AGRINA menggelar seminar dan mini expo. Seminar menghadirkan pakar dari IPB, anggota Komisi IV DPR RI, jajaran pemerintah terkait, dan penerap teknoogi organik dan hayati di lapangan.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI