Jangan abaikan harga gabah melemah!

Majalah Agrina - Edisi 273
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 273

“Kasihan petani yang telah bersusah payah menanam kalau harga yang diterima Rp2.800/kg.”

Agrina
Panen raya padi yang berbarengan dengan musim penghujan menyebabkan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani anjlok lantaran kadar air gabahnya tinggi. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menghendaki Badan Urusan Logistik (Bulog) menyerap gabah petani dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp3.700/kg pada kadar air 25%-30%. Akankah terlaksana?

Pertengahan Februari lalu harga GKP di beberapa wilayah di Provinsi Jateng, seperti Purworejo berkisar Rp3.100-Rp3.700/kg, Demak Rp2.700- Rp3.200/kg, dan Pati Rp2.500/kg-Rp3.000/kg sedangkan Provinsi Jatim, seperti Bojonegoro sekitar Rp2.800-Rp3.400/kg, Tuban Rp2.800-Rp3.700/kg, dan Jombang Rp3.300-Rp3.400/kg.

Menurut Wasik, Ketua Kelompok Tani Maju Makmur Desa Karang Sari, Kec. Purwodadi, Purworejo, harga GKP hingga 6 Maret masih bertahan di posisi Rp3.300/kg. sedangkan harga GKG berkisar Rp4.100- 4.400/kg. “Harganya belum naik. Ini saja sudah hampir habis panennya, kebanyakan sudah mulai tanam lagi,” ungkapnya kepada AGRINA, Senin (6/3).

Winarno Thohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menambahkan, harga gabah di Kab. Lebak, Banten jatuh hingga Rp2.300/kg. “Februari akhir ini baru mulai panen, harga sudah berguguran karena beberapa faktor. Satu gudang Bulog penuh, kedua iklim,” ungkapnya.

Kondisi agak berbeda terjadi di Solok, Sumbar. Amrizal menuturkan, harga GKP di Solok mencapai Rp5.800-Rp6.300/kg. “Padi paling rendah di Sumbar Rp5.800/kg di petani itu yang rasanya kurang enak. Kalau varietas Caredek Rp6.300/kg. Harga rata-rata Rp6.000/kg varietas PB42, itu yang banyak orang pakai,” katanya, Senin (27/2).

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI