Sambut kebaikan Ramadhan

Majalah Mulia - Edisi 04/2019
4 April 2019

Majalah Mulia - Edisi 04/2019

Yang dimaksud siap sambut Ramadhan bukan pada dimensi ragawi perihal menu buka dan sahur, melainkan persiapan ruhani. / Foto : Imam Nawawi/Mulia

Mulia
Alangkah bahagianya insan beriman kala dirinya akan kedatangan tamu agung yang dirindukan, yakni Ramadhan. Sungguh kebahagiaan tiada tara. Akan tetapi, apakah kebahagiaan kita telah sampai pada derajat terbaik? Menjawab ini kita mesti belajar dari para pendahulu umat ini di dalam memperlakukan Ramadhan.

Seperti apa, mari kita simak sajian Sambut Kebaikan Ramadhan pada edisi ini. Persiapan Mu’alla bin Fadhl rahimahullah menceritakan bahwa para generasi terdahulu memiliki kebiasaan unik terkait persiapan Ramadhan.

Mereka –para salafus sholehenam bulan sebelum Ramadhan sudah mempersiapkan diri dengan baik dan meminta kepada Allah agar diberi kesempatan kembali merasakan berkah Ramadhan.

Dalam buku berjudul “Nidâ al- Rayyân fii Fiqhi al-Shaumi wa Fadhli Ramadhân” (1417: 163-164) Sayyid Husain Affani mencatat dengan sangat baik kondisi mereka. Alkisah, ada suatu kaum dari kalangan salaf yang menjual budak wanitanya. Ketika Ramadhan sudah dekat, sang budak melihat mereka (tuan baru dan keluarga) bersiapsiap menyediakan makanan dan yang lainnya.

Lalu budak itu bertanya perihal itu. Mereka menjawab, “Kami siap-siap untuk berpuasa Ramadhan.” Mendengar jawaban demikian, lantas sang budak berkomentar, “Kalian tidak berpuasa melainkan Ramadhan! Sesungguhnya aku dulu berada pada suatu kaum yang semua waktunya adalah Ramadhan. Kembalikan aku pada tuanku yang dulu!”

Kisah di atas secara gamblang memberikan penjelasan bahwa bagi seorang Muslim, setiap waktu adalah Ramahdan. Dan, begitu Ramadhan kian dekat kebahagiaannya meningkat, spirit ibadahnya dipompa, dan amal kebaikannya diperbanyak, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Majalah Mulia dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Edisi lainnya    Baca Gratis
DARI EDISI INI