Harus total agar bisa panen maksimal

Majalah Agrina - Edisi 278
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 278

Budidaya lele bioflok Mina Srikandi mampu menghasilkan FCR 0,8. / Foto : DOK. Antien Delmawanti Hamzah

Agrina
Sistem budidaya lele bioflok sudah menjadi program nasional. Tapi ternyata masih banyak pelaku usaha teknologi super ini yang belum sukses. Cita-cita meningkatkan gizi masyarakat melalui asupan protein yang murah berusaha diwujudkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui nasionalisasi program budidaya lele sistem bioflok.

Sistem yang menerapkan teknologi tingkat tinggi ini mengiming-imingi budidaya lele irit pakan di lahan terbatas dengan padat tebar ultra-intensif. Namun faktanya, ungkap Antien Delmawanti Hamzah, pemilik Del Catfish Farm, hampir 80% pemain bioflok gagal.

“Sebagai salah satu pengembang bioflok, saya bisa berkata kebanyakan gagal. Karena bioflok tidak sesederhana itu,” terangnya saat ditemui AGRINA di Sekolah Tinggi Perikanan Pasarminggu, Jakarta (4/8). Apa yang menjadi kendala?

Program Lele Bioflok. Sistem bioflok, ujar Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), merupakan suatu kegiatan usaha budidaya ikan lele menggunakan metode pemanfaatan gumpalan-gumpalan kecil (flok) yang tersusun dari sekumpulan mikroorganisme hidup yang melayang-layang di air.

Sistem ini menjadi program unggulan yang ditujukan untuk ketahanan pangan. Demi mencapai target besar tersebut, KKP telah menyiapkan 103 paket penunjang sistem bioflok dengan 72 paket di pusat dan 31 paket di Unit Pelayanan Teknis (UPT). Paket itu berupa 12 kolam berdiameter 3 m, benih 42 ribu ekor ukuran 8-9 cm, pakan sebanyak 3,2 - 4 ton, obat, probiotik, dan sarana prasarana operasional.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI