Kendalikan OPT agar panen padi oke

Majalah Agrina - Edisi 275
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 275

Penggerek batang menjadi musuh utama padi.

Agrina
Luas serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) di lahan sawah pada musim tanam (MT) 2016/2017 tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan produksi padi nasional. Sebab, Ruswandi, Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) menjelaskan, kejadian serangan OPT pada MT Oktober 2016 - Maret 2017 terbilang kecil dibandingkan luas tanam padi nasional.

Serangan OPT sebesar 192.533 ha sedangkan realiasasi tanam padi nasional MT 2016/2017 mencapai 9,766 juta ha. “Kejadian keseluruhan OPT itu hanya 1,97%. Secara keseluruhan tidak berdampak nyata terhadap penurunan produksi,” paparnya. Meski begitu, petani harus tetap mewaspadai penyebab utama kegagalan panen pangan Indonesia. Karena penyebaran OPT akan merajalela jika dibiarkan.

Kejadian MT 2016/2017 Ruswandi mengungkapkan, prakiraan serangan OPT pada MT 2016/2017 terbesar berturut-turut tikus mencapai 30.849 ha, kresek atau hawar daun bakteri (bacterial leaf blight, BLB) 26.649 ha, penggerek batang padi (PBP) 26.164 ha, wereng batang cokelat (WBC) 16.984 ha, blas 19.224 ha, dan tungro 674 ha. BBPOPT memprediksi total luas lahan yang terserang OPT mencapai 120.638 ha.

Hasil evaluasi menunjukkan, kejadian serangan 6 OPT utama padi di MT 2016/2017 mengalami kenaikan dari angka perkiraan. Padi yang terserang penggerek mencapai 48.179 ha, diikuti tikus sebanyak 46.883 ha. Serangan WBC menjangkau 32.838 ha lahan padi, disusul penyakit kresek dan blas berturut-turut sebesar 31.331 ha dan 31.024 ha. Sedangkan, padi yang terkena tungro sebanyak 2.280 ha.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI