Bisnis udang tetap cemerlang

Majalah Agrina - Edisi 283
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 283

Early Mortality Syndrome (EMS) akan merebak di Indonesia tapi bisa dihindari sejak awal. / Foto : Windi Listianingsih

Agrina
Kondisi lokal dan global sangat berpengaruh terhadap industri udang nasional. Produksi udang 2016-2017, kata Yuri Sutanto, disumbang peningkatan produksi di area-area baru, seperti Aceh, Lampung Barat hingga Bengkulu. Bagaimana pengaruh kondisi lokal dan global pada industri udang tahun ini?

Iwan Sutanto, Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) menjelaskan, tutupnya kegiatan budidaya yang dilakukan perusahaan udang terintegrasi di Lampung pada awal 2017 tak pelak berdampak signifikan terhadap produksi udang nasional. Sebab, perusahaan ini menyumbang sebanyak 70 ribu ton produksi “si bongkok” dalam setahun.

Namun, ungkap Iwan, keadaan itu malah membuka peluang bagi pembudidaya udang mandiri untuk berkembang. Pengoperasian tambak udang mangkrak ataupun pembukaan lahan tambak baru mulai berkembang. Para pelaku usaha lama mulai ekspansi lahan, sedangkan pembudidaya baru dengan skala rumah tangga sampai skala intensif terus bermunculan.

Pertumbuhan budidaya si bongkok ini pun sanggup menambal produksi udang yang sempat hilang, bahkan diprediksi meningkat. “Tahun 2017 produksi udang petambak angggota SCI bisa mencapai 400 ribu ton atau bisa berkontribusi sekitar 60% produksi udang nasional,” ujar Iwan. Angka ini meningkat sekitar 15% dari produksi tahun sebelumnya.

Selain peningkatan produksi, harga udang ikut terkerek lantaran berhenti beroperasinya produsen udang terintegrasi itu. Harga udang vaname ukuran 50 ekor/kg misalnya, naik dari Rp75 ribu/kg menjadi Rp85 ribu/kg. Kenaikan harga juga didorong permintaan udang dunia yang terus meningkat sementara negara produsen udang lainnya masih terkendala produksi karena penyakit.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI