Berjibaku melawan ulat Grayak baru

Majalah Agrina - Edisi 301
11 Juli 2019

Majalah Agrina - Edisi 301

Eko Susanto dan Suhayono (Kiri-kanan), petani stop tanam jagung.

Agrina
Petani di Kec. Tiga Binanga, Kab. Karo, Sumut merasakan serangan FAW sejak Februari lalu saat jagung nya berumur 21 hari setelah tanam (HST). Mulanya serangan kecil tapi makin lama makin banyak. Awal Maret FAW menyebar sekecamatan.

“Memang sekarang sudah panen sebagian tapi hasilnya menurun karena saat berbunga masih ada ulat, nggak habis-habis,” ulasnya. Pria yang menanam 10 ha ini kehilangan hasil sebesar 30% akibat FAW. Biasanya Harold bisa panen 10 ton/ha. Kendati sudah menggunakan insektisida sebanyak 3 kali,

“Nggak bisa membunuh total tapi mengurangi serangan saja,” ucapnya. April lalu hama ini juga menyebar ke Simalungun, Sumut. Daun jagung yang terjangkit FAW memutih dan berlubang-lubang. Hama menyukai daun muda pada fase vegetatif. Semakin besar, ulat akan memutus pucuk. FAW sembunyi di dalam gulungan daun dan aktif menyerang pada malam hari.

“Lain dari ulat grayak yang menyerang cabai (Spodoptera litura, Red.). Yang ini kecepatan terbang indukannya kayak belalang, serangannya juga cepat bisa berhektar-hektar kena serangan dalam satu hari. Dalam satu batang jagung bisa kita ketemukan sampai 4 ekor ulat,” tuturnya kepada AGRINA.

Ia menduga FAW masih ada padamusim tanam Juli-Agustus karena pertanaman bulan Mei saja masih terserang. Menurut Steven Theja, petani jagung di Medan Helvetia, Medan, Sumut, tanamannya terserang FAW Januari akhir atau Februari awal. “Ciri serangan di pucuk daunnya 1-2 yang bolong, tapi masih bisa diatasi dengan insektisida karena serangannya nggak begitu intens,” ujarnya. Musim kemarau Januari-April, perkembangan FAW sangat cepat.

Yang parah, periode tanam April karena jagung umur 10 HST sudah diserang walau sebelumnya di semprot insektisida untuk pencegahan. Steven menilai serangan FAW semakin parah. “Penanaman bulan Juni, umur 8 HST sudah mulai diserang. Dari bulan kebulan, masa penyerangan dan perkembang biakannya makin cepat,” katanya.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI