Badai pasti belalu, Garuda!

Majalah airmagz - Edisi 53
8 Juli 2019

Majalah airmagz - Edisi 53

Pesawat Garuda Indonesia

airmagz
Pengalaman Garuda semenjak berdiri 70 tahun yang silam telah melewati naik/turun dengan jalan berliku,namun kenyataannya selalu dapat keluar dari persoalan yang membelitnya.

Kondisi yang paling parah adalah bailed out Pemerintah di awal tahun 90-an kemudian kembali di tahun 1998 dimana pemerintah memberikan Mandatory Convertible Bonds sebesar US$100 juta melalui bank Mandiri sebagai jaminan sewa pesawat pada European Credit Agency (ECA), sehingga berhasil keluar dari kebangkrutan.

Biasanya permasalahan Garuda adalah masalah keuangan dimana telah terjadi akumulasi kerugian secara massif sehingga mengganggu cash flow perusahaan, akibatnya terancam bangkrut. Hal demikian disebabkan biaya lebih besar dari pendapatan dimana berkaitan dengan fleet planning yang tidak tepat sehingga telah membebani perusahaan dan biaya sewa pesawat serta biaya avtur yang relatif tinggi.

Belum lagi apabila terdapat prediksi pasar penumpang yang menurun berdasarkan analisa terkini sehingga harus negosiasi ulang dengan pabrikan pesawat untuk mereskedule kedatangan pesawat sehingga mengakibatkan penalti berupa additional charge. Hal ini berbeda dengan Major Airlines lain yang mempunyai asset management sendiri sehingga manajemen penerbangan hanya fokus pada strategi dan program perusahaan agar mendapat keuntungan pada core business.

Lebih lanjut pendapatan cenderung terus tertekan apalagi dengan perubahan peta kompetisi di pasar domestik dan internasional sehingga diperlukan strategi tertentu dan program pemasaran yang jitu agar menghasilkan positive cash flow dan keuntungan operasi yang memadai. Permasalahan yang dihadapi saat ini yaitu kesalahan Laporan Keuangan 2018 dan indikasi dugaan kartel serta rangkap jabatan direksi Garuda sebagai Komisaris Sriwijaya Air.

Majalah airmagz dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI