Cukup sebelas menit untuk memaafkan

Majalah Intisari - Edisi 646
14 Juli 2016

Majalah Intisari - Edisi 646

Mulut mudah mengucapkan maaf, namun hati sulit melakukannya. Butuh keikhlasan dan kebijaksanaan agar bisa memaafkan dengan tulus. Salah satu cara, dengan bermeditasi. / Foto : Mohamad Rizky

Intisari
Orang yang lemah adalah orang yang tidak bisa memaafk an. Memaafk an adalah milik orang kuat.” Begitulah kalimat yang pernah diucapkan oleh Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual dan politikus India. Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa sulitnya memberi maaf. Soal maaf, penulis asal Amerika Serikat, H. Jackson Brown, Jr., pernah mengatakan, tiga sumber kekuatan manusia adalah cinta, doa, dan memaafk an. Selaras dengan Gandhi, Brown menegaskan, memaafk an hanya dapat dilakukan oleh mereka yang kuat. Maaf memang gampang diucapkan, tapi enggan dilakukan bahkan sangat sulit dilaksanakan. Itulah yang pernah dialami Farah (28) yang pernah mencoba memberi maaf ayahnya.

Hubungan keduanya putus setelah sang ayah menikah lagi. Ketika itu meski ayahnya sudah meminta maaf, Farah menolaknya. Baru pada 2013 kebencian Farah memudar ketika tahu ayahnya sakit keras. Awalnya, ia bersikeras tidak akan menengok. Namun, ia sadar, tak ada untungnya menyimpan kebencian. Ditambah, sebagai anak perempuan, sosok ayah dibutuhkan untuk menjadi wali nikah. “Sesalah dan buruk apa pun, ia tetap ayah saya. Saya juga tidak bisa menyembunyikan rasa cinta saya padanya,” ucap Farah yang akhirnya mengunjungi ayahnya.

Farah mengaku menyesal telah menjadi orang lemah karena tidak mau memaafkan dan membawa kebencian bertahun-tahun. Kini ia lega, seperti melepas beban berat di hatinya. Ayahnya juga merasa tersiksa karena dibenci dan menahan rindu tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya. Refleksi diri Memaafkan memang memberi banyak dampak positif, baik bagi kesehatan fisik maupun mental. Mulai dari membuat tubuh lebih sehat, membebaskan diri dari kemarahan dan kebencian, sehingga membawa kedamaian dan pikiran lebih rileks, mempertemukan dua hati yang pernah terpisah, memperbaiki hubungan yang berantakan, hingga mengundang kebahagiaan untuk diri sendiri. Sebaliknya, tidak memaafkan justru hanya akan merugikan diri sendiri.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI